107 Pengalaman Gunawan Tjahjono Jadi Juri Sayembara Arsitektur bab 24a
(282 Views) Agustus 14, 2022 3:21 am | Published by Safitri ahmad | No comment
Gunawan sering menjadi juri sayembara arsitektur, baik di dalam maupun di
luar negeri. Saya ingin tahu bagaimana ia menilai dan menentukan pemenang
pada setiap sayembara. Dalam tulisannya ”Karya Rancang Anugrah IAI DKI
dan Arsitektur di Indonesia: Suatu Catatan Pantulan” yang dimuat di majalah
memoiai edisi 09/2007 hal. 5, iamenjelaskan pandangannya pada saat menjadi
juri pada karya rancang anugrah IAI DKI 2006, penghargaan yang diberikan oleh
Ikatan Arsitek Indonesia cabang DKI Jakarta.
Gunawan menjabarkan proses penjurian, namun tidak secara rinci menjelaskan
alasan pemilihan pemenang. Pada saat itu jurinya : Sandi A. Siregar, Sardono
W. Kusumo, Marco Kusumawijaya, dan Gunawan Tjahjono, serta seorang juri
dari Singapura Chan Soo Kian.
Penilaian berdasarkan kerangka acuan yang dibuat panitia pelaksana anugerah
karya rancang IAI DKI. Namun tak ada karya peserta yang mampu memenuhi syarat
yang telah dibuat panitia sehingga juri mengacukan kerangka acuan baru dalam
melakukan penilaian, yaitu estetika tinggi, menjawab tantangan sosial budaya,
dan sumbangan terhadap perkembangan arsitektur Indonesia. Juri akhirnya
menurunkan asanya ke : perhatian terhadap tantangan yang dihadapi, kepekaan
terhadap sistem eko, penghindaran pengulangan, dan taat peraturan bangunan.
Penjurian terdiri dari 2 tahap. Pada tahap pertama, juri yang berasal dari Indonesia
tidak menemui kesulitan menetapkan enam finalis. Akan tetapi penilaian yang
dilakukan oleh Chan Soo Khian sebagai juri tunggal, berbeda dari penilaian juri
Indonesia. Untuk itu, Gunawan mewakili juri dari Indonesia, bersama Chan Soo
Khian menilai ulang, dengan menghadirkan kerangka acuan tambahan isu: seberapa
penting lokalitas dipertahankan dalam perkembangan arsitektur? Apa yang salah
dengan atap datar? Apakah yang dinilai itu kecenderungan dunia tahu inovasi baru
Dan apakah tak dapat mengulangi idiom sendiri?
Hasilnya para juri sepakat bahwa tak ada penjelasan konsep yang menonjol. Karya-
karya lebih merupakan penyempurnaan, dari yang pernah dibuat sendiri atau
terinspirasi oleh sumber lain di luar Indonesia. Terlepas dari keterbatasan itu,
akhirnya hanya terdapat dua karya yang betul-betul luput dari perdebatan. Sisanya
adalah hasil suatu kompromi yang cukup melelahkan.
Lalu, bagaimana Gunawan menilai berdasarkan kerangka acuan yang telah
ditetapkan panitia? Bagaimana ia berkompromi dengan juri yang tidak
semuanya berlatar pendidikan arsitektur? Bagaimana ia mengomunikasikan
pendapatnya dan mengakomodasi pendapat dari juri yang lain? Dan yang selalu
membuat saya penasaran bagaimana Gunawan menilai sebuah karya layak
menang dan mengalahkan yang lain?
Untuk mengetahui lebih dekat bagaimana Gunawan menentukan pemenang
dalam sebuah sayembara, dan berkompromi dengan juri yang lain, maka saya
harus mengikuti jalannya penjurian. Dalam waktu dekat sayembara apa yang
akan dilaksanakan dan apakah Gunawan terlibat dalam penjurian tersebut?
Dari milis IAI (Ikatan Arsitek Indonesia) saya temukan bahwa akan diadakan
sayembara perancangan gedung perpustakaan pusat, pusat kegiatan
mahasiswa dan bisnis akademik dan gedung kuliah bersama di Kampus
UI Depok. Wah, pucuk dicinta ulam tiba. Pasti yang jadi ketua juri untuk
sayembara itu Gunawan Tjahjono. Siapa lagi. Gampang benar ditebak. Benar
saja. Tertulis Ketua Dewan Juri: Prof.Ir. Gunawan Tjahjono, M.Arch.PhD. Kalau
ada sayembara arsitektur di lingkungan UI, perasaan, Gunawan terus yang jadi
Ketua Dewan Juri, apa tidak ada yang lain?
Saya pikir akan lebih mudah menjadi pengamat pada proses penjurian
sayembara ini, karena yang mengadakan sayembara Universitas Indonesia dan
Gunawan menjadi Ketua Dewan Juri. Ketua panitia: Emirhadi Suganda, dosen
arsitektur UI. Tentu panitia dan Gunawan akan senang hati membantu, tapi
rupanya tidak segampang perkiraan.
Saya sampaikan keinginan itu ke Gunawan melalui email tertanggal 12
Desember 2008. Saya ingin melihatnya menjadi juri agar bisa menuliskan
secara lengkap bagaimana ia menilai dan berdebat dengan juri lain. Apa alasan
yang diberikan ketika seseorang menjadi pemenang atau pecundang? Saya
perlu hadir agar tulisannya menjadi hidup dengan penggambaran situasi pada saat penjurian.
Esok-nya email itu berbalas.
No comment for 107 Pengalaman Gunawan Tjahjono Jadi Juri Sayembara Arsitektur bab 24a