88 Renovasi Pastoran Gereja Theresia Jakarta bab 19b
(237 Views) Agustus 14, 2022 12:50 am | Published by Safitri ahmad | No comment
Mulai telusuri lantai satu. Saya masuk ruang tamu. Bentuk ruang tamu tidak
berbentuk persegi empat, tapi tidak beraturan. Kenapa? Setelah ruang tamu,
ruang sekretariat, lalu ruang rapat. Tiap ruang berbeda warna. Dinding ruang
sekretariat didominasi kaca (bagian atas kaca bening sedangkan bagian bawah
kaca buram, menghalangi pandangan ke luar dan ke dalam).
Kemudian menuju area pribadi: ruang makan, dapur, laundry. Ruang konsultasi
dan ruang adorasi terpisah dari ruang yang lain, terletak di depan. Di sebelah
ruang makan terdapat juga tangga menuju lantai 2 (area pribadi pastor).
Saya baru menyadari bahwa terdapat dua tangga, atau dua jalur sirkulasi
secara vertikal dari lantai 1 menuju lantai 3 yang bersifat publik dan pribadi.
1) Tangga yang bersifat publik dimulai dari ruang tamu lantai satu. 2) Tangga
yang bersifat pribadi dari ruang makan lantai 1. Pada lantai 2 dan 3, saya hanya
menemui satu tangga dari lantai 2 ke lantai 3, tangga publik.
Setelah puas mengelilingi lantai 1, saya sempat berpikir toilet lantai 1 terletak
di sebelah mana? Rupanya berada di luar. Masih pada bangunan yang
sama, akan tetapi akses menuju toilet dari luar bangunan. Siapa saja (orang
yang melakukan kegiatan di area pastoran) dapat menggunakannya tanpa
menganggu kegiatan di dalam bangunan.
Kolom-kolom penyangga bangunan, ada yang berbentuk tabung dan ada yang
berbentuk balok, sama seperti yang diluar. Kenapa berbeda, kenapa tidak
balok semua atau tabung semua? Yang sama warnanya, warna ungu. Setelah
saya memasuki beberapa ruangan yang berbeda warna : (ruang tamu warna
biru. ruang sekretaria warna hijau) tapi kolom selalu warna ungu. Kolom-
kolom itu tidak tersamar pada dinding tapi sengaja ditampilkan. Sedangkan
fasad/di luar bangunan, kolom struktur itu tidak berwarna ungu seperti di
dalam bangunan tapi menyesuaikan diri dengan warna cat dinding secara
keseluruhan, krem.
“Warna itu bagi saya memberi ciri. Imajinasi cenderung ke arah ungu, maka
cocok untuk perpustakaan. Saya ingin agar ruang pastoran tidak hanya putih
namun perlu ada kehangatan. Biru cenderung damai, tenang, integritas,
maka cocok untuk kelas. Merah seperti siap perang, maka tak dipakai.
Krem mendekati kuning yang terlalu terang, agak intelektual, tentu rapat
memerlukan otak dingin. Kolom adalah sesuatu yang aktif dan menerima gaya,
sedapat mungkin berat, maka warna tua, tapi bukan hitam ,” jawab Gunawan melalui email, menjawab pertanyaan saya yang tak
ada habis-habisnya.
Lantai 2 :
Ruang publik : perpustakaan, ruang kelas, ruang seminar, toilet.
Saya menuju lantai 2, dari tangga yang terletak di ruang tamu. Bertemu dengan
ruang perpustakaan, masuk, warna ungu muda dan gradasinya mencerahkan
mata, di sudut ruangan terdapat kolom tabung dan balok yang berwarna ungu
tua. Sama dengan kolom tabung dan balok yang ada di ruangan lantai 1. Bentuk
ruangan perpustakaan tak beraturan, hampir sama dengan ruang tamu yang
ada di bawahnya. Ruangnya tidak besar tetapi efektif. Jendela berbentuk garis
lurus vertikal (lebar 15 cm, panjang 300 cm), kaca buram, sebagian cahaya
tertahan dan terkendali.
Langit-langit di ruang perpustakaan sangat tinggi, ruang terasa lebih luas dari
ukuran sebenarnya. Tampak Garis-garis struktur balok melintang (horizontal)
mengikat kolom-kolom berwarna ungu satu dengan yang lain. Pada dinding
beton bagian atas terdapat celah yang sengaja dibuat untuk memasukkan
cahaya, berupa garis-garis pendek vertikal dengan ukuran yang sama dan
berulang. Garis-garis yang juga saya temui pada fasad bagian depan.
Setelah ruang perpustakaan, ada toilet, saya mengintip sebentar, cahaya
masuk dari jendela kaca berbentuk garis lurus vertikal (sama dengan jendela
yang ada di perpustakaan), yang sekaligus berfungsi sebagai ventilasi karena
terdapat dua kaca yang overlap di tengahnya untuk tempat keluar masuk udara.
Tidak memungkinkan rancangan kaca lebar horizontal. Terlalu sempit bidang
dindingnya.
No comment for 88 Renovasi Pastoran Gereja Theresia Jakarta bab 19b