115 Pengalaman Gunawan Tjahjono Jadi Juri Sayembara Arsitektur bab 24i : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 115 Pengalaman Gunawan Tjahjono Jadi Juri Sayembara Arsitektur bab 24i

115 Pengalaman Gunawan Tjahjono Jadi Juri Sayembara Arsitektur bab 24i

(659 Views) Agustus 14, 2022 3:38 am | Published by | No comment



“Saya harus punya orisinal ide. Saya puas. Walau tidak menang. Begitu Fitri.
Saya bilang ke Emil, saya yakin, “Kalau kamu juri, saya menang, “O iya Pak. Saya
memang yang menjunjung tinggi idenya,”kata Emil.”
“Tunggu… bila saya menjadi peserta, pasti akan mengikuti TOR,” ujar saya
berandai-andai.
“Iya, saya kan tidak,” jawab Gunawan pe de (percaya diri)

Diam…
Seperti memikirkan sesuatu.
Tiba-tiba terdengar suara tawa. Tawa Gunawan dan saya.
“Pantes Pak Gun tidak menang,” ujar saya santai.
Gunawan sewot, dengan nada tinggi ia berkata,”You ingin bikin arsitektur
seperti apa. You punya statement apa. Buat saya itu yang lebih penting. Saya
tidak ingin membeo-beo. TOR itu kan Cuma rambu-rambu.”
“Lihat. Ikuti contohnya. Apa itu. Masa saya ikuti contoh. Tidak orisinal dong.”
Masih sewot.

“Saya berani bertaruh semua pasti akan ikuti TOR. Bikin ini (membangun area
peristirahatan di kanan kiri jalan tol) akan mengancurkan lahan-lahan.”
Gunawan mulai reda dan dengan suara lebih rendah berkata “Itu (rancangan
yang ia buat dengan timnya) sangat liar. Tapi sebetulnya bukan juga tidak ikuti
TOR. Cuma tidak mau dengar yang dianjurkan TOR.”
“Lalu untuk apa TOR itu dibuat kalau semua peserta tidak mengarah ke situ?,”
tanya saya dengan sikap biasa. Tidak mendukung atau menolak argumentasi
yang baru saja disampaikan Gunawan.

Padahal dalam hati, diam-diam saya setuju dengan cara pikirnya (tidak suka
semua lahan dibangun, harus ada lahan terbuka hijau). Bahwa harus ada yang
baru. Harus memikirkan lingkungan dan keadaan sekitarnya. Harus orisinal dan
tidak perlu mengikuti apa yang sudah ada.



“TOR itu dibuat untuk rambu-rambu saja, sebenarnya ia (panitia sayembara)
juga mengharapkan ada yang bagus. Kalau semua sudah dituangkan, tidak usah
ada sayembara. Bikin saja sesuai TOR.”
Saya jadi ingin tahu, apa ya isi TOR sayembara gerbang tol dan area istirahat jalan
tol Kanci-Pejagan yang diselenggarakan PT. Bakriland Development, Tbk dan IAI itu.
Saya ingat Saifuddin Zuhri, teman kantor, ia ikut sayembara itu, saya mau minta TOR
ke ia. Mudah-mudahan masih disimpan.

Saat bertemu di bedah buku tentang arsitektur di Bentara Budaya, Jakarta. saya
tanya, Apakah ia masih menyimpan TOR sayembara gerbang tol Kanci-Pejagan.
“Masih,” ujarnya. Ia sempat bertanya untuk apa? saya hanya tertawa, sambil
menjawab diplomatis “Ada deh.” Saya memberikan alamat email dan besoknya TOR
itu sudah nangkring di inbox. Dengan penasaran saya buka dan benar saja. TOR
Gerbang Tol itu sangat lengkap dan ada contoh area peristirahatan Illionis tollway,
Amerika Serikat. Penyelenggara menginginkan area peristirahatan berbentuk
jembatan melintasi jalan tol dan sisi kanan dan kiri tol dapat dimanfaatkan, salah
satunya untuk area parkir.

Wah…pantes saja Gunawan melanggar TOR yang telah ditetapkan. Mana mau ia
didikte seperti itu. Gunawan itu egonya tinggi. Apalagi bila berurusan dengan
rancangan. Ia pasti beda. Pasti tidak peduli dengan TOR yang mendikte itu. Walau
dengan resiko kalah dan tidak mendapat hadiah jutaan rupiah. Tapi untuk ia. Ia
selalu merasa menang.
Baiklah urusan sayembara Gerbang Tol Kanci-Pejagan kita selesaikan di sini.
Kita teruskan dengan penjurian perpustakaan UI.
“Apakah ada karya pada sayembara perpustakaan, yang dipilih oleh semua juri
Pak?”

“Ada karya yang semua juri memilih karya tersebut. Budiman kalau tidak salah.
Budiman itu banyak yang pilih.”
“Yang beda-beda itu diperdebatkan. Ada kompromi.”
Jadi tidak semua juri memilih karya yang sama. Banyak juri memilih
karya sesuai seleranya dan tentu saja banyak yang berbeda-beda. Tapi
pemenang hanya satu bukan? Pertanyaannya, bagaimana mereka berdebat,
mempertahankan seleranya, dan kuat-kuatan argumentasi mengalahkan
argumentasi rekan sesama juri. Apakah Gunawan akan selalu menjadi
pemenang (selaku Ketua Dewan Juri) atau ia sering kalah debat. Saya tidak
pernah tahu, tidak diberi kesempatan untuk tahu.




No comment for 115 Pengalaman Gunawan Tjahjono Jadi Juri Sayembara Arsitektur bab 24i

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>