35. Chia Yong Guan bab 7d : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 35. Chia Yong Guan bab 7d

35. Chia Yong Guan bab 7d

(235 Views) Agustus 7, 2022 11:50 pm | Published by | No comment



Kamu lebih pintar.”
“Teman saya bilang kenapa kamu mesti dokter. Mungkin kamu punya bakat
lain. Tes bakat saja.”
Gunawan mengikuti saran itu.
“Tes tiga hari. Itu (psikotes) di Jl. Diponegoro. Hari ke-4 mengambil hasil.
Hasilnya,“Saudara sebaiknya tidak ambil kedokteran, kalau ambil kedokteran
kamu akan jadi dokter biasa. Sebaiknya ambil sipil, arsitektur, atau
perkapalan”. Waktu itu UI belum ada arsitektur. Jadi saya ambil sipil (teknik
sipil) di Trisakti. Dulu namanya Res Publika. Ambil setengah tahun, sudahlah
tinggalkan.”
“Tahun berikutnya UI membuka jurusan arsitektur di bawah fakultas teknik
dan saya coba mengikuti ujian saringan yang diadakan di Stadion Utama Gelora
Bung Karno. Saya berhasil lulus saringan pertama lalu ikut tes gambar, dan
terterima dalam satu kelas yang berjumlah 36 mahasiswa (delapan diantaranya
perempuan). Tahun berikutnya tinggal 12 yang lolos, karena saat itu, sistem
gugur (Jika, tidak lulus, langsung gugur, harus tinggal kelas mengulang semua
mata ajar. Dua tahun mengulang harus keluar dari fakultas) yang dianut UI.”
“Ternyata tahun 1966 ada G 30 S/PKI, saya berhenti kuliah (kegiatan belajar
mengajar terhenti, pada saat itu karena kondisi politik yang tak kondusif).
Kemudian saya didaftar Ayah ke Technische Hogeschoel di Delft, Belanda, ada
satu kakak angkat Ibu saya di sana, suaminya sebagai sponsor.”
“Saya diterima di Delft mereka melihat angka nilai ujian negeri. Hasil ujian
negeri saya banyak angka sepuluh, bangsanya : aljabar, trigonemetri, ilmu ukur
melukis (proyeksi dan pesawat). Ada empat yang dapat nilai 10. Tapi seminggu
sebelum berangkat ke Delft saya sakit. Baru ketahuan kalau saya punya TBC.
Tidak jadi berangkat.”
Han Awal juga bercerita bahwa Gunawan pernah meminta sarannya untuk belajar
di Belanda. ” Saya bikinkan surat pengantar ke Delft. Ia rupanya sudah diterima di
sana. Tapi keburu sakit, masuk rumah sakit.”
”Saya sudah bagi-bagi pen (alat untuk mengambar zaman dulu) ke teman-
teman.”



”Sayang sekali, pasti sedih, karena tidak jadi berangkat ke Belanda,” ujar saya
spontan berusaha merasakan kekecewaan Gunawan saat itu.
Gunawan menjawab santai malah terkesan senang karena gagal berangkat,”
Tapi tidak apa-apa. Itu ada hikmahnya. Akhirnya saya ke Berkeley.
”Kalau jadi berangkat ke Delft tidak jadi begini saya. Mungkin tidak jadi apa-
apa.”
Saya rada binggung dengan jawaban itu.
”Kenapa?
”Lebih hebat Berkeley, lebih di atas,” Gunawan tertawa bangga.
”Karena tidak jadi Ke Delft, kembali kuliah di UI. Tidak ada dosen. Tunggu.
Tahun 1970, Pak Wondo datang untuk mengajar di UI. Saya masuk UI tahun
1965. Selesai 10 tahun kemudian.Tahun 1966 tidak ada angkatan karena ada
peristiwa G 30 S, dan berencana ke Delft, sudah diterima tapi batal karena
sakit. Masuk lagi tahun 1967 mengikuti angkatan Sadili (angkatan ke-2).”
”Kuliah di UI waktu itu tidak bayar. Saya tidak bayar kuliah. Utang pada
negara.”
”Pak Gun, dulu belajar mengajar di kelas seperti apa?” tanya saya ingin tahu.
”Apakah sama atau beda belajar mengajar dulu dan sekarang?”
”Hampir sama yang Kamu alami. Dosen datang dan hampir tak banyak kuliah
waktu itu. Kita lebih banyak di studio. Kita cuma lakukan, apa yang diminta
dosen. ”Coba kamu lakukan.” Lalu asistennya datang, memberi komentar,” Ini
boleh. Ini tidak. Ini benar. Itu bagus.” Kita hanya ikuti. Tidak pernah punya ide
dan berpikir, bahwa yang ia (asisten) bilang itu belum tentu benar.
”Tentu modul itu kita anggap terbaik saat itu. Ini dicontohkan oleh dosen kita.
Kita dari dulu dibiasakan menerima omongan dosen itu betul, karena tidak ada
pembanding. Kalau sudah ada pembanding lain lagi ceritanya.”
”Kebetulan saya suka baca. Zaman itu, mungkin buku saya yang paling banyak
di antara teman-teman. Saya mulai membandingkan antara buku yang saya
baca dengan penjelasan (oleh dosen), dan merasa, kadang-kadang kok ada yang
tidak cocok ya. Tapi dulu tidak berani bertanya.”
Gunawan meneruskan pendapatnya tentang sistem pendidikan yang dianut
saat itu.




No comment for 35. Chia Yong Guan bab 7d

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>