38. Chia Yong Guan bab 7g
(247 Views) Agustus 7, 2022 11:56 pm | Published by Safitri ahmad | No comment
menerima tawaran sekolah ke luar negeri. Gratis.
”Karena banyak kerjaan di sini. Kerja. Dapat uang.”
”Saya, Budi, dan Triyatno, yang ambil waktu itu. Terima 3000 U$. Sekolah di
Amerika Serikat waktu itu murah, tidak semahal sekarang.”
“Ya sudahlah… jadilah seperti begini. Selesai insiyur. Kawin.”
Mulai menarik.
Ada titik masuk yang tepat.
“Ketemu Istri dimana Pak?”
“Panjang ya. Ibu saya sering sakit. Suatu saat ia sakit dan lama berobat di RS
Cikini, dan saya ketemu istri saya di sana. Ia perawat.”
”Bukan karena Bapak yang sakit?” Saya jadi teringat cerita Gunawan yang ingin
belajar ke Delft tapi tidak jadi karena sakit.
”Itu belakangan.”
”Saya juga sakit pada akhir 1966. Tapi saya sudah pacaran. Waktu sakit, istri
saya yang suntik Streptomycin seminggu 3 kali. Di rumah. Tidak di rumah
sakit.”
”Dulu saya sangat kurus. Setinggi ini (176 cm) cuma 47 kg. Tidak terasa.
Saya dulu tidak pernah batuk. TBC ada 2 jenis. Ada TBC tertutup tiba-tiba
muntah darah. Sampai sekarang, kalau difoto (rontgen), paru-parunya sudah
berlubang.”
”Pernah dapat diskriminasi?”
”Itu biasa, China segala macam. Itu biasa. Sampai di Beji, Depok, anak-anak
saya juga merasakan, tapi di mana sih yang tidak ada diskriminasi di dunia ini.
Paling Anda bisa me-reduce (mengurangi). Pasti ada duluan, cuma bagaimana
mendekati dan melihat, lebih muncul kemanusiaan, itu yang lebih penting.
Apalagi tugas saya seorang guru. Tidak boleh mendiskriminasi. Kalau saya
mendiskriminasi celaka, misi saya tidak tercapai.”
”Bagaimana hidup dalam perbedaan itu. Istri saya, ia kan bukan keturunan
China (istri Gunawan berasal dari Sulawesi Utara). Ayah saya keberatan. Saya bisa memahami karena ia langsung dari sana (dari China). Ibu saya tidak. Ibu
saya bisa terima. Justru Ibu saya yang sangat menganjurkan, meng-encourage
married, mungkin karena ia sendiri juga sudah punya darah yang macam-
macam, walaupun Chinese ia masih kental. Ayah kan langsung dari sana, jadi
ia bilang, ”Kalau bisa kamu…(ucapan Gunawan terpotong, tapi saya paham
maksudnya). Ibu saya yang menaklukkan. Jadi gitu.”
”Istri saya mau tidak mau juga bisa merasakan. Cuma ia hidup dalam toleransi.
Kita menjalani hidup mengisi ketidaksamaan. Bukan mencari kesamaan.
Menurut saya salah itu, mencari kesamaan. Pasti berbeda. Bagaimana mengisi
ini.”
“Pak Gun menggunakan bahasa Mandarin dalam percakapan sehari-hari?”
“Iya dengan orang tua, apalagi dengan teman-teman dari Medan, tapi kalau di
rumah enggak, anak saya enggak bisa.”
“Sahabat cukup banyak, teman saya SMA juga masih cukup kental. Ini mereka
yang kasih (Gunawan menunjukkan handphone). Mereka bangga terhadap saya
karena yang lain dagang kecuali yang satu ini (sambil menunjuk diri). Dan jadi
guru besar di UI, wah luar biasa,” tambahnya.
“Kalau yang lain (teman yang lain) ngomong tidak dipercaya karena pedagang.
Kalau saya yang ngomong, mereka percaya,” tambahnya tertawa.
“Yang penting, dalam situasi apapun juga Anda bisa lakukan sebaik-baiknya.”
”Siapa yang paling mempengaruhi hidup Pak Gun?”
”Hampir semua mempengaruhi saya termasuk teman-teman. Yang sangat
jelas adalah pepatah konfusius itu, kalau ada tiga orang berjalan pasti ada
guru kamu di situ. Saya belajar dari segala sesuatu. Dari omongan dengan
mahasiswa saya juga belajar.”
“Saya juga dipengaruhi oleh (alm.) Parsudi Suparlan. Ia dan Budi Hartono. Saya
melihat ada orang yang tidak peduli pada materi. Dulu saya sering pinjam buku
pada Ibu Wendy, (istri (alm.) Parsudi Suparlan), orang Amerika.
(alm) Prof.Dr.Parsudi Suparlan dosen antropologi di UI, kepakarannya di bidang
Antropologi Perkotaan, Kemiskinan perkotaan dan multikulturalisme. Ia sering
melakukan penelitian dan menulis banyak buku tentang antropologi. Dulu dosen
saya juga. Kalau ia mengajar, saya pasti menyimak. Jika ada teman yang ngobrol,
langsung saya plototin. Parsudi mengajar dengan logika yang sistematis,
katanya jelas dan sangat menguasai mata ajar. Banyak hal baru yang saya dapatkan.
“Kearifan itu didapat dari cerita silat?”
“Cerita silat, guru-guru saya yang di Berkeley, mereka orang-orang hebat tapi
begitu…, saya kan tidak ada apa-apanya.”
No comment for 38. Chia Yong Guan bab 7g