99. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22e
(238 Views) Agustus 14, 2022 2:14 am | Published by Safitri ahmad | No comment
S T RUK T UR B A NGUN A N
Saya suka memperhatikan struktur bangunan. Gunawan menjadikan struktur
sebagai bagian dari rancangan. Cara ia menata, cara ia menampilkan, dan cara
ia mewarnai struktur, sehingga menjadi bagian yang perlu mendapat perhatian
bagi penikmat arsitekturnya.
Terkadang struktur bangunan menyatu dengan dinding, terkadang sengaja
ditampilkan dan diwarna dengan warna mencolok (pastoran Theresia). Garis-
garis struktur horizontal tertampil dengan baik, garis-garisnya rapi dan teratur.
Gunawan suka membentuk garis diagonal, sedikit miring, tidak hanya tegak
lurus. Semua dengan mudah terlihat, terpapar, tidak tertutup.
C A H AYA
Dari semua karya yang saya kunjungi, semua ruangan kelimpahan cahaya. Tidak
itu saja, Gunawan juga bermain-main dengan cahaya. Baik cahaya matahari
maupun cahaya buatan (lampu).
Rumah Beji : tampak jelas perjalanan cahaya matahari yang memasuki rumah
dan berangsur-angsur pergi meninggalkan rumah menjelang siang. Begitu juga
di pastoran Theresia, seandainya bangunan rektorat dibangun sesuai gambar,
tanpa ada perubahan, maka sinar matahari yang masuk ke dalam ruangan
konsepnya akan sama dengan rumah Beji.
Di rumah Paseban cahaya matahari warna-warni bak lampu disko memenuhi
koridor rumah sewa. Sedang di rumah Wisnu, Gunawan memasukkan sinar
matahari melalui celah jendela seperti dua bambu miring yang saling
berhadapan, yang ketika berada di dalam ruangan, cahaya dari celah itu
memantul ke lantai membentuk segitiga.
Kalau dipikir-pikir, Gunawan suka memasukkan sinar matahari ke dalam
ruangan melalui kaca lebar, dan garis vertikal kurus memanjang. Untuk
garis vertikal kurus memanjang contohnya di pastoran Theresia : ruang
perpustakaan, toilet, ruang rapat lantai 3, atau garis-garis pendek bagian
atas bangunan.
Pertanyaannya, kapan Gunawan memutuskan untuk memilih
menggunakan kaca lebar atau garis vertikal kurus memanjang? Hm…awalnya
saya kira karena menyesuaikan diri dengan bidang dinding dan area kegiatan di
dalam ruangan, misalnya perpustakaan dan toilet, yang area dindingnya “agak”
sempit dan kalau terlalu penuh cahaya akan mengganggu kenyamanan orang
yang berkegiatan di dalamnya. Tapi kalau berpikir sebaliknya, menggunakan
kaca lebar pun tak apa. Jadi, apalagi alasan lainnya? Saya tidak tahu.
Sekarang pengunaan cahaya buatan. Ini juga menarik. Gunawan suka
membelah dua dinding. Dinding lebar dibelah, di tengahnya diselipkan neon
vertikal kurus memanjang, seakan-akan dari celah dinding keluar sinar,
contohnya di rumah Beji dan Rumah Sewa Paseban. Untuk rumah Beji (dinding
samping), istrinya yang menyelipkan lampu neon vertikal.
Satu lagi yang membuat saya tak habis pikir, Gunawan juga suka menjulurkan
kabel lampu dari langit-langit yang tinggi dan diujungnya tersangkut lampu.
Kenapa? “Lampu harus terletak di tengah, untuk menerangi seluruh ruangan,”
katanya pada suatu hari. Yang saya pikirkan bagaimana cara mengganti bola
lampu jika mati, harus memanjat-manjat, dan bola lampunya pasti goyang-
goyang saat diganti.
PERKEMB A NG A N A R SI T EK T UR
Apakah perkembangan arsitektur dunia dan kerajinan Gunawan membaca
buku arsitektur mempengaruhi rancangannya? Harusnya. Akan tetapi,
karena pengetahuan saya tentang arsitektur dunia dan perkembangannya
sangat terbatas, bagaimana saya bisa menghubungkan karya Gunawan dan
perkembangan arsitektur dunia? Hm….
Suatu hari Gunawan bercerita, pada saat rektorat UI dirancang, arsitektur
modern sedang berkembang. Aldo Rossi mengemukakan konsep tipologi dan
sedang hangat menjadi pembicaraan dunia. Gunawan kemudian mencari
tipologi arsitektur Indonesia, mengembangkannya dan mewujudkannya ke
dalam master plan UI dan rektorat UI.
Pada hari yang lain, saya mendengar cerita Gunawan di kelas, bahwa pemimpin
di Timur, mengungkapkan kekuasannya dengan membuat istana dengan bentuk
horizontal (berdasarkan lebar dan luas lahan). Berbeda di Barat, mereka
menunjukkan kekuasaan dengan membuat istana secara vertikal, (tinggi dan
besar bangunan).
No comment for 99. Reka-Reka Karakter Karya Gunawan Tjahjono bab 22e