57. Klien Gunawan Tjahjono bab 11d : Safitri Ahmad
Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » BUKU PROF. GUNAWAN TJAHJONO » 57. Klien Gunawan Tjahjono bab 11d

57. Klien Gunawan Tjahjono bab 11d

(234 Views) Agustus 10, 2022 11:57 pm | Published by | No comment

57. Klien Gunawan Tjahjono bab 11d


Pada kedatangan ke-2, Gunawan menujukkan tata ruang rumah dengan kertas
millimeter, lengkap dengan ukurannya. Pada gambar pertama, di lantai 2 :
ada 3 kamar : kamar anak perempuan, kamar anak laki-Laki, dan kamar orang
tua, alasannya, agar mudah mengawasi dan tidur dekat dengan anak-anak. Di
lantai 3, menjadi ruang audio. Menurut Tiwu dan Wisnu, ruangannya terasa
sempit, jika ada 3 kamar di lantai 2, sehingga mereka meminta kamar orang tua
dipindah ke lantai 3 saja. Di lantai 1 ada 1 kamar tamu.

“Seharusnya ada beberapa tingkatan atap di bagian depan, sebelum sampai
pada atap tertinggi. Untuk memangkas biaya, dikurangi menjadi tiga tingkat
saja. Om Gunawan tidak keberatan, dengan syarat, bentukan tingkatan yang
lain dibuat dari tanaman, agar lapisannya tetap terlihat,” kata Wisnu. Beberapa
tingkat yang berfungsi sebagai taman atap (roof garden), setelah itu taman
atap yang lebih luas, di bagian paling atas, atap paling atas.
Wisnu dan Tiwu hanya 4 kali bertemu Gunawan, rancangan langsung disetujui
dan dibangun.



Bagaimana tahap , apakah sesuai gambar? Pasti ada
perbedaan persepsi antara gambar dan persepsi kontraktor. Ini terbukti,
kontraktor membuat pintu pada dinding horizontal fasad depan, padahal
seharusnya tidak ada pintu pada gambar. Bidang dinding horizontal itu
seharusnya utuh. Gunawan protes, karena tidak sesuai dengan rancangannya.
Protes berikutnya, saat kontraktor membuat tangga beton antar atap, agar
bisa dengan mudah turun-naik dari satu atap ke atap berikutnya. “Pak
Gunawan menginginkan tangga lipat, dari besi, ada gambarnya, jadi pada saat
dibutuhkan, tangga dibuka lipatannya dan digunakan. Akhirnya tangga beton
yang sudah terlanjur dibangun, dibongkar,” kata Tiwu.

“Waktu kontraktor melihat gambar, wah…tidak pakai kusen, jarang rumah tidak
pakai kusen,” kata Tiwu. Jendela yang tidak pakai kusen, pengerjaannya harus
teliti dan hati-hati, jika tidak hati-hati, pengait di bagian atas/bawah jendela
bisa rusak. Selain itu, terdapat celah antara dinding dan jendela/pintu. Saat
hujan angin, air akan mudah menyelinap di antara celah itu. Tiwu menunjuk
kamar tamu lantai satu, yang saat hujan lebat, air masuk kamar melalui celah
yang terbentuk antara dinding dan daun jendela.

Ketika hal itu disampaikan, Gunawan hanya menjawab, “Hujan lebat dan berangin kencang itu
kan hanya sekali-kali, tidak sering.” Ketika diusulkan untuk menambah awning, ia menolak karena akan
mengubah bentuk. “Iya sih. Perubahan boleh tapi tidak boleh merusak desain. Beliau tidak mudah untuk
mengubah desain. Ia sangat strict (ketat) dengan desain awalnya, ia mengejar bentuk,” kata Tiwu, yang
paham dengan alasan Gunawan.

“Ornamen besi bergelombang itu terakhir,” ujar Tiwu sambil memperlihatkan
besi bergelombang yang menjadi pembatas ruang tamu dan ruang luar.” Ketika
ditanya, “Apa Om?,” tanya Wisnu menangih. Apa yang harus dibuat pada ruang
tamu yang belum berdinding itu.“Apa ya? Masih mikir-mikir. Belum punya ide,”
jawab Gunawan saat itu.
“Om Gunawan kalau ia sudah pernah buat, ia tidak ingin buat lagi,”kata Wisnu.
Ornaman Jeruji besi gelombang itu berfungsi sebagai dinding tak masif.
Gelombangnya pun tak sama. Hm…sulit menuliskannya. Silakan lihat foto.
Yang pasti bikin tukang besi repot. Kata Tiwu, ada tukang besi yang datang
tak balik lagi karena tak sanggup mengerjakannya. Akhirnya tukang besi dari
rumah sewa Paseban, –yang pernah membuat ornamen warna-warni dari
paralon tapi dihubungkan dengan besi bergelombang– yang melakukannya. Ia
berhasil.




No comment for 57. Klien Gunawan Tjahjono bab 11d

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


center>