84. Rumah Batu Rumah Pribadi Gunawan Tjahjono 17g : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 84. Rumah Batu Rumah Pribadi Gunawan Tjahjono 17g

84. Rumah Batu Rumah Pribadi Gunawan Tjahjono 17g

(260 Views) Agustus 13, 2022 3:54 am | Published by | No comment



Ketiga lantai itu mengacu pada Timur dan Barat. Bersinar dan Tenggelam.
Menaik dan menurun. Kamar anak laki-laki berada di sisi Timur yang
menggambarkan pertumbuhan anak menuju dewasa. Kamar tidur orang tua
dan ruang kontemplasi berada di sisi Barat, sesuai kodrat semakin bijaksana.
Terdapat ruang tambahan, satu di kanan (ruang toilet) dan satu di kiri (ruang
cuci), menempel pada rumah, seperti daun telinga. Simetris.

Tugas berikutnya mencari tahu alasan perancangan.
Satu pertanyaan mendasar untuk saya yang tidak pernah bermukim di rumah
bertingkat, kenapa tanah seluas itu harus dibuat bertingkat? Capek bukan naik
turun tangga?

“Kenapa rumahnya harus bertingkat? Padahal tapaknya masih sangat luas,
Pak?”
“Saya tahu, tetangga saya pasti akan penuhi itu (tetangga pasti akan
membangun semua tapaknya, tidak menyisakan tapak untuk ruang terbuka
hijau) dan saya kan punya concern terhadap lingkungan yang cukup besar.
Berdosa saya, kalau habisin tanah untuk rumah. Lebih baik saya bikin oksigen
(maksudnya bukan membuat oksigen ya, tapi menanam tanaman penghasil
oksigen). Saya bukan anak muda, yang… ada tanah langsung bangun.”
”Sedikit saja, tapi menekankan karakter. Jadi menakutkan.”
”Bagaimana membuat program ruangnya?”

”Kalau rumah tinggal harus fit dong. Ada berapa anaknya? Bagaimana cara
hidupnya? Saya kan yang penting di semua ruangan saya bisa kerja, di ruang
makan, di mana-mana harus ada colokan. Sekarang zaman digital, sudah
diantisipasi.”



”Tapi ruang tamu saya tetap ada sekat, kalau tamu yang lebih ini (lebih dekat,
lebih akrab) … baru masuk, tidak mungkin semua. Sekatnya masih transparan.
Orang masih bisa lihat. Kalau sudah berada di ruang dalam, areanya berbeda.
Itu mengubah watak anak-anak saya juga. Kalau mereka ada di bawah, mereka
jadi rapi.”

”Rumah saya kelihatannya lumayan abadi. Sampai sekarang masih banyak
wartawan yang mau meng-cover (meliput). Kemarin masih ada (Gunawan
menyebutkan nama majalah) yang minta, tapi istri saya keberatan. Saya
harus perhatikan perasaaannya, karena ia harus membereskan lagi. Merasa
terganggu. Sudah terlalu banyak. Pusing.”

Majalah Indonesia Design, Koran Tempo, Majalah Laras, Majalah Argo (Kereta
Api), Trans TV, SCTV, Indosiar, O TV, sebagian media yang pernah meliput.
”Kenapa kamar anak hanya dua : satu untuk perempuan dan satu untuk laki-
laki, padahal ada tiga anak?”

”Tadinya yang laki-laki ada dalam satu kamar, makanya kamarnya lebih besar,
karena waktu itu, anak-anak laki-laki belum semuanya dewasa. Ary (bungsu)
masih SMA. Akhirnya ia menuntut. Kasih ia di atas (lantai 3).”
”Tapi kalau nanti kakaknya menikah (Aji, sulung), kakaknya harus keluar (pindah
rumah). Tidak ada kamar pembantu, ngapain ada pembantu. Istri saya sekarang
menuntut. Akhirnya kita pakai yang jam-jam-an.”

”Rumah itu sudah lama (sejak tahun 1996), tapi tidak menunjukkan kelamaan,”
kata saya.
”Bagus kan, itu yang tidak bisa dipahami arsitek muda. Kualitas itu.”
Gunawan tidak menyediakan teras untuk duduk-duduk. Semua kegiatan
dipusatkan di dalam rumah. Jika ada kegiatan ruang luar dilakukan di halaman
belakang.

Setelah menikmati rumah, mempelajari gambar, membaca tulisan Gunawan,
membaca penelitian Veronika, dan wawancara, saya mengambil kesimpulan
Gunawan konsisten terhadap konsep yang telah ditulis dan itu tergambar pada
bentuk fisik rumah. Tidak lari dari konsep awal.




No comment for 84. Rumah Batu Rumah Pribadi Gunawan Tjahjono 17g

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>