100. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22f : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 100. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22f

100. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22f

(231 Views) Agustus 14, 2022 2:16 am | Published by | No comment



Rektorat UI, merupakan bangunan tempat pimpinan tertinggi universitas,
jangan-jangan Gunawan menggabungkan konsep Timur dan Barat, karena
konsep vertikal dan horizontal itu tampak jelas.
Kata orang, Gunawan sangat kagum dengan Louis I Kahn. Siapa ia? Bagaimana
karyanya? Apakah karya Louis Kahn membawa pengaruh pada karya Gunawan?
Dari bincang-bincang dengan Gunawan, beberapa kali ia menyebut nama Louis
I Kahn dengan nada kagum. “Di rumah saya yang paling banyak buku tentang
Louis Kahn,” katanya suatu hari. Jelas sudah.

Saya cari dokumentasi tentang Louis Kahn, film My Architect, karya Nathaniel
Kahn, putra Louis Kahn. Walau belum pernah menyaksikan karya Kahn secara
langsung tapi gambar-gambar di film itu mampu menceritakan suasana yang
terbentuk dari rancangan arsitektur. Ruang yang hening (silence), kokoh,
bentuk yang jelas, geometris. Permainan cahaya dari waktu ke waktu, juga
disampaikan Nathaniel dengan rinci. Indah.

Saya tidak akan membandingkan karya Kahn dan Gunawan. Namun, jika
Gunawan sangat mengidolakan Kahn, apakah image bangunan dan cara pikir
Louis Kahn dalam merancang membawa pengaruh pada rancangannya? Kalau
dicari-cari, saya menemukan kemiripan dalam permainan cahaya, dimensi
ruang yang terkendali, dan memberikan suasana hening.

Pernah suatu hari Gunawan mengatakan jangan mengikuti tren (kira-kira
Gunawan tidak akan terbawa arus tren arsitektur yang ada pada setiap zaman)
apa betul? Rumah Wisnu dengan taman atap merupakan karya yang saya kira
mengadopsi tren taman atap yang marak pada tahun 2000. Pada saat itu
taman atap belum diperuntukan untuk rumah, tapi untuk gedung-gedung tinggi
seperti perkantoran dan hotel. Tahun 2007, saat Gunawan merancang taman
atap untuk rumah Wisnu dengan 9 lapisan (perencanaan), harus diakui, itu
baru. Itu tren ia.

Gunawan juga terinspirasi dari karya yang mendapat Aga Khan Award untuk
rumah sewa Paseban. Untuk sayembara Islamic Center di Surabaya dari karya
Fumihiko Maki yang ada dalam salah satu majalah arsitektur. Ia memanfaatkan
teori yang diketahui ke dalam rancangan, menerapkannya secara langsung, baik
melalui sayembara atau karya terbangun.



UNIK
Di rumah sewa Paseban, mata saya langsung tertuju pada garis-garis vertikal
paralon warna warni seperti iklan cat itu. Garis-garis itu seakan bergerak
saat saya berjalan dipandu oleh garis gelombang abu-abu yang mengikat garis
warna-warni. Di lantai dua, dikejutkan dengan sinar warna warni bak lampu
disko, perasaan yang tadinya “biasa” melihat kamar kos, taman, dan ruang
tamu, berubah seketika.

Dinding besi bergelombang di rumah Wisnu menarik perhatian, menjadi
sculpture tapi fungsional pada rumah itu. Tentu saja, garis-garis/dinding miring
yang awalnya terabaikan (dinding pembatas antara toilet dan ruang tamu
di lantai 1, garis teras belakang yang miring sampai lantai 2) juga menarik
perhatian saya. Tak bisa tidak, taman atap (roof garden) bertingkat tiga dan
bidang dinding dengan motif bambu, juga menarik perhatian. Cahaya matahari
yang masuk di jendela motif bamboo yang sedikit membentuk segitiga di kamar
anak serta pantulannya membuat saya berujar, “Keren juga.”

Bagaimana dengan rumah Beji? Apa yang membuat heran? Ketika pertama
melihat piramid kecil di depan rumah selalu bertanya-tanya, “Itu apa?”
pertanyaan itu terjawab setelah sekian lama karena menulis kritik arsitektur
rumah Beji untuk buku ini. Rumah pompa air. Untuk pompa air saja, Gunawan
merancang sedemikan rupa bentuk rumahnya seperti piramid, niat. Biasanya
rumah pompa dikerangkeng besi saja bukan. Rumah untuk pompa ini.

Lapisan batu di dinding pasti hal yang tak biasa bagi bangunan rumah. Kamar
mandi di lantai 2 yang atasnya terbuka juga bukan hal biasa. Pada siang
hari, sinar matahari bebas masuk. Pada malam hari, jika ingin mandi, bisa
menengadah dan melihat bintang atau bulan terlebih dahulu. Pada musim
hujan, airnya pun bercucuran bebas jatuh di area mandi (tidak di bathtub dan
toilet). Kamar mandi, terletak di lantai berapa pun, pasti tertutup dinding dan
atap, karena bersifat sangat pribadi. Tapi di rumah Beji itu, kamar mandi di
lantai 2 itu, sebagian atapnya terbuka lepas.
Jembatan goyang yang terletak di lantai 3 juga membuat saya bertanya,
“Kenapa tidak dibuat jembatan yang lebih kokoh dan menimbulkan rasa aman
dan nyaman?”




No comment for 100. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22f

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>