55. klien Gunawan Tjahjono bab 11b
(233 Views) Agustus 10, 2022 11:50 pm | Published by Safitri ahmad | No comment
Dari Jl.Paseban ke Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jl.Salemba, tidak
jauh. Naik kendaraan 10 menit sampai, dengan syarat tidak macet. Rumah
itu dua lantai dengan 18 kamar, luas tanah 450 m2. Awalnya, Gunawan
menyarankan untuk membangun 3 lantai, karena budget terbatas, yang dibangun
hanya 2 lantai. Pada perjalanannya, Titi menambah ruangan untuk tempat salat
dan tempat linen, pada loteng (attic), yang tidak direncanakan Gunawan.
“Kalau yang bikin Pak Gunawan, saya percaya bakalan bagus,” kata Soenanto.
Wah…Titi dan Soenanto, sepenuhnya menyerahkan rancangan rumah sewa
itu pada Gunawan, sebagai klien, mereka hanya berpesan, untuk membangun
rumah yang nyaman dan hemat energi, dengan biaya yang terbatas.
Menurut Titi dan Soenanto, Gunawan mampu menunjukkan bahwa karya
arsitektur yang bagus tidak selalu dengan biaya yang mahal, tapi bisa juga
dengan biaya yang terbatas. “Itu merupakan kekuatan, dari sudut pandang
saya yang awam tentang arsitektur, tentang kemampuan dan kepakaran beliau
sebagai seorang arsitek. Selain itu beliau juga mampu menciptakan karya-
karya yang unik karena beliau banyak membaca dan keliling dunia, melihat seni budaya negara lain dari segi arsitekturnya,” ujar Soenanto.
“Konsep Pak Gunawan tentang rumah tinggal, rumah jangan mencolok dengan
lingkungan sekitarnya. Konsep itu dipegang teguh oleh beliau,” kata Titi.
Jika punya ide, Gunawan berani mengimplementasikan ide itu ke dalam rancangannya,
unik tapi tidak ekstrim dan aneh. Ia sangat memperhatikan kenyamanan penghuni rumah dengan
membuat ruangan yang sempit, terasa luas. Sirkulasi udara di dalam rumah lancar sehingga tanpa AC
rumah tetap terasa sejuk. Pencahayaan ruangan menggunakan sinar matahari.
Menurut Soenanto, Gunawan mampu menangkap keinginan klien untuk
tinggal di dalam rumah itu seperti apa, tanpa harus diungkapkan. Ia mampu
mengadopsi aspirasi yang tidak dilontarkan klien, menciptakan sesuatu
yang sangat menyenangkan penghuninya. “Bisa memuaskan kliennya dan
rancangannya tidak punya pembanding. Itu kekuatan Pak Gunawan. Tidak
semua arsitek memiliki instuisi seperti itu,” kata Soenanto. Hm…andai semua
klien begitu percaya pada arsitek, bahwa ia mampu menangkap semua
keinginan klien tanpa diungkapkan, tanpa disampaikan.
Gunawan beruntung sekali sebagai arsitek, menemukan klien yang percaya
penuh padanya, pada rancangannya, dan tidak banyak menuntut.
“Beliau juga merasa nyaman, karena saya memberikan kebebasan, dan
beliau juga bisa menjaga kebebasan yang diberikan untuk menciptakan karya
arsitektur yang memuaskan kami. Kami tidak sering berkomunikasi dengan Pak
Gunawan, seperlunya saja. Bangunan itu tidak bisa kita bayangkan sebelumnya,
baru bisa kita lihat, setelah bangunan jadi. Kita merasa puas, apalagi setelah
mendapat penjelasan dari Pak Gunawan tentang konsep arsitekturnya, simple,
tapi nyaman,”tambah Soenanto.
“Profesor Gunawan sebagai pendidik yang mumpuni, profil pendidik yang
melekat. Saya sendiri mengenal Pak Gunawan di lingkungan UI. Ia dari dari
fakultas teknik (arsitektur), saya dari fakultas kedokteran,” kata Soenanto
menutup pembicaraan.
No comment for 55. klien Gunawan Tjahjono bab 11b