96. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22b : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 96. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22b

96. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22b

(231 Views) Agustus 14, 2022 2:07 am | Published by | No comment



Sejujurnya saya tak paham, apa benar yang dimaksud dengan achetype, dan
tidak berusaha sok tahu. Yang ingin saya sampaikan bagaimana karakter yang
mempresentasikan diri seseorang terpapar dalam bentuk fisik, karya arsitektur.
Saya mencoba mereka-reka dan menghubungkan karakter, pengalaman,
pandangan, waktu, image yang terekam, dan cara hidup Gunawan ke dalam
bentukan arsitekturnya.
PERUB A H A N

Sebelumnya saya akan paparkan perubahan dari gambar ke bentuk terbangun
dengan berbagai alasan. Semua karya mengalami perubahan. Rumah
tinggal (Beji) berubah dengan penambahan garasi di depan rumah. Rektorat
mengalami perubahan pada saat pembangunannya. Pada saat pelaksanaan,
rumah lift menabrak atap, agar tidak mengubah bentuk bangunan maka
diputuskan menutup dinding tempat matahari masuk. Taman di depan gedung
rektorat (ruang hening) tidak sesuai dengan konsep awal. Tidak direncanakan
pot bunga warna-warni.

Pemilik rumah sewa paseban menambahkan ruang di lantai-3 yang tidak
dirancang Gunawan, dan itu berarti, diperlukan jendela pada dinding belakang
untuk sirkulasi udara dan memasukkan sinar matahari ke lantai-3.
Bagaimana dengan renovasi pastoran Theresia? Ruang cuci yang seharusnya
terletak di dalam bangunan ditiadakan dan ruang cuci diletakkan di luar
(menempel pada bangunan). Fasad bangunan bagian belakang berubah dengan
penambahan ruangan ini.

Sedangkan rumah Wisnu, terjadi perubahan fasad dan jumlah jenjang/lapis
taman atap. Di gambar ada 9 jenjang/lapis taman atap, yang dibangun hanya
3 lapis. Kemudian di lantai 1, dinding ruang tamu dan kamar tamu seharusnya
menjorok ke dalam/keluar untuk penempatan kursi tamu di ruang tamu dan
lemari di kamar tidur. Pada kenyataannya, hanya dinding lurus yang terlihat.
Tentu berbeda, perubahan yang dilakukan dengan campur tangan Gunawan
dan yang bukan. Tujuan awal yang ingin dicapai tidak terwujud, walaupun
perubahan yang dilakukan tak besar. Misalnya, rumah sewa Paseban yang
tujuan utamanya menutup dinding bagian belakang untuk menutup akses
(visual) ke area pemilik rumah, ketika dibuat jendela, aksesnya (secara
visual) terbuka. Atau ruang cuci di Pastoran yang menempel di luar bangunan mengubah bentuk bangunan secara keseluruhan.



UMUM DA N PRIB A DI
Dalam merancang, Gunawan membagi ruang berdasarkan ruang umum dan
ruang pribadi. Ia membagi secara tegas ruang itu dalam bentuk fisik (melalui
: pagar dan dinding) atau area kegiatan (area ruang tamu, ruang keluarga,
dapur).

Untuk rumah Beji, ia memisahkan ruang dalam (rumah) dan ruang umum
(jalan), dengan menghadapkan pintu masuk rumah ke samping (tapak samping),
sehingga pada saat pintu dibuka tutup, kegiatan di dalam rumah tidak terlihat
dari jalan.

Rumah sewa Paseban, dari luar (jalan) hanya tampak dinding bagian depan dan
atap, sedangkan pusat kegiatan berada di kiri dan kanan (Barat-Timur) rumah.
Barat dan Timur rumah pun dibatasi lagi dengan jelas, tamu berada di bagian
Barat dan penyewa berada di sisi Timur. Untuk menjaga privasi penyewa,
Gunawan tidak membuat jendela kamar di sisi Barat (area bagi tamu/ruang
tamu di area ini) hanya di sisi Timur. Ia juga merancang pintu dan jalan dari sisi
Timur menuju kamar sewa (tidak melewati ruang tamu).

Batasan antara luar dan dalam tapak. Batasan antara penyewa dan tamu.
Batasan antara area penyewa, dan pemilik rumah sewa. Tampak jelas. Antara
luar dan dalam tapak, dibatasi pagar. Pandangan dari jalan berhenti pada
dinding bangunan bagian depan. Antara ruang tamu dan kamar penyewa,
berbatas dinding beton tak berjendela (yang ada ventilasi—karena di
belakangnya toilet). Antara bangunan penyewa dan area rumah pemilik,
dibatasi jeruji paralon warna warni tralala.

Pada rancangan rektorat UI, batasan ruang itu memberikan perasaan yang
berbeda-beda. Di mulai dari pintu masuk ke komplek rektorat yang tertutup
dinding, menimbulkan rasa ingin tahu, apa yang ada di dalamnya? Taman.
Taman Mandarin dengan jalur setapak di sisinya, yang memberikan rasa hening,
tenang, dan intim. Menuju koridor dengan barisan pilar-pilar yang menyangga
atap yang tinggi, seakan berbaris menghormati orang yang melewatinya.

Sedangkan renovasi pastoran Theresia, Gunawan membagi secara tegas area
umum dan pribadi (ruang pastor) dengan batasan dinding, sehingga umum tidak mengetahui kehadiran ruangan tersebut (kamar pastor di lantai-3) dan
tidak dapat mengakses. Hanya denah yang menjelaskan kehadirannya.




No comment for 96. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22b

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>