8. Kelas Bab 2e
(258 Views) Agustus 4, 2022 9:11 am | Published by Safitri ahmad | No comment
Menurut saya salah satu hal yang bikin Gunawan menarik adalah, pada saat
mengungkapkan apa yang ada di pikiran dan yang terucap itu beda (sebenarnya
bukan beda tapi penjelasannya tidak lengkap sehingga, selalu saja kita
salah tafsir atau bingung atau enggak ngerti-ngerti atau harus pikir dulu). Bagaimana mau menjawab kalau pertanyaannya saja sudah bikin bingung?
Karya dekonstruksi ke-2. Botol aqua yang diubah bentuknya menjadi benda
“ajaib”, dan mahasiswa itu mengatakan ia suka dengan bentuk baru itu karena
rancangannya seperti bentuk bunga. Ia mengubah botol aqua berisi 330 ml
menjadi 100 ml karena bagian bawahnya disayat dan diputar sehingga menjadi
bentuk bunga yang ia suka.
“Anda mengubah botol aqua dari 330 ml menjadi 100 ml
apakah itu lebih baik atau tidak dari sebelumnya?”
“Tapi tidak apa Anda telah berani tampil,”
“Bila Anda tidak berani tampil maka Anda tidak
mengambil kesempatan.”
Setelah dipersilakan duduk, Gunawan memberikan penjelasan bahwa sesuatu
yang sudah terjadi disusun kembali, dibongkar, dan disusun kembali, sehingga
lebih bagus.
Ia melirik ke meja, mahasiswanya tidak ada satupun yang membawa buku Gilles
Deleuze: The Folds (Leipniz and the barroque), (buku yang minggu lalu diminta
untuk dibaca), alasannya? Mereka tidak menemukan buku itu.
Lalu, Gunawan berkata dengan suara tenang, seperti air yang sedang mengalir,
tidak terdengar nada gejolak, “Mahasiswa saya adalah mahasiswa yang aktif
mencari, kalau tidak ada yang membawa buku, saya juga akan meninggalkan
kelas ini.”
Pada saat yang sama, saya sedang membolak-balik Jurnal Kilas, Jurnal
Arsitektur UI. Tidak ada angin tidak ada hujan, ketika saya mengangkat wajah,
Gunawan sudah tidak ada di dalam kelas. Saya masih diam terpaku. Serius nih
ia ngambek.
Mahasiswa juga tidak merasakan ada yang salah, semua juga diam seperti saya
dan masih tidak tahu apa yang sedang terjadi. Hanya Ova, asisten Gunawan,
wajahnya langsung berubah, menyadari telah terjadi peristiwa besar yang
harus segera diselesaikan. Ia segera meninggalkan ruangan kelas. Sementara
itu mahasiswa masih saja tidak menyadari apa yang telah terjadi, mereka biasa
saja : keluar masuk kelas, bicara dengan temannya. Tetapi ketika Ova masukkelas, mereka mulai memberikan perhatian. Wajah Ova masih merah, mungkin
menahan marah, dan saya mendengar ia bicara ke asisten yang lain bahwa
baru saja ia mencari buku yang dimaksud di perpustakaan arsitektur, tidak ada.
“Memang buku itu sulit dicari, tetapi seharusnya mereka bisa mendapatkannya
dari kakak kelasnya,” kilah asisten yang lain. Ova maju ke depan kelas
membereskan laptop dan bicara, “Kalian saat ini sedang dalam masalah, don’t
just sit down.” Mulai deh mahasiswa pada bergerombolan, kasak kusuk.
Ova sudah selesai dengan lap topnya, menuju ke luar kelas. Saya bertanya
rada-rada cemas,”Pak Gun, baik-baik saja kan?”
“Pak Gun biasa saja. Baik-baik saja kok,” katanya santai.
Syukurlah.
Saya tidak ingin menganggu Gunawan yang lagi ngambek, karena saya juga
tidak suka kalau lagi ngambek dibujuk-bujuk. Kalau lagi ngambek harus dibiarin
dulu sampai be te nya hilang. Tapi Gunawan memang beda dengan saya. Ketika
ketemu, Gunawan biasa saja. Malah bilang,”Saya juga bisa marah kan Fitri.”
No comment for 8. Kelas Bab 2e