Napak Tilas Jalur Aksi 212 (2016) Pada Reuni 212 (2018)
(419 Views) Oktober 11, 2019 10:11 am | Published by Safitri ahmad | No comment
Saya memutuskan untuk mengikuti reuni akbar 212 (2018) melalui jalur yang sama dengan jalur yang saya tempuh pada aksi 212 (2016). Saya ingin mengetahui perbedaan situasi (jumlah orang dan kondisi) di jalur tersebut. Tahun 2016, aksi terjadi pada hari Jumat, sedangkan tahun 2018 reuni 212 pada hari Minggu (hari Libur).
Jalur yang saya lalui adalah ; dari rumah menuju mesjid Al Makmur Tanah Abang menggunakan angkutan kota.
Tahun 2016, banyak peserta aksi yang berjalan kaki menuju Monas melewati pasar Tanah Abang dalam kelompok-kelompok kecil. Mereka menggunakan baju putih dalam rombongan kecil (keluarga) atau rombongan wanita/pria dewasa.
Tahun 2018, saya tidak menemukan peserta aksi yang berjalan kaki menuju arah Pasar Tanah Abang.
Saya berhenti di mesjid makmur, Tanah Abang.
Tahun 2016 : sebagian besar peserta aksi berkumpul di depan mesjid, setelah selesai Salat Dhuha, mereka bersama-sama ke arah Monas. Sebagian peserta aksi dari luar kota bermalam/beristirahat di Mesjid Al Makmur. Jumlah mereka kira-kira 100-150 orang. Saya dan seorang teman menunggu komando, untuk berjalan bersama-sama, walau kami tidak saling kenal, tapi ada perasaan untuk menunggu satu dengan yang lain. Ketika salah seorang meminta untuk mulai bergerak, semua berjalan bersama-sama.
Tahun 2018 : Tidak ada kumpulan orang di depan mesjid Al Makmur, hanya bus dari luar kota dan mobil yang di parkir di depan mesjid. Saya melihat 2-3 bus yang baru datang dari luar kota, yang mengangkut peserta aksi.
Kemudian saya menuju Jl. K.H Wahid Hasyim
Tahun 2016 : Jalur ini dilalui oleh rombongan yang besar (lebih dari 50-100 orang), beberapa rombongan kecil yang berpapasan di jalan akan segera bergabung dengan rombongan ini. Karena Hari Jumat, hari kerja, masih banyak kendaraan yang melintas di Jl. K.H. Wahid Hasyim.
Tahun 2018 : Pada pukul 7 : 15, jalur ini tidak banyak peserta aksi (kurang dari 100 orang) pada saat saya melalui jalur ini. Mereka terdiri dari kelompok kecil ; berdua, berlima, dan tidak dalam rombongan besar. Tapi pada saat pulang melalui jalur ini, pukul 9: 00 WIB tampak rombongan dari Ciamis yang baru datang, 100-200 orang, berjalan kaki menuju Monas. Waktu berangkat dan pulang peserta aksi yang melalui jalur itu tidak sama. Ada yang pulang, ada yang datang.
Sesampai di Jl. Thamrin
Tahun 2016 : Saya menemukan banyak sekali petugas yang mengamankan aksi. Mereka berbaju putih-putih dari FPI. Rombongan dalam jumlah besar, atau kelompok kecil (keluarga) atau rombongan wanita/pria dewasa berjalan menuju Monas. Mudah sekali diidentifikasi, rombongan besar dan setiap rombongan ada yang menjaga, berarti peserta dari luar kota. Sedangkan, rombongan kecil, keluarga, perorangan, atau hanya 2-5 orang bisa dipastikan rombongan dari Jakarta dan sekitarnya. Suara takbir bersahut-sahutan saat saya sampai di Jl. Thamrin. Jalur busway tertutup. Sudah tidak ada lagi kendaraan dari arah Jl. Sudirman –Thamrin atau sebaliknya. Kendaraan yang melintasi Jl. K.H. Wahid Hasyim memotong Jl. M.H. Thamrin masih ada.
Pekerja kantor di Jl. M.H. Thamrin menonton peserta aksi di depan kantor mereka, sebagian dari mereka berfoto dengan latar belakang peserta aksi.
