119 TPAK Tim Penasehat Arsitektur Kota Jakarta bab 25b : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 119 TPAK Tim Penasehat Arsitektur Kota Jakarta bab 25b

119 TPAK Tim Penasehat Arsitektur Kota Jakarta bab 25b

(294 Views) Agustus 14, 2022 9:05 am | Published by | No comment



Komentar juga ada standarnya. Ada satu lembar yang perlu diisi. Ada
masalah perkotaan, traffic, parkir, design bangunan, dan detil.
“Ada perubahan/revisi yang Pak Gun lakukan?”
“Kasih komentar.”
“Terus minggu depan ia harus perbaiki?,” tanya saya.
“Belum tentu minggu depan, bisa dua minggu tergantung kecepatannya.”
“Ada proyek yang ditolak tidak Pak?”
“Kalau ia sudah memenuhi (memenuhi syarat standar yang sudah dibuat oleh
TPAK), kita kan tidak menolak proyek. Kalau kurang. Perbaiki. Kurang. Perbaiki.
Kalau kurangnya sudah 5 kali kami usulkan ganti perencana.”
“Sejak saya jadi ketua ada pemanggilan owner (pemilik bangunan). Dulu tidak
ada. Dulu arsitek (perencana bangunan itu yang dipanggil).”
“Kalau owner -nya dipanggil baru datang,” tanya saya.
“Kalau owner nya mau stand by, silakan, belum tentu akan dipanggil.”
“Alasannya apa Pak?”

“Anda tahukan owner selalu mendikte arsitek. Kalau yang dipanggil arsitek
mempan tidak?”
“Tidak.”
“Arsiteknya tidak mampu menjelaskan ke owner?,” jawab saya.
“Iya. Tidak percaya.”
“Kalau yang dipanggil ketua TPAK. Dijamin,” kata Gunawan, penuh percaya diri
(Dijamin percaya dan mengikuti saran ketua TPAK).
“Terpaksa. Kalau tidak datang, izin tidak keluar ya Pak, atau dipersulit deh?,” sahut saya asal.
Gunawan tak terpengaruh.

“Yang perlu dididik bukan arsiteknya kan?, Konsep saya begitu.”
“Proyek yang masuk TPAK yang paling menarik, yang mana Pak?”
“Mana ada yang paling menarik? semuanya kita anggap sama dong,” jawab
Gunawan diplomatis, persis jawaban petinggi.

Pasti dari banyak proyek yang masuk, ada proyek yang Gunawan suka.
Sebanyak itu. Setiap minggu. Setiap bulan. Setiap tahun. Tapi ia tidak mau
menyebutkannya. Kenapa?

“Itu kan design. Sekarang proyek apapun yang berdiri di atas lahan kosong.
Pertama, harus zero run off. Air tidak boleh dibuang ke luar proyek. Dua,
domestic wastewater treatment, air dipakai kembali. Kemudian, kalau lahan
itu luasnya A, saya bisa tanam sekian pohon, hitung luas daun yang dihasilkan
pohon itu. Itu sebentar lagi akan jadi peraturan. Gubernur sudah setuju. Suruh
susun tim. Kita mesti menyumbang sesuatu dan mengubah wajah Jakarta.
Begitu.”



“Jakarta selalu banjir. Jadi paling sedikit ia (pemilik
bangunan) harus ikutan mengurusi dong. Jangan
sampai airnya melimpah ke jalan (air hujan yang
jatuh di dalam tapak jangan sampai ke jalan). Kalau ia
membangun kan mengurangi oksigen, kena radiasi,
oleh sebab itu kembalikan (dengan cara menanam
pohon, roof garden, vertical garden). Itu kan moral.”

“Apa Gubernur mengintervensi Pak Gun sebagai ketua TPAK?”
“Tidak. Ia dengar. Kadang-kadang ia bisa tidak setuju dengan kami. Ada yang
kami anggap OK. Tapi Gubernur mempertimbangkan tidak. Karena nanti akan
jadi preseden. Nah itu adalah hak ia.”

“Politis,” ucap saya.
“Bisa atau tidak terbangun tetap di tangan Gubernur ya Pak?”
“Ia dong. Kita kan penasehat. Tapi kalau yang kecil-kecil sih tidak. Kecuali yang
sangat penting yang letaknya di tempat khusus …Monas…harus jaga kan?”

“Jadi, perencana harus mengikuti aturan yang ada, ada tim yang menilai, lalu
apakah dari masing-masing kelompok, Pak Gun periksa lagi?”

“Saya sekarang periksa terutama entrance, jalur masuk ke tapak, jika trotoir
selalu dipotong begitu saja oleh jalan masuk kendaraan, maka lintas pejalan
kaki dan mereka yang memakai kursi roda akan terpotong. Oleh sebab itu saya
senantiasa periksa, agar ada penurunan trotoir atau kenaikan bidang jalan
masuk kendaraan, agar trotoir tetap didahulukan.”

“Laporan run off masih dilihat kembali saja, kadang-kadang masih kecolongan,
(ada yang tidak memasukkan laporan run off : laporan yang menjelaskan air
permukaan yang ada di lahan gedung harus diserap oleh drainase/tanah/ yang
ada di tapak gedung)?”

“Sesuai dengan tugasnya. TPAK membantu memeriksa proses izin bangunan.
Ada tahap pembangunan dengan ukuran tertentu. Letak daerah tertentu. Itu
harus lewat TPAK. TPAK memberi nasehat tentang layak atau tidak.”
“Kita mengikuti panduan dengan memenuhi syarat tertentu. Itu semua ada
aturannya. Ada panduannya. Ada tahap-tahap bangunan.”

“Dulu ada kriteria yang disusun Pak Danis. Ada yang namanya lingkungan fisik,
visual, lingkungan sosial, lingkungan fungsional. Itu yang dipakai. Semua
relatif. Ada beberapa yang penting: keselamatan, keamanan, kesehatan dan itu
tidak bisa diperdebatkan. Kalau yang lain masih bisa diperdebatkan, misalnya
keindahan.”

“Sekarang banyak proyek konservasi ya Pak?”
“Secara jumlah ya…kalau luasnya tidak seberapa, 100 -150 m2. Bedakan
dengan mal yang luasnya 300 m x 300 m… coba berapa luasnya…luas sekali
kan?”

Tidak sedikit bangunan yang ada di Jakarta direncanakan oleh arsitek asing dan
tentu harus melewati Gunawan.
“Bagaimana kalau perencananya arsitek asing, apa Pak Gun pernah undang?”
“Bukan saya yang undang tapi owner yang undang. Saya menyuruh owner untuk
undang arsitek-nya untuk datang.”

“Siapa saja arsitek asing yang pernah datang.”
“Tom Wright dari Atkins Architect (arsitek yang merancang The Burj Al Arab di Dubai), HOK, DP Singapore.”




No comment for 119 TPAK Tim Penasehat Arsitektur Kota Jakarta bab 25b

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>