Rancangan Untuk Semua Orang (Universal Design) Pada Bangunan Tinggi : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Uncategorized » Rancangan Untuk Semua Orang (Universal Design) Pada Bangunan Tinggi

Rancangan Untuk Semua Orang (Universal Design) Pada Bangunan Tinggi

(830 Views) Oktober 11, 2019 10:10 am | Published by | No comment



Apa yang menyebabkan isu konsep universal design berRancangan Untuk Semua Orang (Universal Design) Pada Bangunan Tinggi kembang? Karena rancangan yang ada tidak mengakomodasi semua orang untuk mengakses ruang. Sebagian orang kesulitan dan terhalang mengakses ruang karena rancangan yang ada, misal tangga, pengguna kursi roda tidak dapat mengakes tangga, mereka hanya dapat mengakses ramp dan lift untuk berpindah dari satu lantai ke lantai yang lain.

Secara konsep arti rancangan untuk semua orang (universal design) adalah rancangan arsitektur yang dapat digunakan oleh semua orang, tanpa kecuali, antara lain oleh penyandang disabilitas, lanjut usia (lansia), anak-anak, ibu yang sedang hamil, orang tua dengan kereta bayi, orang dengan perawakan yang lebih besar/tinggi/kecil (stunting) dari ukuran normal, dan penderita sakit/cedera. Mereka semua harus dapat mengakses ruang secara mandiri, aman, dan mudah.

Akan tetapi bagaimana pengejawantahan universal design dalam rancangan? Bukankan setiap orang yang mempunyai kebutuhan khusus mempunyai cara mengakses ruang yang berbeda sesuai dengan kemampuannya, misal wastafel standar tidak dapat digunakan oleh orang yang berperawakan kecil (stunting), terlalu tinggi untuk mereka. Sedangkan bagi orang yang berperawakan terlalu tinggi, harus menunduk jika harus mencuci tangan di wastafel berukuran standar.



Menurut saya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perancangan untuk semua orang, walaupun pada akhirnya, setiap rancangan mempunyai tantangan dan kreatifitas masing-masing.

Rancangan lift yang dapat digunakan oleh semua orang memiliki kriteria ; ada huruf Braille (penunjuk lantai dan tanda pintu terbuka/tertutup), ada suara (audio) yang memberitahu saat lift terbuka, tertutup, naik, turun, dan lift berada pada lantai ke berapa. Dinding lift menggunakan kaca (atau sebagian dinding menggunakan kaca, sehingga ada akses visual ke luar lift), ada lampu peringatan tanda bahaya, ada video call di dalam lift.,dan tombol lift mudah dijangkau oleh semua orang.

Ramp penganti tangga. Di dalam gedung, perbedaan level antara satu lantai ke lantai berikutnya, lebih baik mengunakan ramp dari pada tangga.

Jalur sirkulasi di dalam bangunan, harus jelas dengan mengunakan tulisan atau symbol di setiap bagian ruangan, sehingga mudah/jelas diakses oleh tuna rungu. Sedangkan bagi tuna netra yang mengakses ruang dengan cara meraba dinding. dinding dapat dirancang bertekstur dan tidak ada benda yang menempel atau dipajang di depan dinding, sehingga menghalangi jalur jalan. Di dalam bangunan juga dapat dipasang guiding block. Ruang harus cukup luas untuk bermanuever dan transfer bagi tuna daksa.

Tuna netra dapat mengakses ruang dengan cara menjalankan aplikasi “be my eyes”, untuk itu perlu signal internet yang bagus di dalam bangunan. Hindari merancangan undakan, tapi gunakan ramp jika terdapat perbedaan ketinggian lantai.

Luas toilet 2000 mm x 1600 mm untuk memudahkan tuna daksa transfer dan bermanuever. Terdapat pegangan pada bagian yang diperlukan. Terdapat tombol untuk meminta tolong yang mudah dijangkau.Lampu tanda peringatan. Panduan berupa denah toilet (timbul) yang dapat diraba tuna netra di pintu toilet.

Untuk toilet, ada beberapa pertimbangan, karena ukuran tinggi toilet dan tempat cuci tangan standar akan kesulitan dijangkau oleh penyandang stunting. Belum tentu terdapat ruang khusus berukuran 2000 mm x 1600 mm, yang khusus digunakan toilet untuk tuna daksa, untuk itu perlu kreatifitas perancang (arsitek) untuk merancang toilet agar bisa digunakan oleh semua orang dengan ruang yang terbatas.

Salah satu yang sering terlupa, area mandi-shower- (misal hotel atau tempat olah raga), tidak tersedia bangku/tempat duduk di saat mandi. Padahal tuna daksa dan orang lanjut usia perlu duduk, karena mereka tidak dapat berdiri melakukan kegiatan.

Safitri Ahmad
Writer, landscape architect, urban planner



Categorised in:

No comment for Rancangan Untuk Semua Orang (Universal Design) Pada Bangunan Tinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>