53 Sahabat 11c Emirhadi dan Sadili-3
(203 Views) Agustus 8, 2022 11:16 pm | Published by Safitri ahmad | No comment
“Pak Gunawan jadi bisa seperti ini dengan jam terbang yang panjang. Konsisten.
Konsistensi itu dapat menjadi pembelajaran buat yang muda-muda bahwa
sesuatu jika dilaksanakan dengan konsisten terus menerus pasti ada hasilnya,
tidak cepat puas dan jangan instan. Sekarang kan anak-anak muda inginnya yang
instan. Pak Gunawan dulu pernah bilang waktu kuliah, “Saya dari dulu tidak
sekolah di sekolah yang bagus, tapi di sekolah yang biasa- biasa saja,” kata Emir.
Menurut Sadili, Gunawan sangat diandalkan dalam konsep. Ia yang membuat
konsep rancangan, sedangkan teman-temannya yang lain merealisasikan.
Gunawan dan Sadili beberapa kali berada dalam satu tim, untuk mengerjakan
sayembara arsitektur, antara lain : sayembara perbaikan kampung (zaman
gubernur Ali Sadikin) dan Islamic Center, Surabaya.
Ary Muchtar Pedju dari Konsultan Encona (pernah mengajar di UI), tertarik
dengan pemikiran Gunawan. Ia beranggapan bahwa dalam setiap proyek harus
ada pembahasan yang kuat terhadap konsep, dan pemikiran dari berbagai aspek,
termasuk sosial budaya. Gayung bersambut. Gunawan dengan konsep yang kuat,
direspon dan sangat dihargai oleh konsultan, dan saat itu proyek dimulai dengan
konsep.
Ketika Ary sudah tidak mengajar di UI dan penuh waktu di konsultan, ia
memanggil Gunawan dan Sadili untuk bergabung jika ada proyek di konsultan
tersebut. “Dulu, saya sempat dua hari dalam satu minggu di kantornya. Pak
Gunawan tidak selalu di sana. Tapi, pada tahap awal perencanaan, pasti Pak
Gunawan yang dipanggil duluan. Saya mengaplikasikan konsep yang dibuat Pak
Gunawan. Jadi satu tim,” kata Sadili.
Salah satu proyek yang dikerjakan bersama antara lain proyek master plan
Kampus Universitas Muhammadiyah, Yogyakarta. Gunawan memikirkan konsep
secara mendalam, terutama orientasi dan semua bangunan di dalam kampus
menghadap kiblat.
Sadili juga membantu Gunawan mengerjakan master plan kampus, di
Palembang. “Pak Gunawan memang sangat argumentatif. Ia punya dasar yang sangat kuat, yang orang lain pasti mudah menerima, mudah mengerti. Di
Palembang banyak air, air itu menjadi bagian dari konsep. Dan Pak Gunawan
bisa dengan cepat menangkap itu. Ketika melihat sesuatu, ia langsung cepat
membuat konsep, dengan bekal pengalaman dan referensi buku-buku yang
begitu banyak. Bukan hanya pengetahuannya, tapi bagaimana ia melihat
“sesuatu”. Setiap Pak Gunawan membuat konsep, pasti ada sesuatu yang baru.
Tidak biasalah. Ia juga tidak mudah menerima pernyataan, ia akan bertanya terus
pada lawan bicaranya, terutama tentang pengertian yang sangat mendasar. Hal-
hal yang tidak disangka-sangka.”
Apa peran Gunawan pada kurikulum dan sistem pengajaran di arsitektur di UI?
Menurut Sadili, ia memberikan metode bahwa pengetahuan tidak diberikan/
tidak diberitahu kepada mahasiswa, tapi dosen/fasilitator harus memancing
dengan pertanyaan. Bagi Sadili, agak sulit mengikuti pendekatan tersebut karena
cara pengajaran sebelumnya yang sudah mendarah daging. Dosen memberikan
solusi. Sedangkan metode Gunawan sangat berbeda “Mahasiswa itu jangan jadi
cetakan dosen,” kata Sadili.
Sadili mencoba mengikuti metode yang Gunawan sampaikan dengan segala
keterbatasan. Walaupun sekali-kali ia terpancing untuk memberikan solusi ke
mahasiswa. “Tidak memberikan solusi hanya memberikan pancingan dan arahan,
dan membiarkan mahasiswa berpikir, Itu yang tidak mudah bagi saya. Tapi bagi
yang muda-muda (Dosen muda. Muda dalam usia dan muda dalam pengalaman
mengajar) mungkin lebih mudah.”
“Itu yang beliau dapatkan dari sekolah (sewaktu belajar di Amerika). Banyak
metode pengajaran yang ia yakin pasti berhasil, misalnya cara belajar di
lapangan. Belajar di area terbuka. Bisa merasakan angin. Mengenal alam.
Bahkan sampai menutup mata dan merasakan suasana. Melatih kepekaan. Itu
yang ia kembangkan. Mungkin sebelumnya teman-teman (sesama dosen) sudah
mendengar cara pengajaran seperti itu tapi tidak dikembangkan. Pak Gunawan
menerapkan cara itu dan beliau juga mengembangkan dengan pendekatan dua
arah, bukan satu arah.”
Wawancara terhenti. Kemas Ridwan (Ketua Departemen Arsitektur UI)
menghampiri, mengingatkan Sadili, waktunya rapat.
Senang juga ngobrol dengan sahabat Gunawan, serasa mendengar cerita reunia
No comment for 53 Sahabat 11c Emirhadi dan Sadili-3