10. Silabus bab 3a : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 10. Silabus bab 3a

10. Silabus bab 3a

(246 Views) Agustus 6, 2022 12:42 am | Published by | No comment



Hari ini Jumat, 2 Februari 2007. Saya dari rumah pukul 9:00 WIB. Hujan rintik-
rintik dan mulai ragu untuk meneruskan perjalanan ke Depok. Namun terlanjur
janji. Janji wawancara dengan Gunawan. Kalau dibatalkan, hmm…sebaiknya
jangan. Akan sulit lagi menyamakan waktu saya dan ia.

Saya putuskan untuk tetap berangkat, menguatkan hati, bahwa pekerjaan
ini harus dilakukan. Walau jalanan macet. Walau waktu tempuh dari rumah
ke stasiun Tebet yang biasanya hanya 30 menit, pagi ini menjadi 90 menit.
Sampai di stasiun pukul 10:25 WIB dan syukurlah kereta api Pakuan AC datang
terlambat. Kurang dari pukul 11:00 WIB, kereta datang. Tiba di stasiun UI
Depok, 20 menit kemudian. Naik bis kuning. Turun di halte fakultas teknik.
Disambung dengan jalan kaki menuju gedung arsitektur.

Melewati parkir dosen, saya melirik, mencari sepeda Gunawan yang di parkir di
tempat parkir mobil untuk guru besar. Tempat parkir itu memang diperuntukan
bagi guru besar fakultas teknik yang membawa kendaraan roda empat ke
kampus. Tentu sebagai seorang guru besar arsitektur, ia berhak memarkir
kendaraannya di sana. Namun, ia tidak memarkir kendaraan roda empat, tapi
roda dua, sepeda.

Nampak sepeda bersanding akrab dengan mobil sedan. Berarti Gunawan sudah
datang. Saya bergegas. Tidak ingin ia menunggu lama.
Saya berjalan menuju ruang kerja Gunawan, melewati ruang tamu dan koridor,
sambil lirik kanan lirik kiri. Setelah dekat, saya menjulurkan kepala dari balik
partisi, memastikan ia ada atau tidak. Ada. Ia sedang asyik mengetik sesuatu pada lap topnya. Saya bersuara, “Pak…” Sambil duduk di kursi kosong di
sebelah mejanya. Gunawan berpaling, tersenyum, “Tunggu sebentar ya,”
ujarnya. Saya mengangguk. Ia meneruskan ketikannya. Sambil menunggu saya
memperhatikan ruang kerja itu. Ruang kerja guru besar arsitektur UI.

Ruang itu tidak besar kira-kira 1×2 meter, terdiri dari satu meja, satu kursi, dan
satu lemari buku. Sempit. Bila Gunawan bekerja, ia harus duduk dalam posisi
tegak. Jangan sekali-kali istirahat dengan berselonjor, meluruskan kakinya
yang panjang, karena kursi yang ia duduki tidak dapat lagi ditarik ke belakang,
tertahan lemari buku. Lemari buku penuh terisi. Tidak ada ruang tersisa. Di
atasnya terdapat foto pelantikan anggota TPAK DKI. Semuanya memakai jas,
kecuali Gunawan, mengenakan batik. Salah kostum.



Di atas meja, di bawah meja, penuh dengan tumpukan buku dan paper tugas
mahasiswa. Di atas meja, di antara tumpukan buku, ada helm sepeda, majalah,
amplop coklat, surat undangan, aqua gelas, dan paper tugas mahasiswa
tesis/skripsi. Ada satu bagian kosong di tengah meja yang digunakan untuk
meletakkan lap top. Gunawan bekerja dengan tenang di antara tumpukan buku-
buku itu. Tidak merasa terganggu dengan meja yang berantakan, sempit, dan
amburadul.

Di sebelah mejanya, terdapat satu meja, satu kursi, dan satu lemari. Setiap
saya datang, kursi dan meja itu selalu kosong. Terkadang di meja itu terdapat
paper tugas mahasiswa Gunawan. Saya kira, kursi yang sedang saya duduki ini
memang disediakan untuk tamu, ternyata dugaan saya salah. Itu meja dan kursi
Ibu Diane, orang Amerika, dosen Strata 2 arsitektur UI.

Saya dengan mudah melongok ke belakang, karena hanya dibatasi partisi
rendah, ruang kerja Kemas Ridwan Kurniawan, Ketua Departemen Arsitektur.
Ruang yang dulu ditempati Gunawan saat ia menjabat pimpinan tertinggi
departemen arsitektur selama dua periode. Sungguh berbeda bila
membandingkan ruang kerja keduanya. Ruang itu lebih luas, 4×4 m2, tidak
ada tumpukan buku di atas meja, lemari buku tak terisi penuh, ada meja dan
kursi tamu. Lihat meja dan kursi tempat Ridwan bekerja, seperti manajer kelas
menengah.




No comment for 10. Silabus bab 3a

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>