Formula E di Tengaran (Landmark) Kota : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Uncategorized » Formula E di Tengaran (Landmark) Kota

Formula E di Tengaran (Landmark) Kota

(585 Views) Maret 7, 2020 2:09 am | Published by | No comment



Coba ketik Paris (mengacu kepada Kota Paris, ibukota Perancis) di mesin pencari Google pada kolom gambar. Akan muncul gambar dengan dominasi menara Eiffel. Setelah itu, ketik Roma, gambar Colosseum akan muncul di layar komputer. Kuala lumpur, menghadirkan gambar Menara Kembar Petronas. Brunei Darussalam, terlihat Mesjid Sultan Omar Ali Saifuddin yang terletak dekat sungai. Untuk Singapura, ada dua gambar yang mendominasi, Patung Merlion dan Marina Bay Sands bangunan megah yang dibuka tahun 2011. Ada perubahan kesan (image) tengaran (landmark) kota Singapura dari patung Merlion ke Marina Bay Sands. Kedua landmark kota itu sama-sama kuat.

Berikutnya ketik Jakarta, apakah yang muncul di halaman pertama bagian atas Monas? Tidak, yang muncul bangunan pencakar langit dan Menara Wisma BNI 46 yang bagian atasnya seperti ujung pena jika dilihat dari samping. Fasad bangunan didominasi warna biru. Apakah tidak muncul gambar Monas? Ada, tapi secara keseluruhan jumlahnya bersaing dengan Patung Selamat Datang di Bundaran HI dan Wisma BNI 46.

Dalam kolom gambar di mesin pencarian Google itu, Monas kalah bersaing dengan Jam Gadang di kota Bukittinggi, atau Palembang dengan Jembatan Ampera dan Sungai Musi.

Kata “Jakarta” ternyata tidak identik dengan “Monas”, sebagai tengaran kota Jakarta. Jika mengacu pada hasil mesin pencarian Google.

Ketika seseorang mengunjungi sebuah kota, maka yang paling mudah dikenali atau memberi kesan di dalam dirinya menurut Kevin Lynch dalam bukunya The Image of The City, ada 5 elemen yaitu ; jalur (jalan/path), simpangan (nodes), kawasan (district), tengaran (landmark), dan tepian (edge).

Tengaran, bangunan yang menjadi ciri khas suatu wilayah. Jika itu kota, maka tengaran memberikan citra kota, sehingga mudah dikenal dan diingat, serta menjadi titik orientasi bagi orang dan kendaraan untuk bersirkulasi.

Dulu, saat bangunan tinggi belum banyak, Monas merupakan tengaran Jakarta. Akan tetapi, saat ini, muncul bangunan baru yang menjulang tinggi melebihi ketinggian Monas, misalnya ; Wisma BNI 46 dan menara Astra. Walaupun tengaran tidak harus bangunan yang tinggi, tapi sesuatu yang mempunyai karakteristik yang kuat.

Dulu, sebagian orang yang datang ke Jakarta masih menyempatkan diri untuk mengunjungi Monas, walau hanya melihat dari jauh. Sekarang, ada daya tarik yang lain selain Monas. Monas bukan lagi tujuan (tujuan wisata) jika ke Jakarta. Ini yang menyebabkan Monas tidak “populer”pada mesin pencarian Google pada saat diketik kata Jakarta.

Pertanyaannya pemerintah DKI Jakarta memilih lokasi Monas sebagai ajang Formula E untuk mengenalkan kota Jakarta atau Monas, sebagai tengaran kota Jakarta?

Jika ingin mengenalkan “Kota Jakarta” bagi warga dunia. Ajang balap mobil listrik Fomula E (kegiatan/peristiwa) itu saja sudah cukup, karena lomba balap ini sudah sangat terkenal. Jadi dimanapun di belahan Kota Jakarta ajang balap ini diselenggarakan, nama “Jakarta” tetap akan bergaung. Media membutuhkan nama lokasi untuk laporannya.

Jika ingin mengenalkan Monas sebagai tengaran kota, apakah perlu mengadakan lomba balap mobil listrik Formula E di Monas, dengan menebang pohon dan pengaspalan untuk sirkuit? Maksudnya, apakah tidak ada event lain tanpa mengubah konsep disain Monas, untuk mengenalkan Monas sebagai tengaran kota?

Monas masih merupakan tengaran kawasan, tapi apakah Monas masih menjadi tengaran “kota Jakarta”? Bisa ia, bisa tidak. Jawaban ia, yang menyebabkan pemerintah DKI Jakarta, masa Anies Baswedan, mengadakan ajang balap Formula E dengan harapan, semua media meliput dan gambar Monas terbawa-bawa. Lalu, setelah acara grandprix ini selesai (menurut rencana selama 5 tahun berturut-turut), apakah Monas sebagai tengaran (yang mewakili kota) akan terus diingat orang dan Monas memberikan kesan mendalam jika disebut kata “Jakarta”?

Sebagai sebuah tengaran yang terletak di tengah taman besar, Monas sudah berkali-kali membuktikan diri bahwa kawasan ini mampu menampung jumlah pengunjung dalam jumlah besar, tanpa mengubah disain/konsep taman. Dan alangkah baiknya, event yang dilaksanakan di Monas, merupakan event skala international, menampung pengunjung dalam jumlah banyak dan tidak mengubah Monas sebagai Ruang Terbuka Hijau dan tetap menjaga kedudukannya sebagai cagar budaya. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana pemerintah DKI Jakarta merancang infrastruktur, sehingga Monas menjadi tujuan (tujuan wisata) setiap waktu, tidak hanya pada event tertentu saja.



No comment for Formula E di Tengaran (Landmark) Kota

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>