77. Menelusuri Gunawan Tjahjono Karya bab 16d : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 77. Menelusuri Gunawan Tjahjono Karya bab 16d

77. Menelusuri Gunawan Tjahjono Karya bab 16d

(232 Views) Agustus 11, 2022 9:11 am | Published by | No comment



Untuk rumah sewa, lebih mudah diakses. Saya membaca alamat dan pemilik
rumah sewa itu pada denah (pada gambar denah terdapat lokasi bangunan
itu). Saya datangi saja rumah itu, mudah menemukannya, tidak sulit. Di
daerah Paseban, Jakarta Pusat. Rumah itu tertutup pagar rapat. Hanya
terlihat atap dan dinding bagian depan rumah. Sudah terasa tangan Gunawan
mempengaruhi bangunan itu. Saya bel. Seorang ibu membukakan pintu, saya
sampaikan keinginan melihat rumah sewa. Beliau mengantarkan saya masuk.
Mata saya langsung tertuju pada jeruji warna warni. Merah. Ungu. Biru. Hijau.
Orange. Merah. Gradasi warna dari muda ke tua. Alamak colourful kali seperti
iklan cat.

Bagaimana dengan rektorat, tentu lebih mudah lagi diakses. Dulu, sebelum
memutuskan untuk menulis buku, saya pernah menulis ”Arsitektur Rektorat
UI ” untuk harian Jurnal Nasional, tahun 2006. Untuk tulisan itu, saya harus
mengamati bangunan dan wawancara Gunawan.

Saya juga mendapatkan tulisan Gunawan, ”Gedung Pusat Administrasi
Universitas Indonesia : Pandangan Perancang Utamanya” di dalam buku
”Tegang Bentang Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia” Buku ini
saya temukan di rumah Soewondo Bismo Soetedjo. Soewondo memperlihatkan
buku itu ke saya.

Selanjutnya, saya meminta kesediaan Gunawan menjelaskan konsepnya
langsung pada tapak. Ia menjanjikan Pukul 15:00 WIB hari itu. Pertama
Gunawan mengajak saya menuju ruang hening, ”Orang-orang menyebutnya
Shaolin Temple,” taman berbentuk segi empat yang terletak di bagian depan
rektorat.

Ada banyak pot dengan bunga bougenville warna-warna di taman itu. ”Apakah
Pak Gun yang merekomendasikan peletakan bunga bougenville itu?” tanya saya
memandang bunga bougenville warna-warni itu.
Gunawan menggeleng.



Tak lama mata kami tertuju ke pohon glodokan tiang-Polyalthea longifolia
pendula (yang terletak di dekat tiang bangunan). ”Pohon itu akan semakin
tinggi dan saya agak khawatir cabang pohon dapat menerobos atap Pak,” ujar
saya, memberi komentar sebagai seorang arsitek lansekap.

Gunawan memandang pohon itu. Tidak berdaya. Entah siapa yang sok tahu
dan menanam pohon glodokan tiang di samping tiang bangunannya. Entah
siapa pula yang memerintahkan bougenville warna-warni di ruang hening yang
seharusnya kosong. Konsepnya saja hening, kenapa diberi bunga warna warni
yang memberikan kesan dinamis dan riang? Hilang dong kesan hening yang
ingin disampaikan.

Saat kami berdiri di Shaolin Temple beberapa orang staf rektorat pulang,
karena memang waktunya pulang kerja. Mereka menghampiri Gunawan,
bersalaman dan bertegur sapa. Di antaranya mengajak bicara. Tidak bermaksud
ingin tahu, tapi saya berdiri di sana. Mau tidak mau isi pembicaraan terdengar
dan saya tulis di sini.

”Pak kami ingin pasang AC. Panas Pak. Kalau jendelanya dibuka, anginnya
bertiup kencang hingga menerbangkan kertas-kertas.”
Jawab Gunawan,”Bangunan ini tidak dirancang untuk penggunaan AC, tapi
penggunaan penghawaan alami. Ada cara lain, dibuat ventilasi tambahan di
bawah jendela.”
Komentar penguna dan jawaban arsiteknya pada bangunan yang dirancang
sejak tahun 1984.




No comment for 77. Menelusuri Gunawan Tjahjono Karya bab 16d

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>