117 Pengalaman Gunawan Tjahjono Jadi Juri Sayembara Arsitektur bab 24k : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 117 Pengalaman Gunawan Tjahjono Jadi Juri Sayembara Arsitektur bab 24k

117 Pengalaman Gunawan Tjahjono Jadi Juri Sayembara Arsitektur bab 24k

(502 Views) Agustus 14, 2022 3:41 am | Published by | No comment



“Karya IAI bukan sayembara. Itu sesuatu yang sudah ada, kita menilai menuruti
nilai tertentu. Lebih mudah. Mudahnya kan tinggal di-contreng-contreng
lalu diperdebatkan. Kalau begitu sebenarnya tidak perlu juri, bila semuanya
mengikuti itu (aturan cara penilaian).”

“Di TOR nya itu sangat terbuka untuk interpretasi yang tadi saya katakan. Ia
tidak mengandung angka. Dari “tiga yang sudah dipilih” selalu ada yang mau
kita menangkan yang digariskan oleh dewan kehormatan. Dewan Kehormatan
tidak menentukan “ini (karya ini)” porsinya berapa persen.”

“Penafsiran terhadap TOR itu bisa mempunyai nuansa yang sangat besar.
Artinya begini. Ini satu garis (mengunakan jari telunjuk membentuk garis). Ada
yang bisa menafsirkan ini sejauh ini (menunjuk garis yang lebih panjang). Ada
yang menafsirkan seperti ini saja (menunjuk garis yang lebih pendek). Nah
tinggal juri. Yang begini masuk. Ada yang enggak. Buat saya sudah tidak masuk
lagi,” Gunawan menggunakan kedua tangannya untuk memperjelas uraiannya.
Saya mengikuti, antara mengerti dan tidak.

“Nah makanya juri itu masih bisa diuji melalui sayembara. Saya paling senang,
tahu bahwa teman saya cuma segini (kira-kira maksudnya : saat berargumen,
Gunawan jadi mengetahui pengetahuan teman sesama juri, seperti ia
mengetahui pengetahuan mahasiswanya saat berdiskusi atau berdebat)”
“Apa yang Pak Gun harapkan pada semua juri. Punya kesamaan pandangan
apa?”

“Juri itu kan orang yang dipercaya. Mereka punya pandangan tertentu, dan
itu tidak bisa dibandingkan. Mereka punya otoritinya sendiri dan itu patut
dihargai.”
“Kalau Anda tanya 100 arsitek tentang arsitektur, itu pasti beda. Ada yang
beda. Selalu terjadi, dalam penjurian. Pilihan saya tidak selalu diterima oleh
yang lain. Oleh sebab itu juri harus lumayan banyak dan background-nya
macam-macam, sehingga bisa lebih banyak pertimbangan yang masuk.”
“Apa beda juri sendiri (penjurian dilakukan oleh seorang saja)?”
“Juri sendiri tidak ada konflik dengan yang lain, mudah ia ambil keputusan. Seperti
Antoine Predock, gampang ia mengambil keputusan. Saya sendirian deh.”
“Apakah juri selalu dengan jumlah ganjil, lima, tujuh, atau Sembilan orang?”
“Selalu angkanya ganjil.”
“Untuk karya IAI bagaimana menilai sisi sosial bangunan tersebut, juri menilai
dari foto dan gambar?”



“Kita bisa menafsirkan dengan ruang “begini” ada kemungkinan besar orang
mau berkumpul. Tapi berkumpul untuk apa kita juga tidak tahu.”
“Paling bagus adalah juri dapat melihat karyanya dan melihat dampaknya pada
pengguna. Sering yang dapat IAI award itu menurut saya banyak yang tidak
berfungsi. Fancy. Bukan arsitektur yang melalui pemikiran yang fresh.”
“Anak saya pernah kerja di salah satu bangunan yang dapat IAI Award,
sengsaranya setengah mati. Setiap hujan pegawainya mesti turun. Kalau siang
panas luar biasa. Itu dapat award, Jurinya teman-teman saya juga. Saya tidak
mau pilih yang seperti itu.”

“Berarti jurinya tidak peka dengan kebutuhan pengguna?”
“Jurinya tidak punya pengetahuan bahwa yang begini (juri tidak dapat
membayangkan/tidak mempunyai kepekaan, bahwa rancangan yang seperti
foto itu) pasti akan sengsara. Menurut saya sebagian juri kita ini masih terlalu
text book masih terpengaruh pada criticism Barat.”
“Mereka baca buku tentang kritik arsitektur. Arsitektur tidak terlalu tergantung
pada text book.”

“Pak Gun bisa melihat dampak karya itu pada pengguna, walau hanya lihat di
foto?” Sedikit heran dan sedikit tidak percaya.
“Saya bisa melihat seperti itu (dari Foto Gunawan dapat mengetahui bentukan
ruang dan dampaknya pada penguna), tapi orang lain belum tentu bisa begitu.
Saya tidak bisa memproyeksikan nilai saya ke orang itu. Ia kan punya otoriti
dan saya dalam batas tertentu perlu menghargai pendapatnya. Karena design
tidak ada right and wrong answer.”
“Tapi kalau tidak bisa membuat kenyamanan bagi pengguna, apa tidak bisa
disebut itu gagal?”

“Itu gagal. Yang gagal itu banyak yang dapat IAI award.”
Ow…ow..silakan menebak-nebak, karya mana yang dimaksud. Si gagal yang
menang IAI Award versi Gunawan.




No comment for 117 Pengalaman Gunawan Tjahjono Jadi Juri Sayembara Arsitektur bab 24k

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>