Pedestrian di Median Jalan Itu Untuk Siapa
(541 Views) Maret 6, 2020 8:36 am | Published by Safitri ahmad | No comment
Oktober 2019. Rekan arsitek senior membagi foto jalur median jalan yang sedang dibangun pedestrian, tumpukan tanah masih mengunung, tapi dibagian tengah sudah dicor, tanda jalur itu dirancang untuk pedestrian di median jalan di Jl.
Prof. DR. Satrio, Jakarta. Saya sering melewati jalur ini, Ruang Terbuka Hijau di median jalan itu dibongkar dan akan dibangun sesuatu yang baru. Saya belum berkomentar banyak.
Februari 2020, jalur ini sudah jadi. Betul, median jalan itu digunakan untuk pedestrian dan taman di kiri dan kanannya. Saya melewati jalur ini pukul 12:00 WIB, pada saat pergerakan (traffic) pejalan kaki tinggi, karena pegawai yang berkantor di area itu keluar mencari makanan siang yang terletak di kawasan ini. Terlihat beberapa orang, ada yang berjalan berkelompok 2-5 orang di pedestrian yang terletak di kanan kiri jalan atau menyeberang jalan.
Apakah ada yang berjalan di pedestrian median jalan itu (jalur yang baru saja dibangun)? ada tiga orang sepanjang jalur tersebut, karena saya memperhatikan di atas kendaraan, jadi bisa mengamati dari ujung sampai ujung. Tidak sebanding dengan pejalan kaki yang menyusuri pedestrian di kanan kiri jalan.
Pukul 18: 15, dari arah Tebet ke Tanah Abang, saya melalui Jl.
Prof. DR. Satrio lagi. Waktu pulang kerja. Di median jalan itu, ada 2 orang yang berjalan kaki dan tiga orang perempuan sedang duduk di tempat duduk melingkar. Pengendara sepeda motor? Banyak, tak terhitung, mangkal di salah satu titik. Mereka meletakkan motornya di area plaza. Tak lama saya melihat penjual minuman sachet yang mengunakan sepeda melenggang dengan riang di jalur tersebut, tentu saja, tidak ada lawan. Berbeda kondisinya jika ia menggunakan jalur kendaraan, harus sering bermanuver, bersaing dengan pengendara sepeda motor, mobil, dan transjakarta. Atau pesepeda ini juga akan berpikir dua kali menggunakan jalur pedestrian di kanan kiri jalan, karena harus bersaing dengan pejalan kaki, pohon, PKL, parkir sepeda motor, dan jalur kuning.
Jadi wajar kalau saya bertanya, “pedestrian di median jalan itu untuk siapa?” Selama pengamatan, hanya 5-8 orang pejalan kaki, 1 penjual minuman sachet dengan sepeda, dan banyak sekali pengendara motor yang memarkir kendaraan roda dua, sambil menunggu penumpang, dan 1 PKL.
Baru kali ini saya melihat pedestrian di median jalan. Agak aneh dan mencoba-coba menerka apa tujuan pembangunannya?
Pertama, sudah ada pedestrian dengan kapasitas yang cukup untuk pejalan kaki di area itu. Artinya pada saat jam sibuk, pedestrian masih mampu menampung pejalan kaki dengan baik, terutama di titik-titik kepadatan pejalan kaki dan drop off ojek online.
Kedua, pembangunan pedestrian di median jalan itu mengambil lahan untuk tanaman yang dapat mereduksi polusi (selain menyerap air hujan). Jalur jalan ini sering macet, sehingga tingkat polusi asap kendaraan tinggi. Median jalan merupakan ruang yang sangat efektif untuk tempat tanaman menyerap partikel asap di kawasan ini, tentu saja dengan jenis tanaman tertentu yang mudah menyerap dan mengabsopsi partikel asap kendaraan.
Ketiga, apa tidak terpikir bahwa pejalan kaki akan terpapar asap kendaraan dari kanan dan kiri jalan? Jalur ini lurus, tapi padat kendaraan, dan macet, pada beberapa titik jalurnya menyempit. Walau ada tanaman (taman) yang menghalangi, tapi jenis tanaman yang digunakan (antara lain : palem) bukan dari jenis pohon dengan daun yang lebat (banyak) yang dapat menahan partikel debu.
Karakter Jl. Prof. DR. Satrio berbeda dengan Jl. Sudirman, Jl. Sudirman merupakan sirkulasi utama kota Jakarta, sekaligus jalur “pencitraan” bagi sebuah kota, sehingga jalur jalan, pedestrian, ruang terbuka hijau (taman) di median dan di sekitar jalan, tidak hanya fungsional tapi berfungsi estetis. Berbeda dengan Jl. Prof. DR. Satrio, jalan ini merupakan nadi kota, semua kegiatan kota dapat dilihat di sepanjang jalur ini. Kita dapat menemukan gerombolan ojek yang mangkal, PKL, penjual minuman sachet menggunakan sepeda di Jl. Prof. DR. Satrio, tapi tidak di Jl. Sudirman.
Oleh karena itu, perencanaan dan perancangan di jalur ini perlu dilakukan secara hati-hati, agar lahan berfungsi secara maksimal. Apa dan untuk siapa tepat sasaran. PKL dan parkir ojek online, merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian di kawasan ini. Mereka menggunakan pedestrian, U turn, dan memarkir kendaraan roda dua di sembarang tempat. Tidak bisa dipungkiri, keberadaan mereka dibutuhkan sebagai transportasi alternative. Tapi, memarkir kendaraan secara sembarangan menganggu. Kota (Pemerintah DKI) harus mengatur lokasi atau titik kumpul PKL dan parkir ojek online ini, tidak terbalik mereka yang mengatur diri sendiri, suka-suka di ruang Jakarta, dan mengganggu warga lain. Dan membangun pedestrian berarti memberi ruang untuk mereka (tidak hanya untuk pejalan kaki).
No comment for Pedestrian di Median Jalan Itu Untuk Siapa