26. Tema yang Utama bab 5c : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 26. Tema yang Utama bab 5c

26. Tema yang Utama bab 5c

(221 Views) Agustus 7, 2022 11:26 pm | Published by | No comment



”Tapi memberikan pertanyaan,” tambah saya melengkapi, sudah mulai hafal
dengan jawaban Gunawan.
”Saya mengikuti kelas, saat Pak Gun menjelaskan tentang mewujudkan
tema pada rancangan, sehingga terbaca ke dalam bentukan fisik. Bagaimana
caranya? Apa mungkin bisa terbaca, memindahkan tema ke dalam bentuk fisik?
Lalu, bagaimana menilainya?”
Gunawan menjawab,”Misalnya ada 2 murid yang mau bikin rumah sakit. Dua-
duanya harus berbeda.”

”Saya selalu tanya. ”Kamu maunya apa? Kamu mau merancang apa?” Setelah
saya mengetahui apa yang ingin dirancang oleh mahasiswa tersebut, baru saya
bisa membantu. Yang satu, ingin merancang sesuatu dengan tema air. Yang satu
lagi tentang api. Pasti kedua rancangannya berbeda. Yang satu saya suruh ia
selidiki tentang air. Sedangkan yang lain selidiki tentang apa itu api.”
”Jangan bertanya, ”Ini benar tidak Pak?” Jangan bertanya, ”Bapak maunya
apa?”
”Masa saya maunya apa. Nanti keluarnya sama semua dong. Tidak mendidik
itu.”
”Biar dapat A,” celetuk saya cepat.
”Tidak akan,” balas Gunawan tegas.
”Kalau Anda menerjemahkan saya, malah dapat C.
Memang aneh untuk orang Indonesia, memang aneh.
Jadi diri kamu sendiri dong. Jangan saya. Jangan jadi
Gunawan ke-2. Saya tidak mau membuat murid saya
menjadi saya. Itu bukan pendidikan tapi doktrinasi.”
“Bagaimana Pak Gun menilai A, B, C, dan D untuk rancangan tersebut?”
“Misalnya tadi konsepnya air. Apakah bentuknya sudah seperti air? Apakah
sudah seperti api? lho…ini masih seperti batu…tidak sesuai, tidak benar.
Mahasiswa juga bisa melihat dan menilai hasil rancangannya sendiri. Ini lebih
fair kan?”

”Sejak saya pulang dari Berkeley, melihat anak saya itu pada usia tertentu, ia
sudah menjadi teman. Mereka punya kebebasan. Kita menjadi partner mereka.
Murid-murid mestinya seperti itu juga. Asal bapak senang itu merusak.”
”Kalau saya ingin merancang sekolah, apa yang harus saya lakukan?”
”Mulai dengan sekolah itu apa. Waktu saya dengan Pak Wondo (Suwondo B.
Sutedjo), sudah mulai berpikir sekolah itu sebagai titik mulanya seseorang yang
berada di bawah pohon. Orang yang berada di bawah pohon itu baru pulang
dari perjalanan jauh. Ia bertemu dengan teman lama. Ia bercerita tentang
pengalaman temannya. Berpikir ada baiknya bawa anak saya belajar pada
ia. Anaknya membawa teman-temannya ke situ (bawah pohon). Berlangsung
sesuatu yang belum ada perbedaan antara guru dan murid.”

”Anda harus melupakan atau menghilangkan sekolah itu adalah susunan
kelas-kelas, seperti SD Inpres. Itu konsep. Konsep itu pertanyaan. Akhirnya
saya merintis metode perancangan ini melalui sebuah riset, dan metode ini
berlanjut sampai sekarang. Sangat berbeda dan dibanggakan oleh Ketua
Departemen Arsitektur UI, Kemas Ridwan. Ia juga menganggap hanya jurusan
arsitektur UI yang melihat desain secara metode”.
”Pertanyaan untuk desain akan berputar di situ saja : Apa itu? Apa faktanya?
Apa yang semestinya? Bagaimana caranya? Mengapa? Cuma materinya yang
berbeda-beda.”



”Jika saya merancang sekolah, yang pertama saya cari, contoh-contoh sekolah,
bentuknya seperti apa saja,” kata saya.
”Boleh. Selanjutnya saya, minta Anda untuk mencari 5 contoh sekolah, yang
tahunnya berbeda. Masanya berbeda. Ini yang tua (lama). Ini yang muda
(terbaru). Terus coba cari tipenya, ruang yang tidak bisa dihilangkan, ruang
yang selalu ada, di antara sekian contoh itu. Apa itu? Mahasiswa harus sarikan.
Simpulkan. Walaupun ada perkembangan, tapi ruang-ruang tertentu tersebut
selalu ada. Itu namanya studi tipe yang kita sebut tipologi.”

“Setelah itu, mahasiswa mulai memikirkan, bangunan itu mencerminkan apa?
Ini yang selalu saya desak pada mahasiswa. ”Coba cari sebuah tema untuk
desain kamu.” Ya itulah…. orang lain sebut itu sebagai konsep.”
”Saya sering memberi contoh 2 model sekolah yang sangat terkenal. Pertama,
Hans Scharoum, ia mulai dengan menyatakan bahwa sekolah itu harus seperti
rumah, namanya school house. Ada ruangan yang didampingi house di luar.
Jadi, satu kesatuan unit yang tersusun dari beberapa unit. Ia mulai dengan itu.
Berpikir. Bagaimana cara anak (siswa) itu bergerak? Tidak mungkin sudut. Tapi
lengkung. ”Itu” temanya, maka bentuknya harus organik.”




No comment for 26. Tema yang Utama bab 5c

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>