43. Murid bab 8e : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 43. Murid bab 8e

43. Murid bab 8e

(149 Views) Agustus 8, 2022 10:51 pm | Published by | No comment



perancangan V sekaligus memegang satu kelompok, selain fasilitator yang lain.
Kemas tidak berada di dalam kelompok yang fasilitatornya Gunawan.
Kemas merancang apartemen, karena site itu kebetulan cocok untuk hunian.
Kata Kemas, “Saya mendapat fasilitator yang sangat tidak menyenangkan,
ndak pernah senyum, jarang bicara. Saya sudah bikin bagus-bagus. Menurut ia
peletakan monumen tidak kelihatan dari dalam. Jadi kesannya kurang kuat dan
langsung dibanting. Saya dapat C. Padahal sudah bagus.”

”Terus terang Pak Gun itu termasuk dosen killer menurut sebagian orang. Waktu
masih mahasiswa, hubungan kita belum terlalu dekat, ada jarak. Image beliau,
dosen seperti ”dewa” itu belum pupus. Tapi sesudah saya lulus dan menjadi staf
di sini, itu (hubungan Gunawan dan Kemas, tidak lagi sebagai mahasiswa dan
dosen) sangat berubah drastis.”

“Saya masuk ke sini karena di encourage oleh Pak Gunawan. Saya sudah masuk
(jadi dosen UI) tapi kaki saya masih di luar (kerja di konsultan arsitektur). Jadi
waktu zaman Pak Gunawan memang banyak dosen yang punya dua aktivitas.”
Banyak dosen-dosen muda yang disekolahkan, pada saat itu, (sekolah lanjutan
mengambil master dan doktor) ke luar negeri. Gunawan membantu dosen
muda yang ingin sekolah ke luar negeri dengan menjelaskan kepada mereka
bagaimana cara menilai dan menulis diri sendiri dalam statement of purposes,
yang biasanya berisi : latar belakang keluarga, hobi, kenapa tertarik mengambil
program tersebut, dan pengalaman apa saja yang pernah dilalui. ”Semua Pak Gun
yang koreksi. Bahasa Inggrisnya sekalian. Untuk melatih sensitivitas kita. Melatih
cara berfikir kita lebih dalam; yaitu kombinasi antara subjektivitas hati kita, dan
subjektivitas dari fikiran kita. Dan itu sangat menarik,” kata Kemas.

Tahun 1997, salah satu dekan fakultas teknik, menginginkan agar dosen
berkonsentrasi hanya mengajar di UI, tidak bekerja atau mengajar di tempat lain.
“Saya waktu itu masih bekerja di konsultan Pak Karnaya, dan ditawarkan oleh Pak
Gunawan untuk jadi asisten ketua jurusan bidang kemahasiswaan. Tapi syaratnya
saya harus melepas pekerjaan profesional. Akhirnya saya lepas.”
Sejak saat itu Kemas sering berinteraksi dengan Gunawan.

“Pak Gunawan tidak hanya mentransfer ilmunya pada dosen muda dan mahasiswa, tetapi juga
pada lingkungan sekitarnya. Beliau memberi semangat, memberi pengarahan,
serta memberi bantuan ketika kita melakukan penelitian-penelitian di daerah,
misalnya saat ekskursi mahasiswa ke daerah Timur, untuk melakukan riset tentang arsitektur vernakular.”
Salah satu nasehat yang masih diingat Kemas, pada saat meneliti adalah :
seorang peneliti seolah- olah menjadi manusia primitif (primitive man) artinya
orang yang tak tahu apa-apa. Kemas mencontohkan,”Misalnya kita bertanya
pada penduduk setempat tentang meja, pertanyaannya bukan ”Meja ini bahasa
setempatnya apa? Tapi Ini apa?” Biasanya mereka akan jawab dengan bahasa
lokal. ”Ini watu (batu),” menggunakan terminologi masyarakat lokal, bukan
terminologi kita.”




No comment for 43. Murid bab 8e

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>