102. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22h
(243 Views) Agustus 14, 2022 2:19 am | Published by Safitri ahmad | No comment
Akar Timur sangat kuat di dalam diri Gunawan. Berlatar belakang keluarga,
(keturunan China), lahir dan besar di Medan, bergaul dengan masyarakat dari
berbagai suku, Minang, Jawa, Batak, India, Arab. Suka membaca cerita silat
Mandarin yang berisi filsafat Timur yang bijak.
Sejak mahasiswa, Gunawan sudah rajin membaca buku arsitektur terbitan
Jerman. Salah satu tulisan Louis Kahn, di dalam majalah arsitektur itu
membuat cara berpikirnya tentang arsitektur berubah. Ini kutipannya :
“Gentleman, yang kalian tunjukan itu, semua penyelesaian masalah. Tapi
itu bukan realization. Bukan suatu penghayatan. Realization itu mestinya
mulai dengan what a thing wants to be. Apa yang diinginkan oleh sesuatu
itu. Realization kombinasi dari feeling dan taugh.”
Cara pikir Kahn, sejalan dengan filosofi cerita silat yang selama ini ia baca.
Sesuatu dilihat, tidak dari sisi materi tetapi kebijaksanaan, kebenaran,
penghayatan, nilai. Dan tahun 1981, Gunawan berkesempatan melanjutkan
sekolah ke Amerika, bertemu dengan dosen-dosen yang memberikan
pemahaman baru tentang perkembangan arsitektur dunia dan berkesempatan
menyaksikan karya arsitektur yang ada di Amerika.
Perpaduan budaya Timur dan perkembangan arsitektur dunia memberi
pengaruh kuat dalam dirinya. Ini disampaikan melalui karya arsitektur.
S ER A SI DENG A N L INGKUNG A N
Secara pribadi, Gunawan tak ingin tampil mencolok. Bangunannya pun
sama, hadir dan menyatu dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Melalui
material lokal, bentuk geometris, dan simple. Menyatu tidak mesti sama atau
menyerupai bangunan yang ada, tetapi menjadi bagian dari lingkungan. Tak
bisa dipungkiri, rancangan rumah batu pasti berbeda dengan rancangan yang
ada di sekitarnya. Tapi tak tampak mencolok karena material batu dan kayu
yang berkesan alami dan tidak berteknologi tinggi, menyatu dengan lingkungan
yang masih banyak pohon. Pengaruh ini terbawa dari masa kecil saat di Medan,
keluarganya memilih tinggal di daerah perumahan dengan penduduk yang
berasal dari beragam suku. Ini memberikan pandangan untuk tidak menjadi
ekslusif.
Ia dulu pernah tinggal di rumah yang besar dengan paviliun. Rumah zaman dulu
dengan pekarangan yang luas. Saya kira ini salah satu hal yang menyebabkan
Gunawan suka dengan halaman yang luas dan merencanakan penempatan
bangunan pada tapak secara hati-hati. Selain pertimbangan menaati peraturan
pemerintah: garis sepadan bangunan, luas lantai, ketinggian dan sebagainya.
Untuk rumah Beji, bangunan dibuat bertingkat (2.5 lantai), walau luas tanah
lebih dari cukup. Sedangkan untuk Rumah Sewa Paseban dan Pastoran,
menyesuaikan diri dengan bentuk lahan dan bangunan yang ada di sekitarnya.
Rancangan Gunawan selalu menjaga keseimbangan dengan lingkungan, ia
memperhatikan arah matahari, agar bangunan mendapat sinar yang cukup
tapi tak panas. Reng atap yang lebar membuat bangunan terjaga dari hujan
dan panas, sehingga dinding bagian luar tidak mudah diterpa panas dan hujan.
Jendela lebar sehingga sinar matahari mudah masuk dan keluar. Penggunaan
energi seperlunya, dengan membuat ventilasi yang cukup banyak dan langit-
langit yang tinggi agar udara mudah bergerak. Menggunakan material
lokal agar biaya pembangunan tak mahal. Merancang dengan cermat agar
biaya pemeliharaan dan perawatan tak tinggi. Merancang dengan banyak
pertimbangan. Pertimbangan akan kelangsungan bangunan tersebut di masa
yang akan datang.
No comment for 102. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22h