93. Desain Rumah Wisnu bab 21a : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 93. Desain Rumah Wisnu bab 21a

93. Desain Rumah Wisnu bab 21a

(239 Views) Agustus 14, 2022 2:01 am | Published by | No comment



Ini bonus. Bab ini. Saya sudah memutuskan membahas empat karya Gunawan
saja untuk buku ini. Tak dinyana, saat wawancara dengan Titi Soenanto, ia
menyebutkan rumah Wisnu dengan taman atap (roof garden). Penasaran. Saya
datangi rumah itu. Keren. So, saya putuskan untuk membahas karya itu juga.
Setelah diingat-ingat, rasanya saya pernah melihat foto rumah itu di komputer
Gunawan, masih tahap pembangunan, awal-awal penulisan buku ini. Saat itu,
Gunawan memperlihatkan semua hasil karyanya untuk saya pilih. Karena
belum selesai, rumah itu saya abaikan. Rumah selesai, buku belum.
Jika memandang dari bawah ke atas, terlihat lapisan rumah : lantai 1, lantai 2,
dan lantai 3. Lantai 3, garis bangunan maju ke depan kira-kira 1 meter, tidak
segaris dengan lantai 1 dan lantai 2, sehingga pandangan pengamat (dari jalan)
tertumpu pada lantai 3.

Pada lantai ke-2 dan ke-3, terdapat bidang dinding beton yang lebar dengan
jendela membentuk garis seperti lima batang bambu, di antara ruasnya,
terdapat sirkulasi udara, karena kaca dirancang overlap. Dua garis jendela
berhadapan dan membentuk sudut tapi garisnya terputus tidak bertemu
pada satu titik, hanya imajinasi pengamat yang dapat menyambung ke dua
garis itu, hingga bertemu pada satu titik. Imajinasi pengamat juga yang akan
membentuk dua garis yang berhadapan itu membentuk segitiga sama kaki,
dengan membayangkan ada garis imajiner di bawahnya. Dari luar saya tidak
dapat membayangkan ruang apa saja yang ada di balik bidang lebar dengan
garis-garis seperti bambu tadi.

Pada lantai 2, di sisi kiri sisi kanan bangunan terdapat jendela di sudut
bangunan. Sisi yang menghadap ke arah jalan (fasad depan) jendela
membentuk garis miring, tidak kentara terlihat dari jalan, tapi yang menghadap
ke samping (kiri/kanan) jendela lebih besar.

Berbeda dengan rumah Beji dan rumah Paseban yang pintu ruang tamu/area
kegiatan penguna mengarah ke samping (tidak ke jalan), untuk rumah Wisnu,
Gunawan menghadapkan pintu ruang tamu ke jalan yang berarti, jika ruang
tamu dibuka maka ruangan itu akan mudah terlihat dari jalan, apalagi rumah
tak berpagar, kenapa?



Kavling rumah Wisnu berada di dalam kompleks dan terletak di jalan buntu
(di sebelah rumahnya masih ada 2 kavling rumah lagi), sehingga lalu lintas
kendaraan dan orang, sedikit. Saya kira, ini salah satu alasan pintu ruang tamu
menghadap ke jalan. Alasan lain, lebar lahan terbatas, jika pintu dihadapkan
ke samping kanan/kiri kavling, ruang akan terasa sempit. Ruang tamu yang
dirancang Gunawan tak besar. Untuk itu ia butuh ruang luar yang membantu
menimbulkan kesan lapang pada saat pengguna berada di ruang tamu. Salah
satunya dengan merancang pintu ruang tamu ke arah jalan dan membuat
dinding berbentuk jeruji ke arah carport. Kursi tamu diarahkan menghadap ke
jeruji (arah carport) dan ke arah luar (jalan), sehingga pandangan tamu/tuan
rumah lebih luas. Ini yang membuat ruang tamu kecil itu terasa luas, ruang luar
menjadi bagian dari ruang dalam.

Dari ruang tamu saya menuju ruang keluarga, terlihat ruangan lain : toilet,
dapur, taman, dan tangga menuju lantai dua. Garis-garis Gunawan yang jelas,
tegas, dan rapi mulai terasa. Semua garis tegak lurus, tapi ada satu garis
(dinding) miring di ruang keluarga. Kehadirannya terabaikan. Dinding miring ini
membatasi ruang keluarga dan toilet. Jika kita berada di ruang tamu, melihat
ke ruang keluarga, ruangan terasa luas. Ini disebabkan pandangan menerus
mengikuti dinding mengarah ke taman yang ada setelahnya. Artinya, Gunawan
memperhatikan gerakan dan arah pandang penguna, pada saat berpindah dari
satu ruangan ke ruangan lain dan ia mengatur gerakan dan arah pandang itu,
dan membayangkan kesan apa yang ditangkap oleh indera mata dan rasa apa
yang diinginkan, luas, sempit, nyaman, dan lapang. Garis miring memanipulasi
ukuran ruang.

Walau lahan terbatas, tapi di bagian belakang Gunawan menyisakan sedikit
lahan untuk taman, sehingga rumah mendapat udara segar dan sinar
penuh dari dua sisi rumah (depan dan belakang).
Tangga menuju lantai dua menggunakan railing besi berwarna perak, meliuk-
liuk, railing besi itu seharusnya dilapisi kayu pada pegangannya, mengikuti
bentuk railing, tapi belum sempat dibuat.

Di lantai dua terdapat dua kamar anak, toilet, dan ruang keluarga. Balkon
digunakan untuk jemur pakaian. Saya mengarahkan pandangan ke dinding kaca
lebar dengan bingkai kayu yang membatasi ruang dalam dan ruang luar, khas
Gunawan, dan di bagian bawah dinding kaca itu, ventilasi, seperti jendela tapi
terbuka.




No comment for 93. Desain Rumah Wisnu bab 21a

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>