37. Chia Yong Guan bab 7f : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 37. Chia Yong Guan bab 7f

37. Chia Yong Guan bab 7f

(236 Views) Agustus 7, 2022 11:55 pm | Published by | No comment



”Bapak sudah kerja sejak semester berapa, ups….salah maksudnya tingkat ke
berapa, atau tahun ke berapa?”
”Tahun berapa ya, tahun ke- 4 saya kira. Saya sudah mulai.”
”Tahun 1972, ada sedikit kerja, sampingan. Ada Pak Alex yang kadang-kadang
berikan pekerjaan. Bikin rumah. Garasi saya jadi tempat anak-anak kumpul.
Bikin objekan istilahnya.”
”Tahun 1972 ikut Pak Gustav ke Padang, bikin RS Padang. Wawancara dokter-
dokter yang ada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Pertama kali
tahu bagaimana kita membuat program dengan wawancara.”
“RS Padang Bapak yang bikin?” tanya saya penasaran.
“Pak Gustav. Saya hanya membantu untuk konsep, tidak sampai gambar. Jadi
sejak itu, tahu banyak istilah rehabilitasi, hospital, teaching hospital.”
“Setelah RS Padang ada kesempatan membuat RS Pelni dengan Pak Wondo
(tahun 1973). Setelah itu kerja di Kakrea, kontraktor Pertamina. Sebelum
bernama Kakrea, bernama Sadanawa, setelah itu ganti nama Asta Buana, lalu
jadi Kakrea. Bekerja di Kakrea sampai bubar di tahun 1979.”
“Kakrea itu mensponsori tugas akhir/proyek akhir. Gaji tetap jalan.”
”Setelah di Kakrea Bapak memilih mengajar di UI dan jadi asisten Pak Wondo,
sampai tahun berapa Pak?”
”Sampai saya ke luar negeri, tapi saya juga dipercayakan memegang kuliah
yang dinamakan kapita selekta tentang arsitektur post modern. Itu Pak Han
Awal yang usulkan.”
”Pak Han Awal itu sangat sopan, rendah hati, dan tidak mau menyinggung
perasaan orang. Tahun 1969 saya jadi asisten Pak Han Awal untuk tingkat satu.
Tapi bukan memberi asistensi, hanya menyiapkan bahan proyeksi untuk kuliah.”
”Benar Pak, waktu saya wawancara Pak Han Awal untuk buku ini, suaranya
pelan sekali, hampir-hampir tidak terdengar. Saya sampai mendekatkan
diri agar terdengar jelas. Santun. Hati-hati. Lembut, dan tepat waktu. Kita
janjian wawancara pukul 16 : 00 WIB, tepat 30 menit kemudian wawancara
selesai, beliau yang menyudahinya, padahal saya masih ingin ngobrol. Jadi ia
telah merencanakan semuanya. Sebelum wawancara ketemu siapa. Setelah
wawancara ikut rapat.”



”Maaf jadi bicara sendiri, kita lanjutkan ya Pak.”
”Apa yang berkesan selama jadi asisten Pak Wondo?”
“Lumayan banyak. Ia sistematik memberikannya. Ada denah. Melihat
bangunan. Ada unsur-unsurnya. Ada diagram-diagram kuliah, yang agak
mempesonakan sebenarnya Pak Wondo kharismatik.”
“Bagaimana dengan cara pikirnya?”
“Yes or no. Right or wrong.”
”Beda dong sama Bapak?” kata saya langsung menanggapi.
“Beda. Saya between yes or no.” (tertawa)
“Fitri, between yes or no, there is always I don’t know
(antara iya dan tidak, selalu ada, saya tidak tahu).”
”Kenapa?”
“Sudah dicuci otak di Amerika.”
”Tapi awalnya kiblatnya ke Pak Wondo kan Pak?”
”Iya kiblatnya ke Pak Wondo. Soalnya ia adalah standar. Hebat. Banyak
tokoh-tokoh seperti ”dewa” zaman itu. Yuswadi Saliya (dosen arsitektur ITB,
dan Ketua Lembaga Sejarah Arsitektur Indonesia-LSAI-) salah satu orang yang
didewakan. Tapi suatu saat saya pulang ke sini, sebelum lulus di Berkeley.
Saya tinggal di Kota Gede, Yogya, ada acara di UGM (acara International) lalu
teman saya(alm.) Ardi Pardiman minta saya, kamu yang membahas ini, tulisan
Yuswadi, nanti orang lain tidak bisa. Saya coba. Begitu dibaca, saya baru tahu
saya sudah lain.”
Gunawan merasa, ia berubah setelah ke Amerika. Mungkin cara pikirnya, saya
juga tak tahu.
”Saat saya jadi tenaga tetap di sini (UI) ada dekan yang namanya Roy
Mawengkang. Ia yang membuka pikiran saya untuk menjadi bagian dari dunia
master, dan doktor.”
”Ada tawaran sekolah tapi tidak banyak yang ambil. Dulu, dosen UI banyak
mendapat kesempatan untuk belajar di luar negeri.”
”Kenapa?” tanya saya heran. Tidak percaya kalau ada yang tidak tertarik




No comment for 37. Chia Yong Guan bab 7f

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>