14. Silabus bab 3e : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 14. Silabus bab 3e

14. Silabus bab 3e

(270 Views) Agustus 6, 2022 12:51 am | Published by | No comment



”Itu pertanyaan yang pasti tidak akan menemukan
jawaban. Mahasiswa tidak siap dalam keadaan
relatif. Mereka selalu membutuhkan jawaban yang
absolut. Saya ingin memberikan pilihan jawaban pada
mahasiswa. Yang paling penting itu adalah logical
truth. Jangan memberi jawaban dari salah satu sisi
saja, dan lagi saya tidak pandai menjelaskan.”
”Apakah Pak Gun selalu menginginkan saya, mencari sendiri jawaban yang saya
inginkan?”

”Arahnya ke situ, yang penting knowledge itu didapat menurut/melalui
perjuangan Anda, Anda harus mencari jawaban. Itu susah. Mahasiswa dipacu
untuk mencari dan belajar. Yang tidak kuat (yang biasa memperoleh jawaban
dari dosen) memang bisa down. Tapi memang ada beberapa orang yang survive
juga.”

”Bagi saya, sangat menyenangkan menebak-nebak cara pikir Pak Gun. Mencoba
memahami apa yang Bapak maksud. Jadi semangat. Jadi ingin tahu.”
”Saya lihat, mahasiwa dengan saya cuma ada 2 golongan : yang benci dan yang
suka, yang tengah-tengah itu tidak ada.”

”Pernah seorang mahasiswa mengangkat tema reaching the high, tapi tidak
mengerti bagaimana menerapkan tema itu ke rancangan. Saya minta ia loncat-
loncat. Ia bingung kenapa mesti loncat-loncat. Saya suruh temannya foto
saat sedang loncat-loncat, dari foto itu ia bisa mendapat gambaran dari tema
reaching the high itu.”
“Harus berpikir liar, kalau konvensional tidak dapat yang baru. Begitu cara saya
mendidik. Pasti bingung.”

“Semua ilmu itu akan menjadi pengetahuan Anda, kalau Anda sudah mengalami
keraguan. Baru Anda yakin. Kalau terima begitu saja (sambil geleng-geleng).”
“Jadi ilmu pengetahuan itu sangat berbeda. Dan yang namanya acquisition of
knowledge, kalau Anda sudah bisa menantang pendapat yang lama, baru bisa
yakin menerima yang baru. Lalu ia menjadi knowledge baru. Pengetahuan
mempunyai tantangan – tantangan tertentu.”



“Kadang-kadang ada paradigma yang dianggap progresif. Tidak pernah
pandangan itu yang kita sebut benar, yang benar itu adalah caranya, Logical
sequence. Scientific truth itu mengikuti logika. Bukan truth dalam content-nya.
Makanya science itu selalu ikut program. Ia tidak sama dengan agama. Agama
itu memakai faith. Yakin. Believe. Kalau science itu selalu dipertanyakan. Tidak
pernah absolut. Dalam menyelenggarakan pendidikan di S2, ya saya ikuti yang
scientific method yang selalu membuat orang ragu.”

“Kalau terjun ke bidang pendidikan, memang begitu caranya. Kita selalu open
minded. Ada yang baru, kita tes dulu. Tidak menolak pengetahuan baru itu.
Ternyata pengetahuan baru itu bisa menjelaskan pertanyaan-pertanyaan yang
muncul. Kita terima. Tapi kalau pengetahuan baru itu belum bisa menjelaskan,
berarti belum progresif, dibandingkan dengan pengetahuan saya yang lama.”

”Biasanya untuk menjelaskan pengetahuan itu, ada yang sangat rumit. Ada yang
sangat elegan, yang elegan ini biasanya sangat progresif. Orang lebih gampang
menilai, misalnya teori Einstein E=mc2. Sangat sederhana. Tapi bisa menjelaskan
banyak hal. Ia sederhana. Ia elegan. Dan ia yang menang.”

“Bagaimana cara Pak Gun membangun cara berpikir mahasiswa?”
“Gampang. Saya tantang saja. Tanya mengapa? Jelaskan.”
“Apakah pada pertemuan awal, Pak Gun sudah mendapat gambaran mahasiswa
yang sedang Bapak hadapi?”
”Belum bisa mendapat gambaran lengkap sih. Ada mahasiswa yang slow starter.
Ada yang cepat tanggapi, tapi ia tidak in depth. Slow starter ia dengar. Ia serap.
Tapi ada orang yang bicara dulu, tapi isinya tidak ada.”

”Dari mana gambaran mahasiswa yang slow starter dan si cepat tanggap tapi
tidak in depth itu Bapak ketahui? Apakah dari diskusi kelas?”
”Gambaran itu akan muncul pada saat ada tugas. Tidak dari class discussion.
Class discusion itu spontanitas. Gambaran itu belum bisa saya tentukan. Tapi
kalau menilai mahasiswa ini aktif. Ini kurang. Itu bisa.”
”Bagaimana menghadapi mahasiswa dari berbagai latar belakang pendidikan
seperti teman-teman saya di S2 Kajian Perkotaan itu?”

”Saya harus set kondisi mereka itu nol. Dari nol, mereka harus bisa mencapai
kondisi tertentu. Saya punya konsep tersendiri untuk pencapaian itu. Yang bisa
saya adjust, pada saat ada tugas. Jadi sebenarnya ada prakonsepsi pada saat
menyusun tugas.”




No comment for 14. Silabus bab 3e

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>