85. Rumah Sewa Paseban Karya Gunawan Tjahjono bab 18a
(247 Views) Agustus 14, 2022 12:44 am | Published by Safitri ahmad | No comment
Pada kunjungan kedua untuk mendokumentasikan rumah sewa Paseban, saya
kelewatan dan jadi keder.
”Lho, perasaan kemarin pintu masuk ada di sebelah kanan, kenapa sekarang
ada di kiri. Warna rumahnya putih, kenapa sekarang jadi kuning?”
Saya perhatikan baik-baik. Betul, bukan rumah ini yang saya datangi kemarin.
Saya tidak salah. Walau sama, tapi beda. Saya pelan-pelan mundur dan
menemukan rumah sewa yang dituju. Tapi rasa penasaran membuat saya
melihat-lihat dulu rumah yang salah tuju tadi. Kemudian membanding-
bandingkannya.
Rumah itu, pungung-pungungan satu dengan yang lain. Rumah sewa warna
kuning itu lahannya lebih sempit walau rancangan rumahnya sama : ada
pilar warna warni, bentuk atap pelana, pagar garis-garis vertikal. Perbedaan
yang lain, adanya talang air, menyalurkan air hujan dari atap ke saluran
pembuangan. Tapi kenapa rancangannya sama? Rasanya tidak mungkin
Gunawan merancang ke-dua bangunan itu. Nanti saya tanya.
Saya menuju rumah sewa yang sebenarnya. Tujuan awal. Ini kedatangan ke-2
untuk pemotretan. Pada awal kedatangan, mata saya langsung tertuju ke jeruji
warna-warni. Gradasi warna merah ungu biru hijau kuning orange merah muda
menarik perhatian. Timbul rasa tak percaya jika Gunawan merancang jeruji
warna warni itu. Gunawan gitu lho… ia simpel. Sederhana. Istilah Han Awal
tidak bersolek. Dapat ide dari mana ia
Jeruji warna warni itu dari paralon yang dicat. Paralon dan besi yang meliuk
di bagian atas dan bawah diikat dengan tali ijuk, jadi paralon itu mengantung,
tidak tertanam di tanah dan tidak menempel di langit-langit. Besi ditanamkan
pada dinding sisi kanan dan sisi kiri, menahan paralon pada tempatnya.
Yang menarik menurut saya, jika kita berjalan sambil melihat jeruji itu, seakan-
akan pipa paralon warna warni itu berputar karena terdapat garis abu-abu
berbentuk gelombang yang menghubungkan satu jeruji dengan jeruji lain. Pipa
paralon disusun sedikit bergelombang, tidak lurus, tampak hidup. Judulnya
memanipulasi mata seakan-akan paralon ikut berputar pada saat kita berjalan.
Jika kita memandang paralon sambil diam berdiri, hanya warna warni yang
tampak, kesan berputarnya tak terasa.
Saya menelusuri bangunan itu dari setiap sudut. Sesuai bentuk tapak,
bangunannya juga memanjang ke belakang. Sekilas terlihat dua lantai. Pada
lantai satu, deretan kamar (7 kamar) terdapat beranda (ruang tamu). Di bagian
belakang : dapur, ruang makan dan teras untuk istirahat. Di lantai dua, hanya
kamar sewa. Sisi kanan (Timur) ada 8 kamar, sisi kiri (di atas beranda) ada 4
kamar dibatasi koridor.
Jendela 4 kamar yang berada di sisi kiri (di atas beranda) di samping kamar,
kecil saja. Tidak ditempatkan pada dinding lebar itu. Hingga sekilas, kamar
tampak tak berjendela, jika tak sengaja mencari. Dinding lebar itu dibagi dua
oleh satu garis vertikal panjang dan di tengahnya untuk tempat lampu. Di
bagian atas dinding lebar itu berbentuk bujur sangkar dan garis-garis pendek
vertikal dengan material kaca (untuk ventilasi dan sinar matahari).
Dinding kamar sisi kiri (bagian belakang), terdapat garis miring membentuk
sudut yang digunakan untuk jendela. Ini pengganti jendela yang seharusnya
terletak di dinding belakang (Selatan) tapi ditiadakan, karena tidak ada jendela
di bagian belakang rumah, untuk lantai satu dan dua.
No comment for 85. Rumah Sewa Paseban Karya Gunawan Tjahjono bab 18a