Tahun 2018 : banyak rombongan besar dan kecil (lebih banyak rombongan kecil) yang berjalan menuju Monas. Karena hari Minggu, tampak jelas perbedaan antara peserta aksi 212 dan orang yang sedang berolah raga di Jl. M.H. Thamrin (car free day), dapat dibedakan dari gaya busana. Peserta aksi menggunakan busana warna putih dan hitam. Semakin ke arah monas, orang yang berolah raga (lari dan bersepeda) semakin sedikit. Selain itu, ada peserta aksi yang menuju Monas, ada yang balik (ke arah pulang, menjauhi monas)
Yang membuat saya heran, busway menuju kota dan busway yang menuju tanah abang (melalui Jl. K.H. Wahid Hasyim memotong Jl. Thamrin), masih beroperasi. Busway menuju Kota tidak meneruskan perjalanan ke Kota tapi di depan sarinah berbelok ke arah Tanah Abang. Ada 15-20 penumpang. Jalur Busway Tanah Abang-Gondangdia lancar, tidak terhambat peserta aksi.
Kendaraan yang parkir (bus dan kendaraan roda empat) lebih banyak terparkir di Jl. M.H Thamrin.
Saya berhenti di depan Bangkok Bank dan pulang, tidak meneruskan perjalanan ke arah Jl. Medan Merdeka Selatan, lokasi tempat saya berhenti ketika aksi 212 tahun 2016, karena dari kejauhan sudah terlihat (pemantauan dari jembatan busway di depan Bangkok Bank), peserta aksi memenuhi area di sekitar air mancur, sangat padat dan sulit bergerak.
Kesimpulan :
Tahun 2016 acara diadakan di Monas dan berakhir dengan Salat Jumat, sehingga peserta yang datang langsung membentuk barisan Shaf (barisan untuk Salat). Peserta yang datang sejak dini hari, Salat tahajud dan Subuh (pukul 2:00- 4:00 WIB) di Monas tidak pulang tapi menunggu sampai waktu Salat Jumat (pukul 12:00 WIB). Peserta aksi yang datang pada masa waktu yang berbeda-beda (dari dini hari sampai pukul 11:00 WIB), tetapi pulang pada waktu yang sama (setelah Salat Jumat).
Berbeda dengan reuni 2018. Peserta aksi yang datang ke Monas sejak dini hari dan Subuh dapat pulang atau balik ke hotel, tempat mereka menginap, sehingga peserta yang datang/ pulang pada masa waktu yang berbeda-beda. Walaupun pada akhirnya, peserta yang masih bertahan di Monas harus segera pulang pada pukul 13:00 WIB, setelah Salat Zuhur bersama. Tahun 2018, pengunaan ruang menumpuk pada kawasan Monas dan sekitarnya.
Tahun 2016, peserta aksi menyebar, karena harus membentuk shaf untuk Salat Jumat, sehingga ruang kota yang digunakan terisi penuh. Jumlah peserta/ruang (area) yang digunakan peserta aksi mudah terlihat, bahwa peserta sampai di ujung jalan ini, atau menempati area ini. Untuk Jl. M.H Thamrin, peserta aksi sampai patung selamat datang di depan Hotel Indonesia (dan pengeras suara sampai pada area ini, sehingga peserta aksi dapat Salat dengan imam yang ada di Monas). Setelah selesai acara, peserta yang mendapat tempat di area ini langsung pulang tidak menuju Monas, karena acara selesai setelah Salat Jumat.
Tahun 2016 hari Jumat, hari kerja, sedangkan Tahun 2018, hari Minggu, hari libur, sehingga kemungkinan peserta yang datang lebih banyak. Selain itu, tahun 2018, adalah aksi 212 ke-3, sehingga peserta yang datang sebelumnya sudah mempunyai pengalaman menghadapi kondisi aksi. Sebagian di antara peserta dari luar kota Jakarta langsung ke Monas dan pulang kembali ke kota mereka, tanpa mampir ke mesjid terdekat.
Safitri Ahmad
Writer, landscape architect, urban planner
No comment for Napak Tilas Jalur Aksi 212 (2016) Pada Reuni 212 (2018)