18. Mengamati Studio bab 4b : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 18. Mengamati Studio bab 4b

18. Mengamati Studio bab 4b

(165 Views) Agustus 6, 2022 2:38 am | Published by | No comment



——————————————————————————————————————————-B
——————————————————————————————————————————–

*
Hari ini presentasi.
Mahasiswa dibagi ke dalam 5 kelompok besar, sesuai dengan fungsi bangunan
yang akan mereka rancang : edukatif, konsumtif, rekreatif, produktif, dan
kontemplatif. Mereka presentasi menggunakan power point, kertas A3, kertas
A2. Penuh warna dan kreatif.
Saya kesulitan mendengar dan mengikuti jalannya presentasi, karena duduk di
belakang. Tapi lokasi ini cukup strategis untuk mengetahui keadaan kelas.
Ketika Gunawan lewat ia bertanya “Apa tidak duduk di depan?”

Saya menggeleng, di belakang lebih mudah melihat semuanya.
Mereka membahas konsep Timur dan menghubungkannya dengan fungsi dan
kegiatan pada bangunan, menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
Ada kelompok yang menginterpresetasikan bahwa Timur adalah sesuatu yang
sehat dan tempat yang lebih baik. Atau Timur itu, dari gelap terbitlah terang.
Atau Timur merupakan harapan dengan mengintepretasikannya pada anak-
anak, sesuatu yang segar, dan pergerakan matahari.

Mereka sudah memikirkan area parkir, literature, storage, entrance, lobby,
sirkulasi, dan kapasitas. Kebutuhan ruang berdasarkan kegiatan utama. Sudah
mulai terlihat ukuran ruang dari buku Data Arsitek yang ditulis Neufert. Buku
Data Arsitek yang memuat dimensi/ukuran ruang. Dan langsung mendapat
komentar dari Gunawan,“Jangan menggunakan dimensi ruang yang ada dalam
buku Neufert, tapi hitung sendiri berapa dimensi ruang tunggu, dimensi ruang

kerja, perkirakan jaraknya. Coba rasakan bagaimana bentukan ruangnya.”
Pada presentasi ini tidak banyak pertanyaan dari mahasiswa. Hanya fasilitator
yang menggunakan kesempatan ini. Tidak semua fasilitator menghadiri
presentasi dari setiap kelompok. Jika kelompok yang menjadi tanggung
jawabnya selesai presentasi. Ia pun selesai. Meninggalkan ruangan. Tapi ada
juga fasilitator yang bertahan, ingin mengetahui presentasi mahasiswa di luar
kelompoknya.

Bagaimana dengan Gunawan? Ia masuk dan keluar ruangan beberapa kali.
Kemana?
”Mau kemana Pak?” tanya saya saat ia untuk kesekian kalinya melewati tempat
saya duduk.



”Ada presentasi di kelas S2 jadi harus bolak-balik. Ayo kalau mau ikut.” Tentu
saya tidak menolak. Ingin tahu saja. Saya berjalan di sisi Gunawan. Jalannya
cepat sekali. Langkahnya lebar. Saya bergegas agar tak tertinggal. Ngomong-
ngomong kelas S2 kan di lantai 3. Waduh…

Gunawan dengan tenang menaiki tangga dari lantai ke lantai. Saya
menyusulnya dari belakang, berusaha mengimbangi kecepatannya dan
berusaha terlihat tenang. Malu jika memperlambat jalan dan teriak,” Tunggu
Pak, istirahat dulu.” Begitu sampai di lantai 3 saya tidak mampu lagi menahan
diri untuk tidak terengah-engah. Bagaimana dengan Gunawan? Ia tampak
tenang. Seperti tidak terjadi apa-apa. Walau sudah naik-turun tangga dan
berjalan mondar-mandir dari kelas satu ke kelas yang lain. Staminanya luar
biasa. Saya kalah.

Saya masuk kelas dan duduk memperhatikan. Hanya ada 4 mahasiswa dan
seorang dosen. Ketika Gunawan datang. Ia langsung mengambil posisi, duduk
dan memperhatikan mahasiswi yang sedang mempresentasikan kawasan di
daerah Bintaro. Ia menjelaskan lalu lintas dan peruntukan tapaknya melalui
foto-foto. Gunawan bertanya,”Itu kantor apa?”, sambil menunjuk foto yang
sedang ditampilkan melalui layar in focus. Mahasiswi memperhatikan lebih
jelas tapi tidak mampu menjawab. Gunawan bersuara,” Bila papan namanya
putih, itu berarti kantor pemerintahan.”

Setelah tanya jawab tanya jawab selama 20 menit, Gunawan berdiri dan
bersiap-siap keluar. Saya ikutan. Kembali ke ruang BP3 tempat mahasiswa
perancangan arsitektur V yang sedang presentasi. Tiga puluh menit berselang
Gunawan kembali keluar, menuju ruang S2. Saya tak ikut. Capek. Tidak ingin
menaiki tangga 3 lantai itu untuk ke-2 kalinya.

Bagaimana dengan mahasiswa? Pada awal presentasi ruangan masih penuh.
Setelah sebagian kelompok selesai presentasi, satu-satu tempat duduk
mahasiwa mulai kosong. Mereka pun mulai keluar masuk kelas. Tidak
memperhatikan dan tidak peduli pada kelompok yang sedang presentasi. Sibuk
sendiri. Sisa mahasiswa yang masih bertahan pada sesi ini, kira-kira 60 persen.
Pada tahap akhir, fasilitator yang tersisa 3 orang: Kemas Ridwan, Emirhadi, dan
Diyan Sigit.




No comment for 18. Mengamati Studio bab 4b

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>