79. Rumah Batu Rumah Pribadi Gunawan Tjahjono 17b : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 79. Rumah Batu Rumah Pribadi Gunawan Tjahjono 17b

79. Rumah Batu Rumah Pribadi Gunawan Tjahjono 17b

(228 Views) Agustus 13, 2022 3:40 am | Published by | No comment



*
Saat pemotretan.
Saya berada di rumah batu dari pukul 9:00 WIB sampai pukul 13:00 WIB.
Mengamati sisi luar dan sisi dalam rumah. Pagi hari, ruangan dengan mudah
terpapar cahaya matahari. Cahaya memenuhi ruangan. Semakin siang cahaya
berangsur-angsur meninggalkan ruangan (antara pukul 9:00 WIB-13:00 WIB).
Menarik. Mengikuti perjalanan cahaya, dari menit ke menit, garis-garis sinar
berjalan perlahan ke arah luar. Walau cahaya sangat terang tapi tidak terasa
panas dan bikin gerah.

Sebelum melakukan pemotretan saya memperhatikan seluruh ruangan.
Ruangan itu penuh cahaya terang dan memaksa diri untuk melakukan sesuatu.
Seakan-akan ruangan itu dirancang untuk bekerja.

Saya memandang berkeliling dan pandangan menuju ke arah luar rumah yang
dipenuhi tanaman. Ruang dalam yang intim, akrab, terkukung, menimbulkan
rasa aman, dan nyaman, menjadi lepas dan lapang ketika memandang ruang
luar yang luas tak bertepi. Tanaman yang tumbuh liar menciptakan suasana
alam yang alami.

Dinding di bagian Timur menggunakan kaca bidang lebar (pintu dan jendela).
Dinding sebelah Barat dengan material beton dengan jendela kaca ukuran
sedang. Dinding di bagian Utara terasa ringan, rapuh, modern, dan terbuka.
Sedangkan di bagian Selatan, berat, kasar, primitif dan tertutup. Area kegiatan
berpusat di bagian Utara rumah sedangkan bagian Selatan, ruang tamu, tidak
banyak kegiatan.

Jendela dan pintu dari kaca lebar menjadi pembatas hubungan antara luar
dan dalam. Pembatas kondisi terkendali dan tidak. Pembatas keteraturan dan
ketidakteraturan.



Sebagian besar benda di dalam ruangan menyerap sinar, tidak
memantulkannya, misalnya, lantai plur semen berwarna abu-abu, bangku kayu, ada meja kaca tapi berlapis taplak dan ruangan dipenuhi buku. Beda jika material di dalam ruang memantulkan cahaya, seperti lantai keramik atau ornamen porselen, membuat ruang jadi tambah silau dan panas.
Saya memandang ke atas, lantai dua, loteng dan langit-langit tinggi dan
lepas. Saking tingginya kabel lampu bohlam sampai menjulur dari atas untuk
menyinari ruang keluarga. Mungkin yang membuat ruangan terasa nyaman
langit-langit yang tinggi dan ventilasi (berbentuk bujur sangkar) yang terdapat
di dinding rumah.

Gunawan pernah mengatakan bahwa dulu ada riset tentang tingkat panas
di dalam rumah, yang meriset, Veronica I Soebarto dosen dari Universitas
Adelaine. Wah..kalau ini, kesimpulannya lebih ilmiah.

Gunawan menyarankan saya untuk mencari tulisannya di majalah Kilas tahun
2000 (Jurnal Arsitektur UI). Aduh…. pasti ribet mencari majalah sebelas tahun
lalu. Minta tolong Google saja. Pertama, cari dulu email Veronica. Ketemu.
Email. Veronica memberikan paper itu dalam bentuk pdf. Senangnya. Saya
juga cari paper itu di dunia maya. Ketemu lagi. Kata Veronica,” That ’s another
one.” Saya dapat dua paper dalam waktu satu jam saja.
Ini kira-kira isi kedua paper itu:

Pertama berjudul “Thermal Comfort Study in a Naturally Ventilated Residential
Building in a Tropical Hot-Humid Climate Region” oleh Veronica I. Soebarto and
Siti Handjarinto. Paper kedua, A “New” Approach to Passive Design for Residential
Building in a Tropical Climate” oleh Veronica I. Soebarto.




No comment for 79. Rumah Batu Rumah Pribadi Gunawan Tjahjono 17b

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>