124. Masa Pensiun Gunawan Tjahjono bab 27b : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 124. Masa Pensiun Gunawan Tjahjono bab 27b

124. Masa Pensiun Gunawan Tjahjono bab 27b

(328 Views) Agustus 14, 2022 9:19 am | Published by | No comment



Saya masuk.
Sepi.
Ada orang di salah satu ruangan.
“Ini ruang rektor?” tanya saya ragu.
“Betul,” sahut Bapak tak berseragam itu.
“Saya ingin ketemu Pak Rektor Profesor Gunawan Tjahjono, saya sudah janji”
“Tunggu sebentar, beliau sedang rapat,”katanya.
“Baik,” sahut saya sambil terus berdiri.
Kemudian Bapak itu berdiri dan mempersilakan saya duduk di kursi yang tadi
ia tempati. Ia sendiri berdiri karena tidak ada kusi lain. Tidak ada ruang tamu.
Tidak ada sekretaris.

Tak lama Gunawan datang sambil senyum-senyum.
“Selamat ya Pak…,” ucap saya sambil mengulurkan tangan.
“Terima kasih,” balasnya sambil mempersilakan menuju ruang kerjanya.
Ruangan 4×4 m2, satu meja kerja, satu kursi untuk Gunawan, dua kursi untuk
tamu. Di atas meja ada beberapa lembar kertas. Sudah, itu saja. Pikiran saya
langsung melayang ke meja kerja Gunawan di ruang dosen UI, yang penuh
dengan buku, kertas, dan paper, bertumpuk-tumpuk. Sesak. Jika buku dan
kertas-kertas itu bisa bicara, pasti mereka sudah teriak kesempitan. Di sini,
betapa lapangnya.

Gunawan menyalakan Air Conditioning.
“Mahasiswa akan belajar di sini Pak?”
“Iya. Ini hanya sementara. Nanti akan pindah ke kampus baru, sedang
dibangun, akan selesai 2-3 tahun lagi.”
“Yang rancang bangunan itu siapa Pak?”
“Arkonin, semua bangunan di sini (kawasan Bintaro) yang rancang Arkonin,
karena grup Jaya.”

“Mahasiswanya sudah berapa banyak Pak?”
“Sampai kemarin (Agustus 2011), baru mencapai 61 orang untuk 10 prodi
(program studi). Tapi kami harus jalan. Yang paling banyak ilmu komunikasi
yang lain manajemen, akutansi, psikologi, arsitektur, sipil.”
“Di sini masih banyak tantangannya, apalagi di sini tidak ada fakultas, yang ada
prodi (program studi). Jadi tidak ada fakultas dan jurusan. Dari rektor langsung
prodi. Jadi apa-apa langsung ke rektor, seperti perusahaan Apple (perusahaan
komputer dari Amerika yang terkenal itu).



“Lah… Pak Gun pasti tambah repot kalau semua langsung ke Bapak?”
“Kami di sini kan membatasi. Yang utama itu yang sebut liberal arts. Ini kan
saya yang menyusun proposalnya 5 tahun yang lalu, bersama Pak Emir, Triatno,
dan Azhar Hadi. Dikti tidak mengeluarkan izin pendirian universitas baru,
makanya ketika ada izin baru, saya sudah hampir pensiun, tapi saya harus
dampingin mereka (pihak UPJ). Sampai kemudian UPJ memilih saya jadi rektor.”
“Dalam proposal itu, Pak Gun ingin UPJ itu seperti apa?”
“Tidak ada fakultas. Tidak ada jurusan. Langsung prodi. Liberal arts yang paling
utama. Sustainable development.”

“Kenapa liberal arts dan sustainable development?”
“Kenapa sekolah yang paling bagus di dunia selalu di Amerika? karena mereka
sistemnya liberal arts, itu jawaban yang gampang.”
“Kamu kan tidak tahu liberal arts itu apa?”
“Iya…,” jawab saya biasa, mengakui.
Mudah benar Gunawan menembak pengetahuan yang ada di dalam kepala saya.
“Jadi kisahnya seperti ini.”

Gunawan mulai bercerita.
“Di zaman romawi ada dua jenis manusia : liberal yang bebas. Satu lagi servile
orang yang membantu liberal untuk mengembangkan usahanya. Arsitektur,
akutansi, itu termasuk servile art. Lalu yang liberal itu ngapain? Mereka
mengatur. Pandai ngomong. Pandai menulis. Pandai berhitung. Lalu berdebat
juga pandai dengan mendahulukan moral dan menjadi orang terhormat, taat
hukum, tahu kewajiban sebagai warga negara. Itu yang mendasari mata ajar di sini. Jadi manusia utuh dulu… baru itu…..(program studi: arsitektur, komunikasi,
psikologi). Mata ajar itu (liberal art), tiga semester pertama.”

“Sustainable development penting sekarang. Lulus sarjana sebagai penyelamat
dunia. Ide itu yang dibeli oleh UPJ dan didukung oleh CEO Jaya Grup, Trisna
Mulyadi. Begitu dengar, ia langsung setuju.”
“Saya ingin melihat dosen (staf dosen yang mengajar di Universitas
Pembangunan Jaya), berhasil, caranya : Pertama, mahasiswa tidak sudi lagi
menyontek. Kedua, ada mahasiswa yang mendatangi dosen, dan mengatakan
bahwa ia ingin mengembangkan topik pengetahuan tertentu, dan mohon
dibantu, “Bagaimana caranya?” Jika itu terjadi maka dosen itu berhasil.
Dosen yang bagus akan mendidik mahasiswa dengan memberi contoh. Dan ini
tantangan besar.”

“Wah …Pak Gun tidak jadi pensiun dong, malah semakin sibuk.”
“Guru besar secara otomotis akan pensiun pada usia 65 tahun. Departemen
(arsitektur UI) mengajukan saya supaya diperpanjang. Lalu rektor (Rektor UI
: Gumilar Rusliwa Somantri) menugaskan saya kembali untuk 2 tahun. Di sini
kan menawarkan saya jadi rektor, dan dengan izin UI, dan dengan perjuangan
segala macam, akhirnya rektor UI yakin melepas saya ke sini.”

“Saya tidak punya banyak keinginan. Tidak pernah punya kepikiran jadi rektor.
Saat ini saya masih ngajar di UI, hanya beberapa mata ajar, tidak banyak
seperti dulu. Waktu saya lebih banyak di sini (UPJ). Masih menguji S2 dan S3
karena kan sudah ditugaskan kembali. Jadi masih menjalani kegiatan semula,
hanya sekarang lebih fokus mengembangkan UPJ. TPAK masih, periode ini
berakhir sampai tahun 2013.”
“Jadi tidak pensiun. Makin sibuk. Ini perjuangan baru lagi. Tantangan baru lagi.




No comment for 124. Masa Pensiun Gunawan Tjahjono bab 27b

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>