Efek Domino Ruang Kosong di Perkotaan : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Uncategorized » Efek Domino Ruang Kosong di Perkotaan

Efek Domino Ruang Kosong di Perkotaan

(118 Views) Januari 21, 2021 2:41 am | Published by | No comment



Pada suatu masa rumah hanya menjadi tempat untuk tidur. Keluar dari rumah sebelum matahari terbit dan kembali ke rumah pukul 20:00-21:00 WIB. Jarak tempuh antara rumah dan kantor pada jam-jam sibuk, pagi dan sore, pada saat orang berangkat dan pulang kerja tidak dapat diprediksi, karena macet, sehingga sebagian orang memutuskan untuk berangkat lebih pagi dari rumah dan pulang lebih malam untuk menghindari macet.

Mereka menghabiskan waktu di mall terdekat sampai diperkirakan jalanan sudah cukup lengang untuk melakukan perjalanan pulang. Kondisi ini menyebabkan sebagian orang yang bermukim di pinggir kota Jakarta, kos atau membeli apartemen di tengah kota yang dekat kantor atau sekolah, atau mudah diakses dengan kendaraan atau transportasi umum. Mereka berinvestasi untuk rumah yang mudah diakses untuk melakukan kegiatan rutin (bekerja dan sekolah). Walaupun rumah yang dibeli atau disewa kecil, dan setiap anggota keluarga harus menggunakan ruang bersama atau satu ruangan menjadi multi fungsi, misal ruang makan yang sekaligus menjadi ruang belajar dan bekerja.

Karena kebutuhan ini maka rumah kost, dan apartemen tumbuh subur di tengah kota. Pangsa pasarnya dari golongan bawah sampai atas. Sebagian pekerja di kota mempunyai dua rumah. Pertama rumah di pinggir/luar kota (landed house) dan kedua rumah di tengah kota (apartemen sesuai dengan budget masing-masing). Sebagian pekerja tidak mempunyai rumah lain, selain apartemen di tengah kota atau kost (sewa).

Pola huniannya, pada saat hari kerja, tempat kos dan apartemen penuh. Sebaliknya pada saat libur kerja atau weekend (sebagian) tempat kos dan dan apartemen kosong, ditinggalkan penghuninya kembali ke rumah masing-masing (di pinggir kota.).

Lalu apa yang terjadi pada saat pandemi melanda. Banyak tempat kos dan rumah susun atau apartemen yang kosong, ditinggalkan oleh penghuninya kembali ke rumah atau ke kembali ke kampung bagi pekerja informal, karena tidak ada pekerjaan di kota. Ruang kosong ini tidak hanya berdampak pada hunian tapi berimbas pada sector lain; antara lain perkantoran, perdagangan, dan parkir.

Tercatat tingkat kekosongan ruang perkantoran Jakarta mencapai 24,1%. . Tingkat hunian atau okupansi apartemen sewa di Jakarta rata-rata sebesar 59,8 persen, turun 13,2 persen terdampak pandemi yang terjadi saat ini. Tingkat okupansi rata-rata pada awal semester 2020 melemah, sebagai dampak kumulatif dari pembatalan penghuni baru dan pemutusan sewa jangka pendek.

Ruang kantor, ruang parkir, ruang pertemuan, toko, rumah sewa/apartemen, yang pada masa normal selalu tidak cukup, (selalu tumbuh bangunan baru), pada masih pandemi banyak di antara ruang-ruang itu yang kosong. Ruang kosong ini menjadi ruang negatif bagi kota. Ruang negatif, ruang yang tidak dimanfaatkan secara maksimal, sehingga tidak mempunyai nilai secara ekonomi dan sosial. Padahal, secara ekonomi nilai tanah di perkotaan sangat mahal yang seyogyanya dimanfaatkan sebaik-baiknya. Walau di perkotaan selalu ada ruang negatif, tapi sejak pandemi jumlah ruangnya semakin bertambah.

Lalu bagaimana memanfaatkan ruang kosong itu? Atau apakah kondisi akan kembali seperti semula? Hunian, perkantoran, dan perdagangan di tengah kota akan kembali marak dan ruang-ruang akan terisi penuh?

Kebiasaan baru dengan bekerja dan rapat dari rumah, efisiensi waktu dan ruang menyebabkan kebutuhan akan ruang kerja dan ruang hunian di pusat kota perlu dipertanyakan kembali? Dulu banyak alasan untuk berkantor di pusat kota (gedung tinggi) kemudahan mobilitas, akses dengan rekan kerja mudah, dan prestise perusahaan, bila berkantor di gedung mewah.

Saat ini, pandangan terhadap produk dan jasa berubah. Konsumen tidak lagi memilih barang atau jasa berdasarkan “dimana” barang itu dipasarkan atau berkantor, tapi pada kualitas dan layanan lain.

Kota merefleksikan kehidupan dan interaksi sosial, ekonomi, politik, dan hubungan antar komunitas. Semua itu membutuhkan ruang dalam melakukan kegiatannya. Akan tetapi, perubahan cara berkomunikasi dan berinteraksi menyebabkan banyak ruang tidak lagi digunakan . Ruang kosong itu menjadi sia-sia. Untuk itu perlu dirancang ulang, sehingga mempunyai nilai tambah bagi komunitas, ekonomi, sosial, dan komunitas. Terutama komunitas di sekitar lokasi ruang kosong itu berada.

Penggunaan kembali “ruang kosong” itu perlu berbagai pendekatan, agar dapat dimanfaatkan secara maksimal. Salah satunya dengan merencanakan fungsi baru, dan tentu saja disain mengacu ke fungsi baru tersebut, tanpa melakukan perubahan yang signifikan pada konstruksi ruang. Fungsi baru dan disain yang unik, akan menarik orang untuk berkegiatan di sana, terutama pelajar dan anak muda, yang sebagian waktunya banyak dihabiskan di luar rumah.

Perubahan fungsi dan disain tergantung dari besar, luas, dan lokasinya. Ruang kosong di lingkungan perkantoran dan perdagangan dapat alih fungsikan sebagai coworking yaitu dalam satu ruangan terdapat beberapa orang yang bekerja dalam satu ruangan yang disewa dalam bentuk jam-jaman. Coworking juga menyediakan fasilitas untuk bekerja (ruang rapat, mesin foto copy, dan printer). Atau gudang sementara bagi produk dari luar kota yang dipasarkan secara online atau menjadi tempat pamer produk local.

Sedangkan ruang parkir yang kosong dapat disulap menjadi tempat Latihan olah raga (silat, senam, jogging) atau pada waktu-waktu tertentu bazaar bagi UKM. Rumah susun atau apartemen yang kosong menjadi kamar sewa harian.

Categorised in:

No comment for Efek Domino Ruang Kosong di Perkotaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>