87 Renovasi Pastoran Gereja Theresia Jakarta bab 19a : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 87 Renovasi Pastoran Gereja Theresia Jakarta bab 19a

87 Renovasi Pastoran Gereja Theresia Jakarta bab 19a

(240 Views) Agustus 14, 2022 12:48 am | Published by | No comment



“Yang merancang bangunan pastoran itu dosen saya,” kata saya bangga, tanpa
ditanya.
“Saya ingin membuat buku tentang beliau dan rancangannya.”
“Ibu sering ke sini?”
“Ya… saya sering ke sini, pagi-pagi, olah raga dan pijat refleksi dengan batu-
batu ini,” katanya sambil tersenyum dan terus berjalan di atas batu-batu di
depan bangunan pastoran itu.

Kegiatan saya menarik perhatian ibu berusia 60 tahun-an ini. Ia terus
memperhatikan. Ketika dekat terjadilah dialog itu. Dari pada ia
memperhatikan saya terus dengan penuh tanda tanya, lebih baik dijelaskan
saja.

Pagi itu saya potret bangunan pastoran. Potret sana. Potret sini. Tidak terlalu
banyak orang yang lalu lalang di sana. Ada dua orang yang sedang berdoa di
depan patung bunda Maria. Ada satu orang ibu yang berjalan di atas batu.
Pijat refleksi.

Dari luar, bangunan pastoran Gereja Theresia menyatu dengan lingkungan
sekitarnya: dengan bangunan, dengan pohon, dan dengan kegiatan yang ada.
Menyatu dari sudut rancangan dan material yang digunakan (Dinding bangunan
yang ditempel batu alam . Atap pelana. Cat warna putih. Kusen kayu berwarna
coklat). Serasi. Tidak mencolok. Tapi tetap terlihat kebaruannya. Baru
direnovasi.

Jika dibandingkan dengan bangunan yang ada di sebelahnya, maka tampak ada
kesamaan fasad. Dinding bagian bawah berlapis batu alam. Di atasnya beton
bercat warna krem, jendela dan pintu kayu.



Saya duduk di kursi taman, di depan bangunan itu, menikmatinya, dan
memikirkan rancangannya. Terdapat pergola dengan 7 pilar, di depan
bangunan. Setelah lama memperhatikan saya merasa ada yang salah. Satu
dari tujuh pilar pergola berbentuk tabung. Sedangkan yang lain berbentuk
balok. Pilar berbentuk tabung itu tidak terletak di tengah, di pinggir pun tidak.
Peletakannya maksa. Mungkin ada kesalahan. Pikir saya.

Saya arahkan padangan dari permukaan tanah sampai atap bangunan. Lapisan
rumput, batu alam (brojol), tangga dan teras dari batu templek. Dinding,
dinding bagian bawah kira-kira 1 meter dilapisi batu, sedangkan dinding bagian
atas beton berlapis cat. Itu lantai 1. Untuk lantai 2, dinding beton itu menerus
dari lantai 1, terdapat garis-garis vertikal dari kaca di antara bidang beton yang
lebar. Kemudian, dilanjutkan dengan dinding kaca yang lebar, di depan dan di
samping kiri kanan bangunan. Di atas dinding kaca, dinding beton dengan garis-
garis pendek vertikal dengan material kaca (sebagian yang tampak. Sisanya
tertutup reng atap pelana.)

Dari permukaan tanah sampai atap, mengalir sebuah cerita tentang
penggunaan material. Semakin dekat ke bumi suasana alam semakin terasa.
Semakin menjangkau langit, material beton dan kaca mendominasi. Modern.
Pada dinding pintu masuk, terdapat lubang berbentuk lingkaran…hampir
lingkaran karena bagian bawahnya terpotong. Ditutup kaca warna warni tua.
Merah tua. Biru tua. Hijau tua. Untuk apa?

Ketika saya perhatikan lebih dekat, ada bentuk seperti lilin di belakangnya.
Mungkin jika malam tiba, dari dinding itu akan terpancar cahaya warna-warni
yang bersumber dari nyala lilin yang tertahan kaca warna-warni itu. Saya
menggunakan logika menuliskan kalimat ini karena tidak pernah ke sana pada
saat malam. Apa yang ada di dalam ruangan? Saya tidak mengetahuinya karena
tidak memasuki ruangan itu, itu ruang adorasi.

L A N TA I 1
Ruang publik : ruang tamu, ruang sekretariat, ruang rapat.
Ruang Pribadi : ruang makan, dapur, laundry, ruang konsultasi, ruang ad




No comment for 87 Renovasi Pastoran Gereja Theresia Jakarta bab 19a

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>