71. sisi lain : Arsitek Gunawan Tjahjono 14h
(214 Views) Agustus 11, 2022 3:15 am | Published by Safitri ahmad | No comment
“Klien saya sangat unik. Sangat sedikit. Hubungannya juga menjadi sangat
akrab.”
“Mereka banyak melihat dan kosmopolitan. Pak Nayoan juga banyak melihat.
Jangan dikira tidak. Cuma ia punya pride. Ia ingin bangun karakter ia sendiri.
Orang yang tingkat-tingkat begitu (yang mencari karakter sendiri) yang mencari
saya. Bukan orang yang hanya mau mencontoh rumah yang sudah ada.”
“Tapi, waktu itu Pak Nayoan tidak tahu rancangan Pak Gun bukan?”
“Tidak. Ia percaya dengan sekretarisnya, Ibu Titi. Jadi Ibu Titi yang bisa
meyakinkan ia.”
“Bagaimana Pak Gun mencari asisten yang membantu untuk mengerjakan semua proyek itu?
“Mereka datang sendiri. Coba saja tanya Boyke.”
Saya ngobrol dengan Gunawan di rumahnya hari Jumat tanggal 28 September
2009 pukul 9:00 WIB. Setiap hari Senin-Jumat dari pukul 9:00 – 17:00 WIB, Boyke,
asisten Gunawan, membantu mengerjakan semua proyeknya, salah satunya proyek
dari Santoso. Jika ingin meminjam buku, saya cukup telpon Boyke, dan ia akan
membantu mencarikannya, tentu saja setelah dapat izin dari Gunawan. Boyke
lulusan Universitas Pancasila. Sebelumnya ada Paulus yang membantu gambar
rumah Paseban. Mei Mumpuni yang mengerjakan gambar rumah Beji.
“Boyke, bagaimana awal mula jadi asisten Pak Gun?” tanya saya sambil
mengarahkan pandangan ke Boyke yang sibuk menggambar di komputer.
“Tahunya dari temannya Paulus. Paulus bilang, Pak Gun lagi butuh asisten, ya
sudah saya ke sini.”
“Pernah kenal Pak Gun?”
“Tidak kenal.Tahu Pak Gun waktu ada seminar.”
“Ok. Terima kasih.”
“Yang penting kan niat, kalau cari pastilah ketemu,” kata Gunawan.
“Kalau saya kan sebetulnya side job, di luar pendidikan (maksudnya Gunawan
lebih mendahulukan profesinya sebagai pendidik) baru saya kerjakan, dan
Boyke juga kesulitan, saya jarang di rumah, jadi ia harus segera putuskan
sendiri. Boyke, tinggalkan pesan atau saya yang tinggalkan pesan. Hanya
orang-orang hebat yang akan tetap bertahan dengan kondisi seperti ini.”
“Harus bisa baca pikiran Pak Gun,” tambah saya.
“Suasana kerjanya juga begini. Sepi. Orang yang ingin konsentrasi penuh,
bisa. Suasana kerjanya juga tidak tertekan. Tidak terlalu dikejar jadual, hanya
kadang-kadang.”
Gunawan mengerjakan semua proyek di rumahnya. Boyke menggambar sendiri,
tidak ada teman.
“Saya kebanyakan penelitian, pendidikan”
“Yang penting semuanya bisa dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Gitu
aja. Kalau Kamu terlalu banyak (proyek) susah lho untuk menghasilkan yang
mutunya bagus. Buat saya mending sedikit, tapi agak signifikan.”
“Apa Pak Gun cukup puas dengan pekerjaan kontraktor dalam menerjemahkan
gambar Bapak?”
“Saya banyak kecewa yang renovasi pastoran Theresia, karena tukangnya tidak
mampu membangun seperti yang saya minta. Suruh ke sini saja, untuk melihat
susunan batu di rumah saya tidak mau. Susunan batu pada kolom itu tidak
bagus. Konyol. Payah.”
“Pak Gun tidak mengawasi pekerjaannya?”
“Saya tidak diserahi pengawasan rutin bulanan.”
“Harli dapat kontraktor yang bagus, dikenalkan oleh Sonny (Sonny Sutanto,
arsitek). Kalau kontraktornya tidak bagus, akibatnya ya tidak sebaik itu dan
kontraktor rumah Pak Nayoan tidak sebagus yang Harli. Kontraktor yang Harli
itu memang yang paling bagus.”
“Apanya yang bagus?”
“Ia (kontraktor) punya dedikasi yang tinggi untuk menghasilkan mutu yang
bagus, si kontraktor itu harus begitu.”
“Kontraktor itu mengikuti persis apa yang digambar arsitek, tidak jarang
kontraktor salah menerjemahkan gambar arsitek?”
No comment for 71. sisi lain : Arsitek Gunawan Tjahjono 14h