19. Mengamati Studio bab 4c : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 19. Mengamati Studio bab 4c

19. Mengamati Studio bab 4c

(230 Views) Agustus 6, 2022 2:40 am | Published by | No comment



*
Saya datang terlambat, pukul 10:45 WIB, langsung masuk ruang studio. Dari
kejauhan terlihat kerubungan mahasiswa di tengah kelas. Saya berjalan
mendekat. Ada apa?

Mahasiswa duduk dan berdiri berkeliling, sampai tiga lapis. Ada 4-5 orang
mahasiswa memilih duduk menjauh, karena sudah tidak ada celah. Saya
mendekat, rupanya di bagian tengah duduk Gunawan. Sedang mencorat-coret
sesuatu di kertas. Saya memanjangkan leher untuk melihat apa yang sedang
dicorat-coret. Tak terlihat, tertutup pungung mahasiswa yang ada di depan. Di
atas meja terdapat beberapa buku arsitektur tentang tipologi. Ada kertas roti.
Ia mengambil sebagian kertas itu untuk menjiplak gambar yang ada di dalam
buku. Mungkin sedang mencontohkan sesuatu. Setelah selesai ia menyerahkan
gambar yang tadi dicorat-coret untuk di fotokopi serta majalah yang dijadikan
referensi.

Saya suka menyaksikan pemandangan itu. Melihat Gunawan dikelilingi
mahasiswanya. Sayang saya tak bawa tustel, jika bawa, sudah jeprat sana
jepret sini. Angle paling bagus dari atas, pasti keren. Pasti. Mereka saling
berdiskusi. Mahasiswa antusias bertanya. Ia pun dengan senang hati
menjelaskan sambil memperlihatkan contoh-contoh.

Fasilitator di ruangan itu hanya Gunawan seorang, yang lain tak tampak.
Setelah diskusi selesai, saya tanya, ”Mana fasilitator yang lain Pak?” Ia
menjawab, ”Hari ini show saya.”
Gunawan meninggalkan kelas sekaligus meninggalkan tugas untuk
mahasiswanya. Mahasiswa membentuk kelompok dan berdiskusi. Tidak ribut.

Biasa saja. Ada beberapa kelompok yang bubar. Yang lain masih berdiskusi, dua
kelompok terlihat lengkap (6 orang). Sedang yang lain berdua saja. Ada yang
bertiga. Ada yang sendiri juga.
Sorenya, ada tiga orang fasilitator yang masuk ruangan studio: Sadili, Dalhar,
dan Emir. Emir sibuk dengan kelompok yang satu, selesai, ia menghampiri
kelompok yang lain. Sedangkan Dalhar hanya duduk-duduk saja. Tidak ada
mahasiswa yang mendekatinya. Sadili juga begitu. Akhirnya Dalhar dan Sadili
ngobrol berdua deh. Tak lama Sadili meninggalkan ruangan. Dalhar pun begitu.
Fasilitatornya ada. Mahasiswanya tidak ada. Mahasiswanya ada. Fasilitatornya
entah kemana.

Kenapa mahasiswa tidak ada pada saat fasilitator sedang ada di kelas?
”Biasanya Pak Gun datang pagi, kadang saya datang siang, jadi tidak ketemu
Pak Gun untuk asistensi, tapi Pak Gun bisa dicari dan akan datang lagi ke
ruangan (studio). Sebelum presentasi akhir, Pak Gun juga mengingatkan untuk
tidak terlalu lama asistensi, karena sudah waktunya finishing (menyelesaikan
semua produk gambar termasuk gambar kerja),” kata Terry.

Kalau alasan Rizky lain lagi,” Kalau saya mengerjakan gambar sampai selesai
di rumah, pakai komputer agar hasilnya bagus dan siap untuk dipresentasikan.
Kalau di kampus, paling saya hanya gambar sketsa, atau corat-coret saja, untuk
mendapatkan ide, nanti di rumah digambar lagi pakai komputer, jadi tidak
efektif, kerja dua kali.”



Presentasi Perorangan
Hari ini presentasi perorangan, saya menunggu di kelas, Gunawan masih belum
tampak, tapi Laksmi sudah hadir di ruangan itu. Sambil menunggu Gunawan,
Laksmi meminta mahasiswa bimbingannya presentasi, ada 8 orang yang
mengelilingi meja. Dimulai dengan seorang anak laki-laki yang memperlihatkan
kertas hasil kerjaannya selama seminggu ini dan Laksmi memberi komentar,
tidak terdengar komentarnya. Ingin mendekat saya sungkan.
Gunawan datang, memakai kemeja hitam lengan pendek dengan celana warna
hitam panjang. Kemejanya kinclong, mungkin masih baru.

Menyaksikan cara presentasi di atas meja ia langsung meminta mahasiswa dan Laksmi untuk presentasi di lantai 2 gedung arsitektur. Mahasiswa bimbingan
Gunawan langsung berkemas dan bersiap-siap menuju gedung arsitektur.
Gunawan memegang satu kelompok, Laksmi memegang satu kelompok. Akan
tetapi pada saat presentasi kedua kelompok digabung. Begitu juga saat
asistensi. Mereka dapat asistensi ke Gunawan atau ke Laksmi, karena ke-2
kelompok itu merancang fungsi bangunan yang sama: rekreasi.

Saya berjalan menuju gedung arsiktektur dengan beberapa mahasiswa.
Gunawan sudah menuju gedung dari tadi. Beberapa mahasiswa sesampai di
ruang presentasi langsung memasang hasil pekerjaan mereka pada panel yang
tersedia. Tak lama Gunawan muncul di ruang itu dan bertanya apakah mereka
sudah selesai memasang panel, saya mengangguk-angguk.

Seorang anak laki-laki dari kelompok Laksmi datang dan meletakkan kertas
presentasinya di meja. Tidak memasang di panel. Gunawan bertanya,”
Kenapa kertasnya tidak dipasang?” Anak laki-laki itu berkata, ”Saya sudah
selesai presentasi Pak.” Gunawan memerintah,”Presentasi lagi karena saya
belum melihat.” Dan anak laki-laki itu memasang kembali lembaran kertas
presentasinya di papan panel, dengan tenang. Satu-satu temannya datang.
Mereka bisik-bisik sebentar, untuk meyakinkan apakah lembaran kertas itu
perlu dipasang atau tidak.




No comment for 19. Mengamati Studio bab 4c

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>