13. Silabus bab 3d
(244 Views) Agustus 6, 2022 12:49 am | Published by Safitri ahmad | No comment
“Kenapa tidak disesuaikan dengan kemampuan kita?” ujar saya menawar.
“Tidak boleh menyesuaikan dengan keadaan mahasiswa di Indonesia tapi
mahasiswa di Indonesia yang harus menyesuaikan dengan kurikulum ini. Kalau
tidak, kita tidak mengejar.”
”Saya terbiasa belajar hanya pada saat tatap muka, setelah selesai… selesai
juga.”
”Makanya rada shock kalau ikut kelas saya, ” kata Gunawan sambil tertawa.
”Kesulitan membaca buku dalam bahasa Inggris, kebiasaan membaca (kebiasaan
malas membaca), dan tidak mampu memahami apa yang sudah dibaca, menjadi
kendala. Saya sendiri kesulitan untuk memahami bahan bacaan jika hanya
membaca satu kali, harus berkali-kali,” ujar saya setengah mengeluh.
”Karena Anda tidak mempunyai background, membaca topik yang serupa atau
topik lain untuk memahami topik yang sedang Anda baca. Berbeda dari saya.
Kalau saya membaca suatu topik, saya langsung tahu, langsung paham, karena
sudah mempunyai pengetahuan yang cukup tentang topik tersebut. Semacam
itulah. Jadi, ibaratnya seperti menyusun bata. Kalau Anda tidak Menyusun dengan baik, pasti harus ulang. Pengetahuan begitu.”
”Harus delay dulu. Dipikirkan. Disusun. Memang pengetahuan begitu.”
”Ketika ada beberapa buku yang isinya hampir sama saya langsung menangkap
isi buku tersebut,” tambah saya mencoba mempertegas penjelasannya.
”Iya.”
”Saya kesulitan untuk mengingat apa yang saya baca.”
”Jangan mengingat. Anda mesti menceritakan kembali pada teman, apa
yang Anda baca. Itu yang sering saya lakukan. Selesai membaca, saya selalu
ceritakan, lalu jadi ingat.”
”Untuk metode perancangan tidak banyak buku yang perlu dibaca. Ada tulisan
saya, metode berpikir, dan fenomologi secara singkat diperkenalkan. Ada
latihan/tugas. Pada saat latihan ia perlu mencari referensi.”
”Tugas melulu…” celutuk saya tanpa sadar.
”Bagi saya, mesti ada tugas, kalau tidak pasti lupa. Akhir semester langsung
ujian, itu bukan cara saya. Ujian selalu essay. Menulis. Tidak pernah check point
(menandai pilihan yang tersedia : A, B, C, D).”
”Pak Gun selalu menuntut mahasiswa untuk membaca?”
”Pernah saya tidak memberi kuliah karena mereka tak baca. Beberapa kali shock
therapy. Ada bacaan yang menjadi acuan. Setelah mereka baca, saya kasih
pertanyaan. Itu yang membangun mereka. Kalau mereka membaca, mereka bisa
menjawab pertanyaan saya.”
”Jadi sistem kita itu sebetulnya ingin membangun self learning. Kalau Anda bisa,
maka Anda di luar kampus, di dunia kerja, otomatis bisa. Jangan selalu minta
persetujuan.”
Saya suka dengan pernyataan Gunawan ”minta persetujuan”. Bener banget, kita,
mahasiswa sering sekali meminta persetujuan dari dosen karena menganggap mereka selalu benar, sehingga sedikit-sedikit tanya atau minta persetujuan, dan jadi ragu apabila tidak mendapat jawaban atau persetujuan ”iya” dan ”tidak”. Standar ada di tangan dosen. Bukan di tangan kita.
”Tapi banyak mahasiswa yang memilih diam ketika Bapak tanya, saya perhatikan,
hanya 5-6 orang yang sering bertanya, orang yang sama.”
”Diam itu ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama ia memang belum cukup pengetahuan. Kedua, kalau ia cukup pengetahuan, ia mau tunggu orang
lain untuk memberikan jawaban, dan mencek dengan pendapatnya, jadi tidak
berani duluan. Mereka akan saling tunggu. Tunggu dulu. Saya ragu. Bila ada yang
langsung tunjuk tangan, itu yang yakin.”
”Jika kelas diam, karena tidak ada mahasiswa yang memberikan jawaban, Bapak
ikutan diam sampai lama, sampai muncul jawaban.”
”Perlu ada jawaban. Saya maunya nyambung. Saya mau membangun budaya.
Walau banyak yang diam pada saat ditanya.”
”Pak Gun kalau bicara sepotong-sepotong dan sulit dipahami. Tidak dalam
bentuk penjelasan yang lengkap. Kadang menggunakan kata yang ”tidak biasa”,
yang menyebabkan saya harus berpikir keras. Apa maksudnya? Saya tidak
paham. Setelah mengikuti pertemuan demi pertemuan dan membaca buku yang
Bapak sarankan, saya mulai bisa menghubungkan antara satu bagian dan bagian
yang lain. Saya baru menyadari apa yang Bapak maksud.”
”Jadi selama itu teka-teki terus?,” katanya sambil tertawa.
”Mungkin tidak memberi jawaban itu, yang membuat kalian bingung.”
”Saya di sini (di Departemen Arsitektur UI), sering orang sebut Mr. I don’t know.
Apalagi ditanya soal disain. Lebih tidak menjawab lagi. Jika ada mahasiswa yang
tanya, ”Ini sudah betul tidak Pak”. Saya tidak tahu. Karena tidak ada jawaban
benar dan salah. ”Kamu maunya apa?” Itu yang saya tanya. ”Kalau Kamu
maunya begini. Cobalah baca ini. Baca itu.” Memberi jawaban langsung bukan
cara saya.”
”Discourse itu, mestinya tidak datang dari saya. Tapi kalau kalian tanya, biasanya
saya jawab juga. Kalau kalian tidak tanya. Saya tidak jawab.”
”Kalau saya tidak mendapat jawaban dari Pak Gun …duh..”
”Frustasi”
”Setiap saya mengerjakan sesuatu, saya selalu berpikir, menurut Pak Gun ini
benar apa salah ya…”
No comment for 13. Silabus bab 3d