98. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22d
(232 Views) Agustus 14, 2022 2:11 am | Published by Safitri ahmad | No comment
P O L A RUA NG
Bentuk tapak Rumah Batu, Rumah Sewa Paseban, dan Rumah Wisnu, persegi
panjang. Sedangkan area tapak Renovasi Pastoran, mengikuti kondisi bangunan
yang ada di sekitarnya, berbentuk segilima. Tapak Rektorat UI, telah ditentukan
areanya.
Dari semua bangunan (kecuali Pastoran), Gunawan membagi ruang dengan
sistem grid, dimulai dari batas terluar bangunan, kotak-kotak. Berbeda dengan
Pastoran, garis bangunan terluar (kanan-kiri) mengikuti garis bangunan yang
ada di kanan dan kiri, kedua garis bangunan itu ditarik keluar bertemu dengan
garis aksis, garis tegak lurus.
Walau membentuk ruang menggunakan sistem grid dan garis-garis dinding
dibuat tegak lurus, akan tetapi ada beberapa bidang dinding, garis teras, garis
jendela, dan garis struktur bangunan yang dirancang miring.
Renovasi Pastoran Theresia, bentuk bangunan tidak sismetris, dan ini
berdampak pada bentuk ruang yang ada di dalam bangunan. Gunawan membagi
ruang berdasarkan fungsi dan menyediakan ruang yang simetris, untuk kegiatan
yang teratur dan mengakomadasi banyak penguna, misalnya ruang kelas, ruang
rapat. Sedangkan ruang yang tidak simetris digunakan untuk kegiatan yang
lebih fleksibel, lebih bebas, misalnya ruang tamu dan perpustakaan.
Dari beberapa karya arsitektur Gunawan, baik yang tampil di buku ini maupun
yang tidak karena berbagai alasan, saya menyimpulkan bentuk yang sering
muncul persegi panjang atau bujur sangkar. Tapi ada yang berbentuk oval
(Rumah Rose di Manado dan galeri keluarga Jahja Soetoyo -tidak terbangun-).
Bentuk terkendali. Perhatian pada detil. Setiap hal dipikirkan.
Saya terkesan dengan kamar pada rumah sewa, menurut saya, kecil, menurut
Gunawan, cukup. Ruang cuci di pastoran Theresia, terpaksa dipindah ke luar
bangunan, mungkin dianggap kecil. Rasa luas dan sempit pada setiap orang
pasti berbeda. Yang saya rasa, dimensi ruang yang terbentuk berada dalam
jangkauan. Tidak lari, artinya luasan ruang tidak melebar, melebihi kebutuhan.
Bentukan ruang, bentukan bangunan, dirancang “pas” yang berarti rancangan
itu tidak dipersiapkan untuk dikembangkan atau “tumbuh”.
Saya sempat bertanya, kenapa tapak rumah Beji yang begitu luas tidak
dimanfaatkan untuk bangunan. Maksudnya, kenapa tidak membangun rumah
satu lantai saja tapi membangun rumah 2 (3) lantai. Dijawab, “Saya ingin
menyumbang oksigen (menanam pohon) untuk lingkungan.” Gunawan kecil
berasal dari Medan dan tinggal di rumah yang berhalaman luas. Ruang terbuka
dengan pohon yang hijau terbawa sampai sekarang. Rumah Beji ditumbuhi
pohon dan berbagai tumbuhan.
M AT ERI A L
Gunawan suka sekali menggunakan material batu alam. Ini alasannya,”Pilih
bahan yang boleh tua. Batu itu boleh tua, bandingkan dengan nenek-nenek di
dusun tradisional. Ia punya dignity, punya wibawa, coba nenek-nenek sekarang
seperti bangunan modern yang membutuhkan pemeliharaan. Mutu itu yang
sebenarnya ingin saya tuangkan dalam desain-desain saya.”
”Kantin FE itu akan tahan lama. Rektorat akan tahan lama. Kita membuat
bangunan yang tahan lama, masa buat yang ikuti zaman?,” tambahnya.
Rumah Beji, pastoran Theresia, rumah Paseban menggunakan batu alam pada
dindingnya. Sedangkan, rumah Wisnu tidak. Kalau pastoran Theresia, menurut
saya salah satu alasannya menyesuaikan diri dengan bangunan di sebelahnya
yang juga menggunakan batu alam pada dinding.
Material kayu pada : jendela, pintu, tangga, perabot (rumah Beji). Kaca : bidang
dinding kaca yang lebar di pastoran Theresia, rumah Beji, dan rumah Wisnu.
Besi yang berfungsi sebagai hiasan sekaligus dinding di rumah Wisnu, dan besi
juga digunakan untuk mengikat hiasan paralon warna-warni dan berfungsi
sebagai dinding tak masif di rumah Paseban. Dari ke-lima karya, material besi
cukup dominan di rumah Wisnu (digunakan juga untuk railing tangga)..
No comment for 98. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22d