75. Menelusuri Gunawan Tjahjono Karya bab 16b : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 75. Menelusuri Gunawan Tjahjono Karya bab 16b

75. Menelusuri Gunawan Tjahjono Karya bab 16b

(244 Views) Agustus 11, 2022 9:04 am | Published by | No comment



Ketiga, saya membandingkan rumah Gunawan dengan rumah Soewondo
Bismo Sutedjo, gurunya. Saya berkesempatan mengunjungi rumah itu dan
suka, mencoba mengamatinya baik-baik dan bertanya banyak hal. Soewondo
menjelaskan dengan senang hati konsep ruang dan material yang digunakan.
Membandingkan karya Gunawan dan Soewondo membuat saya lebih peka,
kritis, dan belajar lebih cepat. Perbedaan-perbedaan tajam antara Gunawan
dan Soewondo yang terwujud dalam bentukan ruang memudahkan saya untuk
memahami bagaimana sebuah garis ditarik? Apa yang ingin disampaikan?
Apa yang ingin disuguhkan pada tamu: keteraturan, kebebasan, kebingungan,
kejelasan.

Soewondo pernah menyampaikan bahwa ruangan itu dirancang berdasarkan
cara hidup pemiliknya. Dari titik ini saya menyusuri bagaimana cara Gunawan
dan Soewondo hidup (di dalam rumah). Bagaimana mereka merancang sesuai
dengan cara hidup masing-masing?

Gunawan suka cahaya. Cahaya yang masuk ke dalam rumah, penuh. Sehingga
pada siang hari tidak membutuhkan lampu. Tubuh selalu ingin bergerak dan
melakukan sesuatu. Beda dengan Soewondo, cahaya di dalam rumah sedang.
Tubuh terasa relaks. Jika ingin membaca harus menyalakan lampu baca. Begitu
juga di ruang makan, menyalakan lampu bila ingin berkegiatan di ruangan itu.
Untuk pola ruang. Gunawan membagi ruang tamu, ruang kerja, ruang keluarga,
dan dapur, berdasarkan furniture-nya, karena tidak ada dinding pemisah.
Antara ruang tamu dengan ruang lainnya hanya dibatasi lemari kayu, sehingga
mata dapat beredar ke seluruh ruangan. Beda dengan Soewondo, dari ruang
tamu dapat melihat ruang makan yang berbeda level lantai. Ruang makan lebih
tinggi 20 cm. Dapur berada di ruangan lain, terpisah dinding. Begitu juga
ruang kerja, berada di ruangan yang berbeda.

Gunawan membangun rumah dengan filosofi Barat-Timur dan Desa-Kota.
Filosofi tergambar pada keseluruhan bangunan. Sedangkan Soewondo
pada detil. Dua tiang yang saling berdekatan, berdasarkan bintang Gemini.
Sedangkan hiasan dinding berbentuk Naga, berdasarkan shio istrinya.
Keempat, saya rajin membaca kritik arsitektur di internet misalnya, tulisan
Nicolai Ouroussof dari The New York Times. Hasilnya? Tambah bingung, karena
ia membicarakan bangunan yang saya tak pernah kenal, tak pernah saya lihat.
Walau sudah berupaya. Tetap saja menulis karya Gunawan membuat sakit
kepala. Namun tetap harus ditulis. Jadi tulis.



Dimulai dengan….
Apa saja karya Gunawan? Berapa banyak karya terbangun? Berapa banyak
karya yang ikut sayembara? apa saja? Apa yang menarik dari setiap karya?
Karya apa saja yang perlu saya bahas di dalam buku ini?

Tidak ada cara lain, saya harus menemui Gunawan dan mendapatkan semua
dokumentasi karya arsitektur dan mempelajarinya. Beberapa hari kemudian,
di ruang kerjanya, Gunawan mengopi semua karyanya ke flash disk yang saya
bawa. Denah, potongan, dan foto. Karya terbangun, tidak terbangun, dan
karya yang ikut sayembara. Gunawan mengatakan sebagian karyanya tidak
terdokumentasi dengan baik, malah sebagian gambar kerja hilang. Dulu tidak
semudah sekarang untuk mendokumentasikan.

Sesampai di rumah, saya mulai melihat-lihat karya Gunawan melalui layar lap
top MacBook. Apa saja karya yang sudah dihasilkan Gunawan? Ada banyak.
Saya telusuri satu-satu. Karya dari zaman dahulu kala sampai sekarang.
Mudah mengidentifikasikannya. Karya zaman dulu didokumentasikan ke
bentuk digital dengan cara difoto ulang dengan kamera digital. Baik denah
maupun foto.




No comment for 75. Menelusuri Gunawan Tjahjono Karya bab 16b

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>