97. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22c
(237 Views) Agustus 14, 2022 2:09 am | Published by Safitri ahmad | No comment
Rumah Wisnu, batasan antara ruang umum dan ruang pribadi juga terasa.
Untuk lantai satu, yang mengakomodasi ruang tamu, kamar tamu, ruang
keluarga, dan dapur, sifatnya lebih terbuka. Gunawan membuka pintu ruang
tamu ke arah depan (jalan), menggunakan dinding jeruji (untuk ruang tamu dan
dapur). Di lantai dua, dinding ke arah jalan ditutup dengan beton, hanya garis-
garis miring untuk melewatkan sinar matahari yang tampak, karena di belakang
dinding beton itu kamar tidur anak. Kamar tidur orang tua juga tidak ada
jendela untuk melihat jalan (kegiatan di jalan) begitu juga sebaliknya.
Posisi pintu masuk rumah Beji menghadap ke samping, ketika pintu dibuka yang
terlihat dinding. Seandainya pintu masuk menghadap jalan, akan terlihat ruang
tamu dan ruang keluarga, dan kegiatan penghuni jelas terlihat. Sedangkan
pintu rumah Wisnu menghadap jalan, dan ketika pintu rumah dibuka yang
terlihat hanya ruang tamu (ada dinding antara ruang tamu dan ruang keluarga).
Pintu masuk dipengaruhi oleh ruang yang ada di dalam rumah. Gunawan masih
mengizinkan (area/kegiatan di) ruang tamu terlihat dari jalan, tapi tidak untuk
ruang keluarga. Ia mengondisikan seseorang untuk berada di ruang umum atau
ruang pribadi. Tidak semua orang bisa mengakses ruang pribadi, baik secara
visual ataupun secara fisik.
Jika dipikir-pikir, Gunawan sangat hati-hati meletakkan jendela kamar tidur ke
arah jalan. Untuk rumah Beji, jendela kamar kerja (di lantai 1) dan kamar tidur
(di lantai 2) menghadap ke jalan, tapi jarak bangunan ke jalan yang cukup jauh
dan ditutup pohon, sehingga sulit diakses secara visual. Sedangkan jendela
kamar tidur anak, rumah Wisnu ditutup dinding beton, akan tetapi masih ada
jendela yang menghadap ke samping, tidak kentara dari jalan. Untuk kamar
tidur orang tua di lantai 3, jendela menghadap belakang. Begitu juga jendela
kamar tidur pastor, di bangunan pastoran Theresia, menghadap ke belakang.
Untuk rumah sewa Paseban, Gunawan mengarahkan jendela ke samping, area
yang sangat pribadi.
Apa yang menyebabkan Gunawan begitu tegas membuat batasan antar ruang?
Sikap apa yang ingin disampaikan? Batasan mempengaruhi cara bersikap. Jika,
saya datang ke rumahnya, saya diizinkan masuk ke ruang keluarga, begitu pun
sebagian mahasiswanya, tapi bagi orang-orang tertentu, hanya sampai ruang
tamu. Batasan, mendidik penguna dalam bersikap di dalam ruangan. Saat saya
berkunjung ke pastoran Theresia, saya dengan sendirinya mengambil sikap,
menahan diri, untuk tidak masuk ke ruang adorasi, karena merasa itu ruangan
yang bersifat khusus. Saya juga tidak berlama-lama di ruang makan, area dapur,
dan ruang tamu untuk pastor, karena merasa itu area pribadi. Berbeda ketika
saya berada di ruang tamu sekretariat, ruang kelas, dan perpustakaan, lebih
santai dan menikmati ruangannya dengan tenang.
Konsep umum-pribadi, terbuka-tertutup, juga saya rasa saat mewawancara
Gunawan untuk buku ini. Tidak semua pertanyaan dijawab sesuai
keinginan saya. Ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang dijawab sekedar
jawab. Gunawan bisa bicara panjang lebar, lancar, dan penuh semangat
mengemukakan pikirannya tentang pendidikan dan arsitektur. Tapi akan
berhati-hati dan memberi jawaban normatif, jika saya bertanya tentang
penilaiannya terhadap karya arsitektur yang melibatkan ia sebagai juri. Atau
pertanyaan seputar hal-hal yang berkaitan dengan arsitektur kota, yang
melibatkan ia sebagai Ketua TPAK. Ia memposisikan diri pada ruang-ruang yang
terbentuk karena jabatan, karena profesi, karena norma, dan menjawab sesuai
posisinya. Pada satu sisi ia bisa sangat terbuka, sisi lain ia bisa sangat tertutup.
No comment for 97. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22c