Penerapan Konsep Rain Harvesting di Rumah Professor Gunawan Tjahjono
(1172 Views) Agustus 29, 2017 9:56 am | Published by Safitri ahmad | No comment
Memanen air hujan (rain harvesting) dapat mengendalikan air permukaan (run off) di daerah perkotaan dan memanfaatkan air yang dipanen untuk kebutuhan sehari-hari (menyiram taman, membersihkan kendaraan, dan untuk kebutuhan rumah tangga lainnya).
Penerapan konsep memanen air (rain harvesting) di rumah professor Gunawan Tjahjono dapat menyerap sebagian besar air hujan yang jatuh ke tapak (sebagian air hujan yang ditampung, digunakan kembali dan air tanah) dan sebagian kecil dibuang ke got.
Luas tapak 494 m2. Dua masa bangunan, luas lantai masing-masing sebesar 102.5 m2 (air hujan dari atap masuk ke bak penampungan) dan 63.735m2 (air hujan dari atap sebagian jatuh ke parkir, sebagian ke taman), parkir untuk 4 mobil (air hujan menuju got), dan taman (air hujan langsung diserap tanah). Dari luas tapak 494 m2, hanya 166.2 m2 digunakan untuk bangunan.
Air hujan yang jatuh ke atap disalurkan masuk ke bak penampungan berbentuk vertikal (berwarna hijau, seperti tong besar yang terletak di samping rumah). Kelebihan air di bak vertikal disalurkan ke bak penampungan yang ada di bawah tanah (ground tank). Jika ground tank penuh, kelebihan air masuk ke sumur resapan dan kelebihan air di sumur resapan di buang ke got (saluran umum yang dibuat pengelola perumahan).
Kapasitas air di dalam bak penampungan vertikal sebesar 2.4 m3 (dua buah), masing-masing berkapasitas 1.2 m3, (terbuat dari 6 tong minyak @ 200 liter, yang disusun vertikal dan disambung satu dengan yang lain- material besi-). Bak penampungan yang terletak di bawah taman (ground tank) berkapasitas 15 m3 air (1.5 m x 1 m x 11 m) terbuat dari beton.Di dalam bak terdapat filter ( kira-kira 1 m3)yang menyaring air hujan untuk dialirkan kembali ke dalam tangki air yang terletak di atap. Tangki air di atap berkapasitas 1 m3 dan otomatis mengunci jika air mencapai permukaannya.
Air hujan yang ditampung di bak penampungan vertikal (di bagian bawah bak terdapat kran) digunakan untuk menyiram taman, membersihkan kendaraan, dan air untuk kolam ikan. Sedangkan, air hujan yang ditampung di tangki air yang terletak di atap digunakan untuk toilet (4 buah toilet dari 4 kamar mandi) dan menyiram tanaman di taman atap (roof garden).
Pipa yang menaikkan air dari (ground tank) menuju tangki air di atap terletak di samping bak vertikal (pipa berwarna hijau menggunakan paralon).
Jika cadangan air hujan di dalam tangki air di atap kosong, digunakan air tanah. Tombol pengendali (penggunaan) air hujan dan dan air tanah diletakkan di kamar mandi. Air bersih (air tanah) digunakan untuk mandi, dapur, dan cuci. Air yang berasal dari kamar mandi, dapur, dan cuci dibuang ke got. Di atap terdapat dua tangki, tangki air bersih (air tanah) dan tangki air hujan yang telah difilter.
Total air yang dapat dipanen sebanyak 18.4 m3 (1 m3 dari tangki air di atap, 15 m3 dari bak penampungan air bawah tanah (ground tank), dan 2.4 m3 dari dua bak penampungan air vertikal). Limpahan dari air yang dipanen, masuk ke sumur resapan, menjadi air tanah. Sumber air hujan yang dipanen berasal dari atap bangunan seluas 102.5 m2.
Bak penampungan vertikal berwarna hijau dari tong minyak menempel di samping rumah, seperti ornamen bangunan. Bak penampungan di dalam tanah (ground tank) berbentuk kanal, sehingga efektif dan efisien menampung dan mengalirkan limpahan air menuju sumur resapan dan got (pembuangan di luar tapak). Rancangan bak penampung fungsional, menarik, dan tersistem, serta efektif dalam penggunaan lahan.
No comment for Penerapan Konsep Rain Harvesting di Rumah Professor Gunawan Tjahjono