31. Belajar Gaya Amerika bab 6c : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 31. Belajar Gaya Amerika bab 6c

31. Belajar Gaya Amerika bab 6c

(230 Views) Agustus 7, 2022 11:40 pm | Published by | No comment



”Saya banyak membaca buku, jadi saya punya kesempatan yang paling up date,
sampai sekarang saya masih mengembangkan itu. Akses internet, saya selalu
lakukan. Anda agak susahlah, bukan berarti tidak bisa untuk membohongi
saya tentang suatu subjek. Saya tidak senang kalau mahasiswa tidak bisa ikuti.
Karena sistem sekarang mestinya mahasiswa yang memberitahu, lalu kita
(dosen) mencoba menilai. Amerika itu begitu.”
”Kita, dosen, punya struktur yang lebih solid saja. Ia bisa menilai, tapi
mahasiswa wajib mencari.”

”Dalam ilmu harus kritis. Itu yang penting. Selalu cari bandingan. Saya selalu
menantang mahasiswa untuk mencari yang bertolak belakang dulu (misalnya—
contoh sederhana– jika jawabannya iya, bagaimana, jika jawabannya tidak,
bagaimana). Itu kewajiban saya karena tugas saya adalah membawa orang
jadi pandai. Membawa orang jadi pandai kan mengharapkan ia melebihi kita
lho. Tapi untuk bisa bertahan kita sendiri harus up grade terus. Oleh sebab
itu, anak-anak (dosen muda) yang baru pulang dari luar negeri (setelah sekolah
S2 atau S3) mereka masih menghargai saya. Mungkin karena saya sangat up
date. Itu saja. Biasanya kan orang pulang dari luar negeri ”Wah saya sudah
hebat ” tapi ketika berhadapan dengan saya mereka bingung. Itu yang penting
menurut saya.”

”Kalau sudah mendapatkan didikan dari Pak Gun kenapa mesti jauh-jauh ke
Amerika?”
”Tidak.”
”Harus.”
”Lain.”
”Yang namanya atmosphere academic itu Anda tidak bisa dapat di sini. Yang
tadi saya bilang, orang-orangnya berasal dari latar belakang yang berbeda,
kalau diskusi membawa background, culture masing-masing. Value nya banyak
beda. Bagaimana bisa Anda dapatkan di sini? Semua sama. Anda dengar yang
sama, dengar dong dari orang lain. Pasti lain, asyik.”
”Walaupun buku yang dibaca sama?”
”Iya.”
”Buku itu ditafsir pada saat orang baca, waktu Kamu tafsir itu, Kamu membawa
nilai Kamu, lalu keluar lagi melalui omongan, supporting background Kamu itu
culture-nya apa. Culture itu berhubungan dengan values.”
”Waktu kedatangan ke-2 untuk mengambil gelar Ph.D, Pak Gun membawa
keluarga?”
“Iya.”

“Ada family student housing. Saya apply. Saya diminta tunggu 3 bulan baru
boleh masuk. Saya datangnya terlalu cepat. Besoknya saya bawa semua
keluarga. Anak saya masih ingusan. Lalu, advisor-nya cari. Besok masuk. Tidak
perlu tunggu 3 bulan. Orang sana itu baik.”
”Saya di Amerika pernah lihat kasus : ada orang nabrak hidran. Saya ingin tahu
bagaimana cara ia menyelesaikan. Ia tenang saja. Ia telpon. Kira-kira 15-30
menit datang pick up. Berhenti. Petugas yang datang dengan pick up itu
membuka peta blue print. Satu tempat hidran yang lain ia buka dan kunci. Air
yang mengalir dari hidran yang ditabrak lalu dikunci lagi. Sudah. Tidak sampai
setengah jam. Kalau di sini, bisa berminggu-minggu.”



”Kalau bikin California ID (di Indonesia, Kartu Tanda Penduduk), cuma 5 menit,
isi formulir, difoto, jadi. Tapi kamu tidak bisa ambil. Kartu California ID itu
dikirim ke rumah. Simpel. Malah value- hubungan antara manusia dengan
manusia-, di sana justru lebih bagus.”
”Pak Gun suka sama mahasiswa yang mencatat?”
”Suka, itu suatu kebaikan menurut saya. Melatih kecermatan. Ada bukti.
Kenapa kita ketinggalan dibanding orang Barat? Karena orang kita itu tidak
suka mencatat.”
”Saya ingat waktu anak yang diasuh oleh istri saya (istri Gunawan merawat
balita yang dititipkan), datang ke sini, orang tuanya ada kebiasaan membawa
anaknya jalan-jalan. Anaknya sudah mulai besar. Usia 5 tahun, ditangannya ada
buku kecil, datang ke museum, menggambar apa yang ia lihat. Kalau anak-anak
kita, dibiarkan tidak mencatat, sampai mahasiswa mengandalkan ingatan…
omong kosong….”

”Banyak hal yang saya pelajari saat belajar di Amerika, seperti yang saya
ceritakan ke kalian di kelas, bahwa anak Amerika yang berusia satu tahun atau
satu setengah tahun, belajar makan sendiri. Mereka didudukkan di kursi kecil,
dicantolkan ke meja, sehingga tidak bisa bergerak. Ada makanan di depannya
dan ambil sendiri. Tidak disuapkan. Itu kalau dipelihara sekian bulan, Anda
suapi ia tidak mau. Sangat berbeda dibandingkan anak kita yang selalu disuapi
terus.”

”Jadi yang membuat suatu bangsa itu mau maju karena nilai, sikap, serta
keyakinan. Kenapa ada bangsa tertentu di manapun mereka berada bisa
maksimal, di salah satu buku disebut : Yahudi, Cina, Jepang, karena ia punya
nilai yang dipegang, yang membuatnya, mendorong ia untuk maju. Sikap tidak
boleh malas, sikap bahwa kerja itu adalah baik. Kita tidak merekayasa itu di
tanah air kita.”
”Saya punya kewajiban merekayasa mahasiswa saya.”
”Merekayasa?” tanya saya hati-hati.
”Harus mengubah sikap mereka, dari yang sok tahu menjadi mencatat, tidak
mencatat maka nilainya tidak ada,” tegas Gunawan.




No comment for 31. Belajar Gaya Amerika bab 6c

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>